Kenapa Marah Terus ???

Kenapa Marah Terus ???

Darunnajah Kindergarten, 31/05

Kemarahan pada anak umumnya terjadi karena kesalahpahaman, tuduhan yang keliru, merasa diperlakukan tidak adil, kemauannya tidak dituruti atau hanya merasa tidak aman. Terlepas dari itu, marah bisa juga sebagai bentuk ekspresi dari emosi lainnya, yang tidak bisa diungkapkan sang anak.

Anak kadang-kadang sulit sekali dipahami dan hampir dapat dibilang bandel. Banyak Pakar yakin bahwa kebandelan itu adalah gejala dari dua perubahan yang menggoncangkan kehidupan si kecil. Pertama, ia mulai melihat dirinya sendiri sebagai bukan orang lain tetapi seseorang yang punya motivasi sendiri. Usaha keras yang wajar dari si anak untuk menjadi lebih mandiri, menimbulkan perilaku yang mungkin hampir dapat disebut menantang dan membandel dan inilah dua ciri dari anak seusia itu. Berubah menjadi mandiri bukan hal yang mudah bagi si kecil. Kedua, anak juga mulai mengerti bahwa orang lain juga punya kehendak dan motivasi sendiri, anak mulai mempelajari patokan menjadi orang dewasa, tetapi dia belum tahu dengan tepat apa sebenarnya patokan itu. Karena itu, mungkin saja ia menjadi takut untuk tidak mengikuti patokan tersebut. Sebagai contoh, bisa jadi kalau bajunya kecipratan saus tomat sedikit saja, ia akan minta ganti baju. Kalau anda memotong rotinya diagonal, dan tidak mennya tipis-tipis, bisa-bisa ia tidak mau makan roti itu. Atau kalau mainannya tergores sedikit ia akan menangis keras-keras.

Berbarangen dengan itu dia mulai membuat tuntutan yang tinggi terhadap dirinya sendiri. Misalnya kalau dia bisa menyelesaikan puzzlenya dia akan merasa gembira. Tetapi saat menyusun menara balok dan roboh, anak akan merasa dirinya hancur dan menangis sedih sekali.

Rasa emosi pada anak khususnya balita juga belum stabil. Mereka umumnya hanya memikirkan bagaimana membuat diri mereka aman dan senang. Lalu, bagaimana cara mengatasi kemarahan anak? Simak empat cara yang bisa diterapkan orangtua saat menghadapi kemarahan anak, seperti dilansir The Parents Zone.

1.Ajari Anak Cara Mengendalikan Rasa Marah
Anak butuh bimbingan orangtua untuk mengontrol emosi. Maka dari itu, tugas Anda adalah mengajari anak perlahan-lahan bagaimana caranya mengendalikan amarah ketika rasa itu memuncak. Beritahukan mereka secara lembut dan realisasikan dengan sikap saat sedang marah. Atau ajari dengan menuangkan amarah dalam sebuah tulisan. Berikan waktu sebanyak mungkin untuk mendekatkan diri pada anak agar mengetahui perkembangan emosinya.

2.Jangan Marah ketika Anak Marah
Kerap kali orangtua susah menahan kemarahannya saat anak mulai merengek. Justru karena hal tersebut, anak menjadi semakin marah, bahkan jadi pemarah. Kemarahan orang tua juga timbul akibat rasa stres dan bingung menghadapi si kecil. Coba tenangkan diri dan rileks dalam menangani si buah hati. Tunjukkan pada anak kalau marah itu boleh, tapi sewajarnya saja. Ingat, anak akan melihat perilaku orang di sekitarnya dan menirunya.

3.Diam Bukan Solusi
Membiarkan anak menjadi pemarah dapat membentuk kepribadian yang tidak menyenangkan. Sifat yang dibangun dari kecil akan terus mengakar dalam karakter dirinya. Anda sebagai orangtua harus mendidik anak pemarah dengan sabar. Rangkul anak, lalu ajak diskusi bersama. Dengarkan semua keluhan mereka. Kemudian, cari solusi terbaik bagi Anda dan si kecil.

4.Mencegah Kemarahan yang Berlebihan
Marah adalah sebuah bentuk emosi yang dirasakan. Anak pun begitu. Akan tetapi, marah yang tidak dapat dikontrol harus dihentikan. Ketika si buah hati marah dan bertindak di luar batas, beritahu mereka. Sampaikan maksud Anda dengan keibuan, tapi tegas. Berikan konsekuensi yang dapat mengajarkan anak bahwa hal itu tidak baik. Jangan lelah untuk membantu si kecil berubah.

shareseriale online subtitrate

Pendaftaran Santri Baru