Kepala Kucing atau Buntutnya Macan?

Persahabatan adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Santri yang menuntut ilmu dipesantren mempunyai kesempatan lebih banyak mengembangkan persahabatan dikarenakan sistem berasrama dan memungkinkan mendapat sahabat dari seluruh pelosok negeri bahkan dunia. Bahkan persahabatan tersebut cenderung mendekati persaudaraan dalam perjuangan.

Pengalaman berharga tersebut juga dialami Ust Hadiyanto Arief yg juga merupakan pimpinan Annur.

Pada Sabtu, 25 Februari lalu, sebanyak 40 sahabat ketika dulu nyantri di PM Gontor, berkumpul dalam rangka penandatanganan pendirian koperasi angkatan 969 Gontor.

Alumni yang berkiprah diberbagai bidang disekitaran Jabodetabek tersebut ingin mewujudkan koperasi sbg cita-cita pengembangan ekonomi alumni maupun masyarakat.

Menariknya, merupakan sebuah kenyataan bahwa hampir sebagian besar alumni 696 memiliki karakter yang sama, yaitu memilih menjadi “kepala kucing” daripada menjadi “buntutnya macan”.

Ya, mayoritas mereka menolak untuk berlama2 menjadi pegawai dan memilih untuk menjadi “tangan diatas”.

Meskipun dimulai dengan proses menjadi pegawai di tempat kerja mereka, kebanyakan dari alumni merencanakan dan tak betah berlama2 menjadi ‘buntutnya macan’. Biasanya mereka mempergunakan kesempatan kerja saat lulus dulu untuk menimba ilmu, memperkaya pengalaman, memperluas jaringan, menabung sedikit modal finansial untuk lalu memulai menjadi ‘kepala kucing’ atau berwirausaha.

Beragam bentuk ‘kucing’ tersebut seperti memulai usaha diberbagai bidang, mengelola lembaga pendidikan, peneliti dan tentunya menjadi Pimpinan Pondok.

Inilah hasil dari nilai-nilai dan semangat pendidikan kepemimpinan yang ditanamkan oleh Pondok Modern Gontor.
Dan itu pula yang diadaptasi oleh Pesantren Annur Cidokom. Menjadi lembaga kaderisasi pemimpin yg mutafaqquh fiddien.