Manfaat Berdzikir
‘’Ingatlah Allah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.’’(QS. Ar-ra’ad:28)
Nabi Musa bertanya kepada Tuhannya, ‘Wahai Tuhanku, (katakan) apakah Engkau dekat denganku sehingga aku harus brdoa kepada Engkau dengan bisikan atau engkau jauh sehingga aku harus bersuara keras menyeru-Mu? ‘Kemudian Allah mewahyukan kepadanya, ‘Wahai Musa! Aku bersama yang mengingat-Ku.’ Musa berkata, siapakah mereka yang akan Engkau lindungi pada hari ketika tidak akan ada perlindungan kecuali perlindungan-Mu? Dia menjawab , ‘ mereka yang mengingatku , dan Aku mengingat mereka ; mereka yang saling mencintai demi Aku, dan Aku mencintai mereka. Mereka adalah orang-orang yang kuingat saat Aku hendak menimpakkan musibah atas penduduk bumi sehingga musibah terhindarkan dari penduduk bumi karena mereka.(Al- hadits)
Apa itu zikir, kenapa kita harus berdzikir? karena berzikir bisa dimaknai mengingat juga, maka apakah yang harus diingat? Ketiga pertanyaan diatas yang coba kita jawab, tetapi penulis perlu memaparkan pendahuluan singkat untuk mengawali pembahasan ini.Dalam perjalanan hidupnya sejak dahulu kala, manusia hidup berdampingan dengan alam sekitarnya dia berinteraksi dengan berbagai macam makhluk hidup yang ada di dunia ini, namun terjadi peristiwa-peristiwa yang dia tak mampu untuk menundukan dan mengendalikannya sehingga timbullah dalam hatinya rasa takut, gelisah, tidak tenang atau dalam istilah remaja sekarang hatinya selalu diliputi kegalauan yang selalu merongrong hatinya. Di zaman sekarang yang dikenal dengan zaman sains dan teknologi pun demikian, dimana muncul manusia-manusia yang memuja sains hingga muncul pula slogan bahwa ‘’Dengan sains kita bisa memperoleh kebahagiaan dan ketenangan’’. Nietzsche pun mengataakan: ‘’Tuhan sudah mati! Kita telah membunuhnya’’.1 Namun sejarah membuktikan bahwa kata-kata mereka adalah omong kosong belaka.Hingga manusia menyadari bahwa dia adalah makhluk yang kecil, lemah, dan serba kekurangan. tidak mampu mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri dan menepis bahaya dari hidupnya.Tidak diragukan lagi bahwa manusia dalam mengarungi kehidupannya, selalu merindukan dan mendambakan suatu kekuatan absolute, tidak terbatas. Dzat yang memiliki keindahan , kesucian dan kesempurnaan yang mutlak, yang dengan cara mengingat dan menyebut-nyebut-Nya membawa pada ketentraman hati dan ketenangan pikiran
Apa itu dzikir?
Dzikir yang penulis maksud adalah suatu kegiatan mengingat dzat yang maha sempurna melalui pengucapan kalimat-kalimat tayyibah dan hati senantiasa fokus dan konsentrasi tehadapnya. penulis ingin mengutip pengertian zikir menurut para ulama:
Raghib Isfahani menyebutkan dua makna zikir. Ia mengatakan: ‘’Dzikir terkadang bermakna kemampuan manusia untukk menjaga pengetahuan yang telah ia peroleh (baca: mampu mengingatnya). Terkadang pula bermakna hadirnya sesutu makna dalam hati atau sesuatu perkataan secara lisan.2
Allamah majilisi berpendapat, ‘’Zikir adalah hadirnya makna dalam diri manusia.3
Berkaitan dengan pengrtian dzikir yang telah saya kutip diatas, dzikir terbagi menjadi dua bagian: Pertama, dzikir lisani atau verbal (mengingat dengan lisan), dzikir verbal atau mengingat dengan cara mengucapkan kalimat-kalimat tayyibah adalah tingkatan dzikir yang paling rendah dalam artian kalimat-kalimat yang diucapkan tidak bernilai lebih kalau tidak disertai dengan perhatian dan konsentrasi hati. Maka dzikir berjalan dengan baik jika lisan dan hati berjalan seirama. Kedua, dzikir qalbi adalah hati seseorang senantiasa mengingat Tuhannya. Dzikir ini tidak terlihat misalnya kita sering melihat ada orang sibuk bekerja namun di dalam hatinya dia selalu berkonsentrasi kepada Tuhan. Allah SWT berfirman:
Ingatlah Tuhan-Mu dalam jiwamu, dengan rendah hati dan takut, bukan dengan suara keras, pada pagi dan petang hari. (QS. Al- a’raf: 205)
Dalam ayat mulia diatas diisyaratkan tentang keutamaan dzikir hati, tetapi dalam beberapa keadaan, yang lebih disukai adalah dzikir dengan bersuara keras, seperti dzikir di depan orang yang lalai demi mengingatkannya.4
Kenapa kita harus berzdikir?
Sebenarnya pertanyaan kedua dan ketiga ini sudah terjawab ketika pembaca membaca pendahuluan tulisan ini. Penulis hanya ingin menjelaskannya kembali dengan harapan maknanya bisa lebih tertanam dalam setiap benak pembaca. Manusia adalah makluk yang telah di anugerahi potensi yang sangat luar biasa, dengan potensi yang ada dia memiliki kemampuan yang hampir tidak terbatas . Al-qur’an pun mengabarkan tentang itu. Al-qur’an menyebut manusia sebagai ‘’Khalifatullah Fill Ard’’, manusia diberi wewenang oleh Allah dengan kebebasannya untuk mengurus dan mengelola bumi sesuai dengan undang-undang Ilahi. Penulis telah menyebut bahwa manusia memiliki kemampuan yang hampir tidak terbatas. Namun, dengan kekutan pengetahuan manusia menyadari bahwa ternyata dia adalah makhluk lemah yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan menepis bahaya dari hidupnya. Kesadaran akan ketakmampuan dan ketakberdayaan itulah yang merangsang akalnya untuk berkelana mencari kekuatan yang bisa mengendalikan hal-hal yang berada diluar orbit pengendaliannya. Setelah menemukan apa yang dicarinya ia menjadikan kekuatan (baca:Tuhan) itu sebagai pelindung, tempat bergantung, sembahan yang dipujanya setiap waktu. Dengan demikian manusia membutuhkan Tuhan sebagai sebaik-baiknya tempat kebali yang selalu diingan-ingat, disebut-sebut namanya hingga dia memperoleh apa yang diinginkannya yaitu ketentraman hati dan ketenangan pikiran. Di akhir tulisan ini penulis ingin mengutip rumus kebahagiaan menurut Murthadda Muthahhari seorang ulama dan filosof kontemporer Republik Islam Iran, beliau Mengatakan:
‘’Rumus kebahagiaan adalah kepuasan dan ketenangan’’.5
____________________________________
1. St. sunardi. Nietzsche. Hal 35
2. M. Taqi Mishbah Yazdi. Cinta berdzikir. Hal 2-3.
3. Ibid.
4. Ruhullah khomeini. 40 hadits imam khomeini bab dzikir hal. 348.
5. Murthadda Muthahhari. Ceramah-ceramah muthahhari tentang pendidikan.