Keingintahuan Sayyiduna Hasan; Pimpinan Pemuda Ahli Surga Keingintahuan Sayyiduna Hasan; Pimpinan Pemuda Ahli Surga

Keingintahuan Sayyiduna Hasan; Pimpinan Pemuda Ahli Surga

الحسن والحسن سيدا شباب أهل الجنة

“Hasan dan Husein adalah dua pemimpin para pemuda penghuni surga.” (HR. At-Tirmidzi dan Hakim)

Apa yang menjadikan kedua cucu Rasulullah, Sayyiduna Hasan dan Sayyiduna Husein menjadi pemimpin pemuda penghuni surga? Yang pasti hal itu sudah menjadi ketetapan Allah.

Kita sebagai pengais kebaikan di akhir zaman yang mengharapkan ridha dan surganya Allah, tidakkah penasaran bagaimana akhlak Pemimpin Pemuda Ahli Surga ini?

Mari kita tengok di antara akhlaknya, dari hadits yang menjadi paling penting dalam kitab-kitab Syamail yang menuturkan tentang karakteristik Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam.

 

Imam At-Tirmidzi menuturkan, suatu hari Sayyiduna Hasan bin Ali mendatangi pamannya, yaitu Hindun bin Abi Halah.

Hindun adalah putranya Sayyidah Khadijah dari suaminya sebelum menikah dengan Rasulullah ﷺ.

Hindun dikenal seorang yang sangat detail ketika mendeksripsikan bentuk fisik seseorang.

Seolah-olah matanya seperti kamera ketika melihat sesuatu.

Dia bisa menceritakan ulang dengan terperinci walau dia melihatnya sudah sangat lama.

 

Kepada pamannya yang pernah hidup satu rumah dalam pembinaan Rasulullah ﷺ inilah Sayyiduna Hasan datang.

Apa yang diinginkannya?

أنا أشتهي أن يصف لي منها شيئا أتعلق به

“Saat itu aku benar-benar ingin mengetahui sifat dan deskripsi fisik Nabi Muhammad ﷺ”

Tunggu, Bukankah Sayyiduna Hasan sempat bertemu, malah sering digendong oleh Kakek Tercinta?

Lihatlah bagaimana kesungguhan Sayyiduna Hasan ingin mengetahui tentang Baginda Rasulullah ﷺ.

Jika permintaan itu datang dari seorang yang tidak pernah sama sekali mengetahui dan belum pernah bertemu dengan Baginda Rasul, mungkin wajar karena penasaran.

Tapi ini cucunya. Yang pernah ditimang dan main bersama dengan Baginda Rasul ﷺ.

Sayyiduna Hasan pun datang kepada ahlinya, yaitu Hindun bin Abi Halah, seseorang yang terkenal pada masanya sebagai “Washshafan” mampu mendeskripsikan sifat dan bentuk fisik Baginda Rasul dengan kemampuan yang jarang orang miliki.

Maka terlihat sekali bagaiamana keingintahuan Sayyiduna Hasan yang sangat tinggi terhadap Rasulullah ﷺ.

 

Imam Al-Bajuri dalam kitabnya “Al-Mawaahib Al-Laduniyyah ‘alaa Syamail Muhammadiyyah” memberikan penjelasan atas hadits ini:

“Semasa hidupnya bersama Rasulullah ﷺ, Sayyiduna Hasan masih sangat kecil dan belum bisa merenungi sesuatu secara mendalam. Sehingga keingitahuannya sangat besar untuk tak sekadar ‘alim tapi juga ‘arif tentang Rasulullah.”

Apa bedanya ‘arif dan ‘alim?

Bedanya ‘alim, ia hanya mengetahui secara luaran, sedangkan ‘arif ia mengetahui sesuatu secara mendalam dengan kecerdasan batin atau spiritual.

Sayyiduna Hasan amat sangat ingin mengenali Baginda Rasulullah secara mendalam, agar apa?

“Sehingga aku bisa berkaitan terus dengan Rasulullah ﷺ”

Layaknya seorang yang sedang kasmaran! Bukankah begitu juga ketika kita sedang mendalami sesuatu, mencari apapun yang berkaitan dengannya.

Secara alam bawah sadar kita akan terus berkaitan, hati kita terus terpaut, lama-lama tingkah laku kita pun banyak terpengaruh oleh sesuatu atau seseorang yang sedang kita dalami informasinya.

 

Bagaimana jadinya jika yang kita kepo-in terus menerus adalah sosok Nabi Muhammad ﷺ?

Ingatkah Baginda Rasul Nabi Muhammad pernah menyampaikan bahwa ada dua macam orang rakus yang selalu tidak merasa kenyang. Yaitu penuntut ilmu, dan pemburu harta.

Jadilah kita orang rakus yang pertama, yaitu yang tidak pernah kenyang akan ilmu.

Dan sebaik-baik rasa ingin tahu, adalah keingintahuan kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ.

 

Itulah yang ditampilkan oleh Pimpinan Pemuda Ahli Surga, Sayyiduna Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhumaa.

Jika telah berlalu waktu, dan belum cukup kita mengenali beliau lebih dekat, maka inilah bulan Rabiul Awwal, bulan kelahirannya Baginda Rasul ﷺ sebagai waktu yang tepat untuk mengenalinya.

Inilah hari-hari yang banyak dibacakan shalawat, maulid dan sirahnya. Seakan udara di bulan Rabiul Awwal dipenuhi dengan rahmat. Bernafaskan shalawat. Sambut ia, dengan segenap keingintahuan kita akan Nabi Al-Musthofa.

Mengenalinya adalah mendapatkan pelita, tanpanya kita hanya akan mendapatkan gulita.

Wallahua’lam.

Rabiul Awwal 1445 H.

(Anisrullah)