DNKindergarten, 04/04
“ Adek…tidurnya jangan malam-malam yaa. Besok kesiangan barangkat sekolahnya…”
“Aduh adek sudah malam masih main saja…!”
Inilah salah satu teriakan si Bunda untuk Kecil tercinta ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hmmm…dilema di malam hari.
Sudah lewat jam 9 malam tapi si Kecil belum juga bisa diajak tidur? Para ahli perkembangan anak telah mengidentifikasi adanya 6 kesalahan yang biasa orang tua lakukan saat berusaha menidurkan anak. Tetapi ada berita baiknya juga yaitu kesalahan-kesalahan tersebut dapat cepat-cepat diperbaiki tanpa berujung dengan masalah.
Ahli masalah tidur anak dan para orang tua yang sudah berpengalaman setuju bahwa adanya sedikit perubahan saja pada rutinitas (jadwal) tidur, dapat membawa kesulitan besar dalam mencegah dan memperbaiki masalah dalam hal tidur.
- Membawa Anak ke Tempat Tidurnya Terlalu Larut.
Anak-anak zaman sekarang sekarang tidur lebih singkat waktunya daripada orang tua mereka yang telah dewasa. “Anak-anak sekarang, selama masa pertumbuhan dan masa pubertasnya tidur dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan anak seusia mereka pada tahun 70-an dan 80-an,” kata Marc Weissbluth (dokter anak dan penulis buku Healthy Sleep Habits, Happy Child).
Mungkin Anda tidak membiasakan bayi atau balita anda tidur pada suatu jadwal (jam) yang ditentukan secara khusus,. Membiarkan anak-anak (seperti bayi dan balita) pergi tidur terlalu larut akan mengakibatkan kelelahan yang berlebihan pada anak.
Pada saat ia mulai sekolah di TK, sebuah jadwal kegiatan sehabis pulang sekolah akan mempersingkat jam tidur siang mereka.Bahkan kebanyakan anak memiliki kegiatan yang terlalu banyak. Pikirkan: Ketika selesai makan malam dan mengerjakan PR, waktu tidur anak mungkin kurang anda perhatikan. Tindakan yang tepat adalah: Aturlah sebuah jam tidur yang pasti dan terapkan jadwal tersebut terus.
- Ketergantungan dengan Aktifitas Gerakan
Orang tua mana yang tidak pernah menghela nafas panjang dan saat melihat anak mereka tertidur sebentar di ayunan bayi/stroller yang digoyangkan atau di belakang mobil yang berjalan?
Tetapi beberapa orangtua terbiasa dengan sebuah cara menggunakan stimulasi aktifitas gerakan untuk membuat anak mereka tertidur baik tidur siang atau tidur pada malam hari. “Jika anak sering baru bisa tidur dalam sebuah aktifitas gerakan, dia mungkin tidak mendapatkan fase tidur yang lelap. Dia seperti berada dalam kondisi “tidur ayam”, seperti tidurnya seorang dewasa dalam perjalanan dengan sebuah pesawat terbang. Tindakan yang tepat adalah, gunakan aktifitas gerakan hanya untuk menenangkan dia–bukan untuk membuat dia ngantuk dan tertidur. Hentikan goyangan ayunan atau stroller, bawa dia ke tempat tidurnya, anak anda akan tidur dengan lelap.
- Mainan di Sekitar Tempat Tidur Anak
Jika anak mempunyai banyak mainan atau alat yang bisa menarik perhatiannya di ranjang, mereka tidak akan menutup mata mereka.
Tindakan yang tepat adalah, biarkanlah ruang tidurnya berada dalam keadaan gelap, hentikan aktifitasnya di saat akan tidur siang atau tidur malam. Agar memaksimalkan tidurnya.
Melewati Rutinitas Jam Tidur
Dengan seorang bayi atau batita, kita mungkin merasa rutinitas seperti membacakan cerita bergambar, dan nyanyian malam belum diperlukan, tetapi dengan selalu menemaninya sebelum tidur sangatlah penting. Rutinitas penuh kasih sayang itu akan membantu bayi/anak anda untuk tidur, jelasnya.
- Tidak Konsisten
2 kali seminggu, ketika dia benar-benar manja, anda tidur bersama anak sampai dia tertidur, atau mungkin menyuruh sang kakak tidur di ruangannya atau bahkan mengizinkan dia masuk ke kamar orang tua dan tidur bersama Anda pada tengah malam. Hal ini menunjukkan bahwa Anda tidak konsisten.
Tindakan Yang Tepat adalah : tentukan batas dimana tempat tidur masing-masing. Ada pengecualian tentunya, jika anak sakit atau takut saat hujan petir, boleh datang menenangkannya.
Tidur yang cukup memungkinkan otak dan organ tubuh lainnya berkembang serta bekerja optimal. Tidur memang tak berpengaruh langsung terhadap kecerdasan anak. Maksudnya, tidur cukup saja tidak otomatis membuat anak pintar. Yang benar, tidur cukup membuat fisik dan mental anak menjadi lebih kondusif. Nah, kondisi inilah yang berpengaruh pada kecerdasan anak. Berdasarkan penelitian, selama tidur semua sel tubuh, termasuk sel otot, hati, ginjal, tulang sumsum, dan sel otak mengalami pemulihan. Bermodalkan tubuh yang bugar inilah anak diasumsikan akan lebih semangat melakukan sesuatu. Apalagi didukung oleh otak yang berfungsi dengan baik.
Ketika energi berkurang dan tubuhnya mulai letih, si balita yang seolah tidak pernah capek bermain seringkali menjadi rewel, bukan? Kondisi itu juga menyebabkan anak tak lagi bisa berkonsentrasi menjalani aktivitasnya. Inilah saatnya si kecil perlu tidur. Dijamin, bila tidurnya cukup, anak akan segar kembali dan dapat bermain-main sambil berkonsentrasi dan bereksplorasi. Jadi bisa disimpulkan, tidur sangat mendukung perkembangan kecerdasan anak.
Maka dari itu, hilangkan kekeliruan yang selama ini kita lakukan. Agar mudah mengatur tidur anak.
(sita, [email protected])