Keuntungana dari Mengenal Allah

Allah swt adalah Dzat yang Maha Perkasa. Allah adalah Dzat yang paling Penyayang diantara para Penyayang. Makajika sampai saat ini hidup kita biasa-biasa saja, bahkan semakin terpuruk, jelas ada sesuatu yang perlu kita benahi dalam diri kita. Bisa jadi sampai saat ini kita baru tahu Allah sebatas nama-Nya saja. Kita belum mengenal Allah kecuali sekedar menyebut nama-Nya dalam shalat-shalat kita yang kering, dalam bacaan-bacaan al-Quran yang kita lantunkan pada sisa waktu, atau mendengar asma-Nya pada ceramah-ceramah kyai yang kadang-kadang saja kita dengarkan. Padahal betapa pentingnya kita untuk mengenal Allah.

Mengapa? Sebab, tidak bisa tidak, Dia-lah Allah dzat yang telah menciptakan kita, yang mengatur rezeki kita, yang paling mengetahui tentang diri kita, dan yang akan meminta pertanggungjawaban dari diri kita di akhirat kelak. Maka sungguh berbahagia orang yang kedekatan dengan Allah-nya sudah jauh. Berarti, ia sudah dekat sekali dengan Allah. Sebaliknya, merugilah orang yang kejauhan dengan Allah-nya sudah dekat. Berarti ia telah jauh dengan Allah. Alangkah ruginya jika kita termasuk golongan terakhir ini!

Maka dalam hal ini akan diuraikan tentang apa saja keuntungan kita mengenal Allah, apa saja kerugian tatkala kita tidak mengenal-Nya, dilanjutkan (pada artikel selanjutnya) dengan bagaimana langkah yang dapat kita coba tempuh agar dapat mengenal Allah, Insya Allah akan diterbitkan setelah tulisan ini dengan judul “Cara Mengenal Allah.” Diantara keuntungan dari Mengenal Allah adalah sebagai berikut;

1) Menjadi Orang yang Merdeka

Salah satu hal yang paling diidamkan oleh manusia ialah menjadi manusia merdeka. Betapa kita lihat, bagaimana rakyat begitu gigih memperjuangkan kemerdekaan. Mereka mengorbankan segenap harta, raga bahkan nyawa agar negerinya dapat merdeka. Begitulah pengorbanan dahsyat yang telah dilakukan rakyat agar negaranya dapat merdeka. Tidak lain semua itu karena memang kemerdekaan ialah kebutuhan dasar yang sangat kita perlukan dalam hidup ini. Dengan kemerdekaanlah kita dapat mengeluarkan energy terbaik kita untuk membangun negeri, untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik lagi.

Anehnya betapa sering kita membiarkan diri kita sendiri menjadi orang yang tidak merdeka. Kita dijajah oleh keinginan untuk mendapat sanjungan, mendapat balas jasa ataupun popularitas. Coba renungkan sejenak hidup kita sehari-hari. Mungkin kita pernah dongkol karena orang yang kita bantu tidak mengucapkan terima kasih; merasa sebal melihat orang yang telah kita tolong pergi nyelonong; orang yang kita beri hadiah tidak memberi balasan apa pun atas pemberian-pemberian kita padanya. Boleh jadi kita pun sering kecewa bila kerja keras kita lakukan tidak berbuah pujian. Capek-capek menyapu, ibu  tak kunjung menyanjung, susah-susah menjaga rumah bos, ketika bos datang tetap saja dia melengos.

Semua keinginan itu sesungguhnya sangat manusiawi. Namun betapa capeknya hidup kita ini kalau kita terus saja mengharapkan penilaian makhluk. Padahal makhluk punya sangat banyak keterbatasan. Mungkin ia tidak tahu bahwa kita berbuat baik; boleh jadi ia sedang lelah sehingga lupa mengucapkan terima kasih; bisa pula ia memang bukan orang yang peka terhadap kebaikan.

Maka berbahagialah bagi orang yang telah mengenal Allah. Sebab, dengan demikian ia akan menjalani kehidupan sebagai orang yang merdeka. Orang yang sungguh-sungguh merdeka. Energinya terpusat untuk terus menerus berbuat kebaikan, tanpa peduli apakah kebaikan yang ia lakukan akan berubah pujian atau tidak. Pada akhirnya, amal-amal baik ini akan mengundang datangnya kebaikan-kebaikan dalam kehidupannya. Hal ini telah di jamin di dalam al-Quran;

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠)

Tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS Ar-Rahman: 60)

Allah tidak pernah luput dari memperhatikan kita, walau kita sendirilah yang mungkin sangat sering melupakan-Nya.

2) Tidak Akan Merasa Sepi

Di dalam surat Asy-Syu’ara diceritakan bahwa Ibrahim a.s. berkata, “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan yang menciptakanku, maka dialah yang menunjukki aku, dan Tuhanku, yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku, dan yang akan mematikanku, dan kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.

Betapa tenteramnya orang yang telah mengenal Allah. Ia tahu Allah senantiasa bersamanya. Ketika ia tersesat, Allah akan memberinya petunjuk. Tatkala ia lapar dan haus, Allah akan memberinya jalan untuk makan dan minum. Pendek kata, Allah senantiasa memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kita.

Bahkan Dia sendiri yang berfirman dalam kitabnya yang mulia, “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Hal ini pun difirmankan oleh Allah dalam ayat Kursi, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”

Bila keyakinan ini sudah tertanam dalam dada maka beruntunglah kita. Orang yang tadinya takut akan jadi pemberani, melintasi hutan di tengah malam tidak jadi masalah. Sebab, kenapa mesti takut? Bukankah Allah akan selalu bersama kita. Mengapa harus gentar? Bukankah semua makhluk; manusia, jin, dan syetan ada dalam genggaman-Nya? Bukankah Pepohonan, binatang-binatang sampai bebatuan pun semuanya bertasbih memuji Allah? Bagaimana bisa semua itu mencelakakan kita andai Allah sudah melindungi hamba-Nya?

3) Menjadi Optimis

Banyak diantara kita yang menjadi kecil hati dalam menghadapi hidup. Hari esok dihadapi dengan bermuram durja. Kusut pikiran memikirkan apa yang akan dimakan besok dan di mana harus tinggal menetap.

Padahal, andaikata sudah bulat keyakinan kita kepada Allah maka semua kecemasan itu tidak akan muncul. Bukankah Allah swt telah berfirman;

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (٣)

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS Ath-Thalaq: 2-3)

Lihatlah singa di padang rumput, adakah ia keluar di pagi hari membawa keranjang makanan? Tempat minum? Tentunya tidak. Toh akhirnya ia dapat makanan juga berupa rusa hasil buruannya. Begitu juga burung. Keluar dari sarangnya tanpa membawa apa-apa. Sore, ketika ia pulang temboloknya sudah penuh dan ia pun kenyang. Itu karena setiap makhluk Allah telah ada rezekinya.

Lalu yang menjadi masalah, sudahkah kita yakin bahwa Allah menjamin rezeki kita? Jika sudah yakin, maka segeralah bergerak menjemputnya. Optimalkan doa-doa kita, kemampuan piker, juga kekuatan fisik kita. Sebagaimana cicak yang terus bergerak di sepanjang langit-langit kamar, hingga Allah pun mendatangkan nyamuk untuk menjadi santapan lezatnya.

4) Memiliki Akhlak yang Baik

Seseorang yang yakin akan keberadaan Allah maka ia akan sangat berhati-hati. Jangankan berbuat jahat, berniat kurang baik pun akan berusaha dijauhinya. Jangankan korupsi besar-besaran, mengambil uang teman seratus rupiah saja dia tidak akan berani. Jangankan melakukan pembantaian, untuk berprasangka jelek saja sangat ia jaga.

Mau tidak mau kondisi semacam ini dapat membuat hidup seseorang terasa damai. Sekalipun ia kost di kamar sempit, dunia tetap terasa luas baginya, sebab banyak orang yang merindukan kehadirannya. Sekalipun penghasilannya terbatas, namun rezekinya menjadi luas tak terbatas. Sebab, hamba Allah yang lain senang berbagi rezeki dengannya.

Sekalipun tidak banyak tempat wisata yang dikunjunginya, namun hari-hari di matanya senantiasa bertabur keindahan. Sebab, bagi orang yang sudah mengenal Allah semuanya akan terasa mengesankan.

Melihat wajah yang pas-pasan ia tak merendahkan. Melihat wajah yang cantik ia juga tidak iri. Bertemu dengan orang yang ilmunya terbatas ia tidak menjauh apalagi dongkol. Sedangkan bila bertemu dengan orang yang cerdas ia akan senang sebab merasa ilmunya bakal bertambah melalui orang itu.

Sungguh, betapa bahagianya hidup bertebar kasih sayang antar sesama. Allah swt telah menyayangi seorang hamba maka Dia akan beritahukan kepada Jibril agar ia mencintai orang tersebut. Lantas malaikat jibril pun akan memberitahukan penghuni langit dan bumi bahwa Allah mencintai orang itu. Lalu segenap penghuni langit dan bumi pun mencintai orang tersebut. Betapa beruntungnya orang ini.

[WARDAN/@abuadara]_____________________

Disampaikan pada Talim Bakda Shubuh di Masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining oleh Ust Cahyono pada tanggal 21 Februari 2013, sumber dari buku Ma’rifatullah Abdullah Gymnastiar.