KELAS VI DIKARANTINA

Sejak Ujian Niha’i berlangsung, Rabu 7/4/2010, seluruh santri akhir Darunnajah Cipining dikarantina di auditorium. Hal ini dimaksudkan dalam rangka menghadapi Ujian Niha’i dan juga mempersiapkan kegiatan Praktik Da’wah dan Pengembangan Masyarakat (PDPM), yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 24 April mendatang.

Ujian Niha’i merupakan ujian akhir bagi santri kelas VI. Berbeda dengan Ujian Nasional, ujian ini adalah ujian lokal mata pelajaran pondok pesantren dari kelas satu hingga kelas enam baik secara lisan maupun tulisan. Seperti; Mahfuzhot, tafsir, hadist (kitab bulughol marom), muthola’ah, bidayatul mujtahid, ushul fiqh, mushtolahul hadist, aqidah, balaghoh, dan sebagainya.

Pesantren Darunnajah Cipining merupakan lembaga pendidikan yang memadukan antara kurikulum nasional dan kurikulum gontor. Oleh sebab itu, para santri bukan hanya belajar pendidikan agama, tapi juga mendapatkan pendidikan umum sebagaimana para siswa/i di sekolah umum. Itulah yang menjadi salah satu kelebihan Pesantren DNC.

Menurut Novan Maulana, santri asal Bogor karantina yang dilakukan selama ini merupakan hal yang sangat positif. Karena dengan dikarantina, para santri kelas VI ini bisa mempererat ukhuwwah sesama teman se-angkatan dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.

Suhendi mengaku, dirinya bisa lebih fokus dalam belajar. “Saya jadi tambah fokus belajar dan tambah bersemangat. Selain itu, saya juga bisa bersosialisasi karena memiliki waktu yang lebih banyak dengan teman-teman”, ujar Suhendi santri asal Bekasi.

Berbeda dengan dua teman sebelumnya, Fajar Sepdiantoro santri yang sudah 6 tahun menimba ilmu di Cipining ini secara jujur mengatakan dapat bertukar fikiran antar sesama teman. “Saya dapat bertukar fikiran dan berbagi pengetahuan dengan teman-teman”, katanya.

Kegiatan karantina ini bukan hanya berlaku bagi santri putra, tapi juga santri Niha’i putri. Tak jauh berbeda dengan karantina putra, santri putri kelas VI juga melakukan hal sama, mulai dari belajar menjadi imam sholat, sholat witir, sholat hajat, tahajjud, dan belajar bersama. Hal ini dimaksudkan untuk kesuksesan dalam ujian Niha’i dan dalam rangka menghadapi PDPM.

Kegiatan karantina santri akhir ini antara lain; belajar menjadi imam sholat, kuliah tujuh menit (KULTUM) setiap selesai sholat 5 waktu, dan berdiskusi tentang berbagai macam pelajaran. Sehingga diharapkan dengan adanya karantina ini, para santri yang sebentar lagi akan menyelesaikan studi pesantren ini akan mampu berda’wah di masyarakat yang lebih luas. (Wardan/dzikrillah).