Kepercayaan Diri yang Dibangun Sendiri Oleh Santri Setiap Hari

Ada satu momen yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang pernah tinggal di lingkungan pesantren. Momen ketika nama kita dipanggil untuk maju ke depan. Bukan karena salah. Tapi karena giliran kita tiba untuk berbicara.

Jantung berdegup. Telapak tangan basah. Kalimat yang sudah dihafalkan semalam suntuk tiba-tiba hilang separuhnya. Dan kita berdiri di sana, di depan teman-teman yang wajahnya sudah kita kenal setiap hari, tapi entah kenapa terasa seperti ratusan orang asing.

Lalu kita mulai bicara. Terbata. Kadang salah kata. Tapi kita selesaikan. Dan ketika kembali ke bangku, ada sesuatu yang berubah. Kecil sekali. Hampir tidak terasa. Tapi berubah.

Kenapa kepercayaan diri tidak bisa diajarkan lewat teori?

Kalau kepercayaan diri bisa diajarkan lewat ceramah, mungkin semua orang sudah percaya diri sejak kecil. Kenyataannya tidak begitu. Kepercayaan diri adalah bekas luka kecil dari setiap kali kita mencoba dan berhasil melewati rasa takut. Setiap bekas luka itu menumpuk. Pelan-pelan.

Di lingkungan pesantren, proses ini terjadi hampir setiap hari. Seorang santri yang baru masuk mungkin belum pernah memasak nasi untuk seratus orang. Belum pernah memimpin barisan di lapangan saat subuh masih gelap. Belum pernah berdiri di podium untuk debat bahasa Arab. Tapi di pesantren, semua itu bukan pilihan. Semua itu giliran.

Dan giliran tidak menunggu kita siap.

Apa yang terjadi saat santri pertama kali memimpin barisan?

Seorang santri kelas satu, baru beberapa bulan di asrama, tiba-tiba ditunjuk oleh kakak kelasnya untuk memimpin barisan apel pagi. Tidak ada persiapan. Hanya sebuah tepukan di pundak dan kalimat singkat, besok giliranmu.

Malam itu dia tidak bisa tidur nyenyak. Pagi datang. Dia berdiri di depan. Suaranya pecah di aba-aba pertama. Beberapa teman memang tersenyum. Tapi dia lanjutkan. Aba-aba kedua lebih tegas. Ketiga lebih lantang. Dan ketika barisan mulai bergerak mengikuti komandonya, sesuatu di dalam dadanya mengembang.

Momen seperti ini tidak masuk rapor. Tapi dampaknya tertanam dalam-dalam.

Bagaimana dapur tata boga mengajarkan sesuatu yang kelas tidak bisa?

Kepercayaan diri tidak selalu soal berbicara di depan orang banyak. Kadang ia tumbuh di tempat yang tidak terduga. Seperti dapur.

Pertama kali masuk kegiatan tata boga, banyak santri yang canggung. Memegang pisau dengan ragu. Mengaduk adonan dengan gerakan yang terlalu hati-hati. Dan ketika hasilnya gosong atau terlalu asin, rasanya seperti kegagalan besar.

Tapi minggu berikutnya mereka mencoba lagi. Kali ini api kompor tidak lagi terasa mengancam. Dan ketika teman satu kelompok mencicipi lalu mengangguk, ada kepuasan yang sangat sederhana tapi jujur.

Setiap kali seorang santri berhasil melakukan sesuatu yang sebulan lalu masih terasa mustahil, ada satu lapis lagi kepercayaan diri yang menempel di jiwanya.

Kenapa santri yang pendiam pun akhirnya berani bicara?

Ada fenomena menarik yang sering terjadi. Santri yang di rumah dikenal pendiam, di pesantren pelan-pelan berubah. Bukan berubah menjadi orang lain. Tapi berubah menjadi versi dirinya yang lebih lengkap.

Yang membuat proses ini mungkin terjadi adalah lingkungan. Ketika kita hidup bersama teman-teman yang semuanya juga sedang belajar, semuanya juga sedang gugup, rasa malu menjadi lebih kecil. Adik kelas melihat kakak kelas yang dulu juga pernah gemetar. Kakak kelas mengingat bahwa mereka pun pernah menjadi adik kelas yang takut salah.

Di Darunnajah 2 Cipining, siklus ini terus berulang dari generasi ke generasi. Setiap angkatan mewariskan bukan hanya tradisi, tapi juga keberanian. Keberanian untuk mencoba hal pertama. Untuk gagal tanpa runtuh. Untuk bangkit tanpa diminta.

Mungkin ini yang paling berharga dari seluruh pengalaman hidup di pesantren. Bukan nilai ujian. Bukan piala lomba. Tapi keyakinan dalam hati yang berkata, aku pernah takut, dan aku tetap melangkah.

Kalau kita membayangkan anak kita berdiri di depan barisan dengan suara yang lantang, atau menyajikan masakan pertamanya dengan senyum bangga, atau memenangkan debat yang sebulan lalu masih terasa tidak mungkin, maka kita sedang membayangkan sesuatu yang sangat nyata.

Kalau kita ingin tahu lebih banyak, hubungi lewat WhatsApp 0812111180. Kadang satu percakapan kecil bisa menjadi awal dari perjalanan besar anak kita.