“Ke Darunnajah, Apa yang Kau Cari?” “Ke Darunnajah, Apa yang Kau Cari?”

“Ke Darunnajah, Apa yang Kau Cari?” Mengawali Tahun Ajaran, K.H. Sofwan Manaf Buka Khutbatul ‘Arsy 2026

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Assoc. Prof. Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si., membuka kegiatan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy di GOR Darunnajah yang dihadiri oleh seluruh santri dan dewan guru pada Rabu, 5 Agustus 2026. Santri baru juga mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian, dan santri lama yang baru kembali dari libur panjang turut hadir bersama para asatidz dan asatidzah. Kegiatan ini sebagai salah satu momentum pembuka tahun pelajaran yang disebut Khutbatul ‘Arsy.

Pekan Perkenalan Khutbatul ‘arsy diselenggarakan dengan tujuan untuk mengenalkan dan menyegarkan kembali visi, misi, sistem pendidikan, disiplin, serta falsafah perjuangan pesantren kepada seluruh warga pondok.

Mengawali khutbahnya, K.H. Sofwan Manaf menyampaikan sebuah pertanyaan reflektif, “Ke Darunnajah, apa yang kau cari?” Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh santri agar senantiasa meluruskan niat dalam menuntut ilmu dan menjalani seluruh proses pendidikan dengan ikhlas karena Allah SWT.

“Ke Darunnajah, Apa yang Kau Cari?”

Kiai Sofwan menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar tempat tinggal maupun lembaga pendidikan formal. Pesantren dibangun melalui perjuangan, pengorbanan, wakaf, dan doa para pendirinya dengan tujuan mendidik santri agar mampu menuntut ilmu, mengamalkan ajaran agama, serta mempersiapkan diri menjadi kader umat dan pemimpin di masa depan.

Dalam khutbahnya juga dijelaskan makna “perpeloncoan” dalam Khutbatul ‘Arsy. Istilah tersebut tidak berkaitan dengan kekerasan fisik, melainkan proses penyegaran jiwa dan pembentukan mental agar seluruh warga pondok, baik santri baru, santri lama, maupun guru, senantiasa siap untuk dididik, belajar, dan berdisiplin.

“Mari kita tanggalkan semua kesombongan kita di luar gerbang pondok. Mari kita kosongkan gelas kita agar siap dididik, siap diajar, dan siap berdisiplin,” pesan beliau.

Kiai Sofwan Manaf turut mengingatkan santri agar tidak menilai pesantren hanya berdasarkan pengalaman atau keadaan yang tampak pada permukaan. Berbagai disiplin dan aturan yang pada awalnya mungkin terasa berat merupakan bagian dari proses pembentukan karakter, kemandirian, kedisiplinan, dan kepemimpinan.

Kewajiban berbahasa Arab dan Inggris, kegiatan organisasi, kepramukaan, ibadah berjamaah, serta berbagai aktivitas pesantren memiliki tujuan pendidikan yang saling berkaitan. Bahasa Arab menjadi sarana memahami Al-Qur’an dan hadis, bahasa Inggris membuka wawasan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan organisasi dan kepramukaan menjadi media pembinaan kepemimpinan dan kemandirian.

Apa yang kau lihat, apa yang kau dengar, dan apa yang kau rasakan di pesantren ini, semuanya adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses pendidikan.

Khutbatul ‘Arsy juga menjadi momentum bagi santri lama dan para guru untuk memperbarui niat serta menyegarkan kembali semangat belajar dan mengajar setelah libur panjang. Rangkaian Khutbatul ‘Arsy 2026 dilaksanakan dalam empat babak pada 5–8 Agustus 2026 dengan materi yang mencakup sejarah Darunnajah, sistem pendidikan TMI, tata tertib dan disiplin, kurikulum, kelembagaan, hingga falsafah perjuangan pesantren yang tercermin dalam Panca Jiwa, Panca Bina, Panca Dharma, dan Panca Jangka.

“Ke Darunnajah, Apa yang Kau Cari?”

Menutup khutbahnya, K.H. Sofwan Manaf menyampaikan prinsip, “Sebesar keinsafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu.” Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sistem dan fasilitas, tetapi juga oleh kesadaran, keikhlasan, dan kesungguhan santri dalam menjalani setiap proses pendidikan.

Khutbah ditutup dengan doa dan ajakan kepada seluruh santri untuk memulai tahun pelajaran dengan niat yang lurus, semangat belajar, serta tekad menjadi kader umat dan pemimpin bangsa yang mutafaqqih fiddin. (Ara Maulidia)

“Selamat berjuang, anak-anakku.”