Kebiasaan Anak Menghisap Jempol

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Darunnajahkindergarten, 07/10

Kebiasaan menghisap jempol sebenarnya adalah tindakan natural bayi. “Sangat umum bagi mereka menggunakan jari atau jempol lainnya untuk mendapatkan kenyamanan,” ujar dr. Robert Anderson, seorang dokter anak asal Iowa, Kanada. Di bulan pertama kehidupannya atau bisa jadi lebih cepat, anak bisa mulai paham kalau menghisap jari membuatnya nyaman. “Bisa membuat mereka tenang atau hanya karena memang itu menyenangkan,” tutur Anderson lagi.

Namun jika dibiarkan sampai anak mulai tumbuh besar, kebiasaan itu bisa menghambat perkembangannya, seperti kemampuannya bicara. Kapan batas toleransi untuk anak menghentikan kebiasaan menghisap jempol itu? “Biasanya saat anak berusia 2-4 tahun akan mulai melatih kepintaran lain, selain menghisap jari, seperti kemampuan bicara,” imbuh drg. Mary Hayes asal Chicago.

Berikut ini 8 fakta mengenai kebiasaan menghisap jempol, sekaligus cara-cara menghilangkan kebiasaan yang menggemaskan, namun memiliki efek samping ini.

1.    Menghisap jempol membuat si kecil merasa nyaman

Menghisap jempol merupakan insting alamiah seorang anak. Awalnya kebiasaan ini muncul untuk menciptakan rasa aman dan nyaman. Jika dilihat melalui ultrasound, bayi dalam perut kadang terlihat tengah asyik menghisap ibu jari. Hal ini dilakukannya untuk memperoleh perasaan rileks, serta untuk menenangkan diri sendiri.

2.    Berhenti di usia 5-6 tahun

Tidak semua balita gemar menghisap jempol. Sebuah penelitian menyebutkan, 50 persen anak tak punya kebiasaan ini. Bagi yang terlanjur memulai kebiasaan menghisap ibu jari, 85 persen di antaranya meninggalkan kebiasaan buruk ini.

3.    Dorongan lingkungan

Sebagian besar anak berhenti mengemut jempol di usia taman kanak-kanak karena malu melihat teman-temannya yang tidak memiliki kebiasaan ini. Tak sedikit pula yang bahkan menjadi bahan ejekan, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti.

4.    Beresiko pada pembentukan gigi

Jika kebiasaan menghisap ibu jari berlanjut hingga di atas usia 5 tahun dan cukup intensif, dapat menyebabkan gigi seri atas dan bawah tidak berkembang seperti semestinya. Gigi bagian atas dapat terdorong melampaui batas tumbuhnya dan membuat si kecil menjadi tonggos.

5.    Salah pengucapan

Jika gigi tumbuh pada posisi yang tidak seharusnya, dapat berpengaruh pada cara si kecil berbicara. Adanya salah pengucapan pada kata-kata atau huruf tertentu, bahkan membuat si kecil menjadi cadel.

6.    Alihkan perhatiannya

Menghisap ibu jari biasanya dilakukan jika anak tengah bosan atau tak ada yang bisa dilakukan, juga saat tangannya “bebas”, tak menggenggam apapun. Jika buah hati Anda mulai menunjukkan tanda-tanda akan kembali mengemut ibu jarinya, segera alihkan perhatiannya dengan memberinya mainan yang dapat digenggam atau genggam kedua tangannya.

7.    Beri batasan tempat

Jika anak belum mampu melepaskan kebiasaannya, biarkan saja, tapi hanya di saat-saat tertentu. Hanya di rumah atau di kamarnya sendiri, misalnya. Buat perjanjian dengan si kecil untuk tidak menunjukkan kebiasaannya di depan umum.

8.    Pujian lebih baik dari hukuman

Jika buah hati Anda menunjukkan keseriusannya untuk berhenti menghisap jempol, jangan ragu untuk memujinya. Pujian membuat si kecil semakin termotivasi, berbeda jika Anda menerapkan hukuman keras yang hanya akan membuat anak menjadi takut, trauma, atau berontak.

Caranya agar anak bisa menghentikan kebiasaannya tersebut?
  •   Usahakan Anda membatasi waktu anak menghisap jarinya. Misalnya hanya boleh melakukannya di kamarnya atau di rumah, tidak saat berada di tempat umum. “Katakan pada anak kalau ini hanya boleh dilakukan menjelang tidur atau saat tidur,” jelas Berman.
  •   Jangan jadikan masalah ini sebagai bahan pertengkaran. “Jangan bilang pada anak, kamu tidak boleh menghisap jempolmu lagi,” ujar Anderson. “Ketimbang memberinya kritikan, ketika anak tidak menghisap jempolmu, berikan dia pujian,” tambahnya.
  • Komunikasikan pada anak soal kebiasaannya itu. “Katakan pada anak, kapanpun dia siap menghentikan kebiasaannya itu, Anda siap membantunya,” ujar Berman. Cara ini bisa membuat anak termotivasi dan akhirnya datang pada Anda untuk minta bantuan Anda.
  • Bangun kesadaran anak. “Saat anak menghisap jempol, ingatkan padanya kalau dia sedang menghisap jarinya,” jelas Hayes. Jika anak tidak menyadarinya, bantu dia dan cari cara adakah hal lain yang bisa membuatnya nyaman selain jari.
  • Lakukan cara-cara kreatif untuk membuat anak paham kalau mereka sedang sudah besar dan suatu hari nanti tidak akan menghisap jarinya lagi. 

share

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor

Video Call Santri Dengan Orang Tua

Pesantren memberi fasilitas video call gratis bagi santri untuk menjalin komunikasi yang baik dengan ayah dan ibu tercinta Darunnajah Principal’s Speech On The Courtesy Call