
Aula Al Ghazali dipenuhi wajah-wajah yang bersiap memikul amanah baru. Sabtu, 8 Agustus 2026, seluruh wali kelas dan asisten wali kelas Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) berkumpul dalam rapat perdana yang digelar Departemen TMI di Kampus Dua. Pertemuan ini menjadi titik awal penyatuan visi pengasuhan sebelum santri melangkah ke hari pertama tahun ajaran. Di ruangan itu, estafet nilai kepesantrenan berpindah tangan dari para pendidik senior kepada juniornya.
Rapat mengusung tiga tema besar: penyatuan visi dan penyesuaian peran, estafet nilai kepesantrenan, serta pemetaan manajemen kelas yang efektif. Departemen TMI Pesantren Darunnajah 2 Cipining menempatkan pertemuan ini sebagai fondasi tata kelola akademik sekaligus pengasuhan. Sinkronisasi tugas pokok dan fungsi (tupoksi) menjadi agenda utama agar kewenangan antarpendidik tidak saling tumpang tindih. Sebab kelas yang tertib bermula dari pembagian peran yang jelas sejak awal.


Acara dibuka oleh Ustaz Imam Ghozali selaku Direktur TMI, pimpinan tertinggi yang menaungi departemen pendidikan. Pesannya menitikberatkan pada ruh pengasuhan dan arah pendidikan pesantren ke depan. Ia mengingatkan bahwa wali kelas memegang peran yang jauh melampaui urusan absensi dan nilai rapor. Suasana forum pun langsung terasa hangat sekaligus khidmat sejak menit-menit awal.
Momentum semakin solid ketika jajaran pimpinan satuan pendidikan turut urun rembuk menyelaraskan visi. Mereka yang hadir dan menyampaikan arahan meliputi:
- Ustaz Imam Ghozali — Direktur TMI
- Ustaz M. Fariz Khaerul Fazri — Kepala Madrasah Aliyah (MA)
- Ustaz Iwan Setiawan — Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
- Ustaz Hifdzi Sobahi — Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP)
- Ustaz Kanafi Salman — Kepala Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) Wustho
- Ustaz Asmari Ichsan — Kepala Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) Ulya

Titik temu yang mereka cari sederhana namun menentukan: kedisiplinan di asrama TMI harus berjalan seirama dengan target akademik di ruang kelas. Selama ini, dua wilayah tersebut kerap dikelola dengan ritme yang berbeda. Melalui forum ini, keduanya diletakkan dalam satu kerangka pengasuhan yang utuh. Peserta rapat mencakup wali kelas dan asisten wali kelas dari kalangan guru putra maupun putri.
Setelah fondasi visi terbangun, forum mencair menjadi sesi mentoring dari hati ke hati. Para wali kelas senior merangkul asisten wali kelas dari angkatan Glorious Generation untuk mematangkan pembagian tugas dan merapikan standar administrasi. Pola ini dirancang untuk mengakselerasi transisi mental pendidik muda yang baru saja beralih peran dari santri menjadi guru. Kebijaksanaan senior dipertemukan dengan kedekatan emosional junior, dua modal yang saling melengkapi.
Dari rangkaian diskusi tersebut, Departemen TMI merumuskan sejumlah hasil nyata yang ditargetkan, yaitu:
- Kejelasan pemisahan tugas pokok dan fungsi
- Standardisasi administrasi kelas TMI
- Terbentuknya pola komunikasi dan mentoring
- Pemetaan awal dinamika setiap kelas
- Peningkatan kepercayaan diri pendidik muda
Perjalanan menuju target itu memiliki tantangannya sendiri. Transisi peran dan penegakan wibawa menjadi ujian pertama bagi para pendidik muda. Rasa sungkan dalam berkolaborasi antara senior dan junior masih perlu dikikis agar komunikasi berjalan cair. Kapasitas adaptasi administratif, pembagian tugas yang proporsional, serta manajemen waktu rapat juga menjadi catatan yang disadari bersama.


Rapat perdana ini diibaratkan peluit yang membunyikan dimulainya sebuah perlombaan panjang. Karena itu, tindak lanjutnya dirancang taktis dan berkesinambungan agar semangat kolaborasi tidak menguap setelah peserta meninggalkan ruangan. Program yang telah disepakati mencakup pelaksanaan mentoring berkala, eksekusi administrasi dan pembagian peran, observasi lapangan untuk pemetaan santri, serta penanganan kasus secara berjenjang. Setiap langkah berpijak pada prinsip bahwa mendidik adalah proses panjang, bukan pekerjaan sekali jadi.

Di balik agenda administratif itu tersimpan makna yang lebih dalam. Islam memandang pendidikan sebagai amanah yang dipertanggungjawabkan, dan wali kelas adalah penjaga amanah tersebut dalam skala paling dekat dengan santri. Ketika senior bersedia merangkul dan junior bersedia belajar, di situlah nilai kepesantrenan benar-benar berpindah, bukan melalui dokumen, melainkan melalui keteladanan. Estafet inilah yang menjaga denyut pesantren tetap hidup dari generasi ke generasi.
Kini bola ada di tangan para pendidik. Wali kelas dan asisten wali kelas diharapkan segera menerjemahkan hasil rapat ke dalam langkah konkret di kelas dan asrama masing-masing. Orang tua santri pun dapat mengambil peran dengan membuka komunikasi aktif bersama wali kelas sejak pekan pertama tahun ajaran. Sinergi antara rumah dan pesantren akan menentukan seberapa jauh santri bertumbuh sepanjang tahun ini.
