Siapakah guru terbaik itu?
Musaidu lajnatil imtihan مساعد لجنة الإمتحان adalah, terlibatnya para santri kelas 6 TMI untuk bisa bergabung menjadi panita ujian. Membantu panita ujian dalam mengatur jalannya ujian yang ada di pesantren. Kegiatan ini dimulai sejak tanggal 09 – 28 November 2019 karena sesuai dengan pelaksanaan ujian semester ganjil.

Penugasan adalah pendidikan. Dalam hal membantu panita ujian, beberapa santri pilihan ditugaskan untuk mampu menjadi penguji lisan bahasa arab maupun inggris. Serta menjadi pengawas ujian tulis. Beberapa santri juga dipercaya dan dianggap sudah mampu untuk bisa membantu beberapa bagian penting yang ada di pesantren.
Contohnya adalah, membantu sekretaris pesantren dalam pendataan maupun mengontrol jalannya rapat pengurus pesantren. Membantu Ka. Biro Usaha untuk terus mengambangkan dan memajukan usaha pesantren. Selain itu juga, harus mengontrol kegiatan belajar santri/adik kelas untuk persiapan menghadapi ujian.
Beberapa hal yang telah disampaikan oleh Ka. Biro Pendidikan, Ustadz Ridha Makky, M.Pd.I dalam sambutannya ketika pengarahan santri niha’i.
- Ada 3 hal yang menjadi fungsi kegiatan ini, yaitu agar bisa mu’tarif (diketahui), musta’mal (dipakai) dan terakhir adalah muhratom (dihormati).
- Santri Kelas Niha’I harus memiliki potensi dengan niat yang tulus.
- Hilangkan rasa mau atau ingin dihormati, maka kalian harus menanamkan sifat rendah hati dan ikhlas.
- Seseorang akan membangun 3 skill, yaitu soft skill, hard skill and life skill
“Memang betul, guru terbaik adalah pengalaman. Dengan adanya agenda ini, ana bisa dapet banyak banget pengalaman. Bisa faham cara masak, karena ana ditugaskan di bagaian dapur. Bisa faham potensi dan batas kemampuan para santri, karena ana sebagai penguji. Pasti ada banyak hal lain yang dirasakan oleh teman-teman yang lain”. Itulah beberapa testimoni dari Latifah, Lutfiah dan Siti Anindita, santri niha’i yang diungkapkan dihadapan reporter setelah jam istirahat tiba.

Inilah yang disebut pendidikan pesantren. Semua profesi yang ada dipesantren bisa mereka rasakan dan mereka kuasai. Sehingga, ketika para santri terlapas dari dunia pesantren, mereka benar-benar mampu untuk mandiri/berdiri diatas kaki sendiri. Karena sudah banyak dan cukup, bekal yang telah diberikan oleh pihak pesantren kepada para santrinya.
Tidak ada lembaga lain yang memberikan kebebasan dan keluasan dalam mendidik peserta didik, kecuali lembaga pesantren. Inilah keunggulan pesantren. Masih belum percaya dan kurang yakin dengan lembaga pesantren? (WARDAN/Mbafer)