Karakteristik Anak Berkelainan Mental Emosional

Darunnajahkindergarten,5/5

A.    TUNAGRAHITA

Anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan mental-emosional, yaitu anak tunagrahita,tunadaksa dan tunalaras.
1.Karakteristik Tunagrahita
Karakteristik anak tunagrahita, yang lebih spesifik berdasarkan berat ringannya kelainan dapat dikemukakan sebagai berikut:
          A.Mampudidik
Mampudidik merupakan istilah pendidikan yang digunakan untuk mengelompokan tunagrahita ringan. Mampudidik memiliki kapasitas intelegensi antara 50-70 pada skala Binet maupun Weschler. Anak mampudidik kemampuan maksimalnya setara dengan anak usia 12 tahun atau kelas 6 sekolah dasar, apabila mendapat pelayanan dan bimbingan belajar yang sesuai maka anak mampudidik dapat lulus Sekolah dasar. Tunagrahita mampudidik umumnya tidak disertai dengan kelainan fisik baik sensori maupun motoris, sehingga kesan lahiriah anak mampudidik tidak berbeda dengan anak normal sebaya, bahkan sering anak mampudidik dikenal dengan terbelakang mental 6 jam, hal ini dikarenakan anak terlihat terbelakang mental sewaktu mengiuti pelajaran akademik di sekolah saja, yang mana jam sekolah adalah 6 jam setiap hari.
         B.Mampulatih
Tunagrahita mampu latih secara fisik sering memiliki atau diserati dengan kelainan fisik baik sensori maupun motoris, bahkan hampir semua anak yang memiliki kelainan dengan tipe klinik masuk dalam kelompok mampulatih sehingga sangat mudah untuk mendeteksi anak mampu latih, karena penampilan fisiknya (kesan lahiriah) berbeda dengan anak normal sebaya. Anak mampulatih memiliki kapasitas intelegensi (IQ) berkisar 30-50, kemampuan tertingginya setara dengan anak normal usia 8 tahun atau kelas 2 SD. Kemampuan akademik anak mampulatih tidak dapat mengikuti pelajaran yang bersifat akademik walaupun secara sederhana seperti membaca, menulis dan berhitung. Anak mampulatih hanya mampu dilatih dalam keterampilan mengurus diri sendiri dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
        C.Perlu rawat
Anak perlu rawal adalah klasifikasi anak tunagrahita yang paling berat, jika pada istilah kedokteran disebut dengan idiot Anak perlu rawat memiliki kapasitas inteligensi di bawah 25 dan sudah tidak mampu dilatih keterampilan. Anak ini hanya mampu dilatih pembiasaan (conditioning) dalam kehidupan sehiri-hari. Seumur hidupnya tidak dapat lepas dari orang lain.
2.Periode-periode anak tunagrahita
Adapun periode-periode anak tuna grahita adalah sebagai berikut:
        A.Anak tunagrahita pada periode bayi sampai kanak-kanak (usia pra-sekolah)
Anak tunagrahita sejak lahir sudah memiliki kemampuan sosial, hanya tingkat kemampuan sosial yang dimiliki anak tunagrahita lebih rendah dibanding anak normal. Pada bulan kedua, ketiga setelah kelahirannya, bayi sudah dapat merespon lingkungan. Bayi akan bereaksi ketika lingkungan memberikan stimulus. Pada anak tunagrahita kesulitan untuk merespon lingkungan.
Keterbatasan inteligensi yang dimiliki anak tunagrahita ini, menyebabkan anak kesulitan untuk belajar tentang lingkungan, sehingga anak menjadi sulit untuk memenukan kepercayaan. Dengan demikian perkembangan sosial anak tunagrahita mengalami hambatan, anak mempunyai problem dibidang penyesuaian sosial. Untuk mengatasi ini diperlukan keberadaan seorang ibu, yang mau menerima anaknya seperti apa adanya, dengan memberikan rasa aman, kasih sayang dan merawat anak tunagrahita dengan baik.
       B. Anak tunagrahita pada periode sekolah
Pada teori Rotter’s tentang belajar sosial dikatakan bahwa orang itu mempunyai harapan-harapan untuk sukses. Kesuksesan ini merupakan reinforcement bagi anak. Berdasarkan teori Rotter’s tentang belajar sosial ini, maka dapat dianalisis bahwa anak tunagrahita juga mempunyai harapan untuk sukses, namun dalam kenyataannya anak tunagrahita jauh dari sukses, terus menerus mengalami kegagalan, sehingga sulit untuk mendapatkan reinforcement. Sulit memperoleh reinforcement ini menyebabkan anak tunagrahita mempunyai motivasi yang rendah.
Penelitian yang dilakukan oleh Welch & Drew (1972) mengatakan pemberian rewards merupakan variabel yang perlu diadakan untuk mengatasi perasaan gagal pada anak-anak tunagrahita. Untuk itu guru, konselor vocational rehabilitation, orang tua harus memberikan pengalaman sukses atau situasi sukses untuk anak-anak tunagrahita usia sekolah ini. Pengalaman-pengalaman sukses ini akan memberikan motivasi untuk belajar lebih banyak, dan menciptakan situasi kompetitif. Dengan demikian kegagalan akan dihadapi sebagai pengalaman yang realistis.
          C.unagrahita Remaja
Perkembangan sosial remaja lebih ditekankan pada sosialiasai, penampilan, rekreasi dan pengunaan waktu luang. Latihan bersosialisasi perlu dilakukan agar remaja tunagrahita mempunyai kemampuan untuk berinteraksi sosial dengan orang lainyang setelah menginjak dewasa. Demikian juga anak harus diajarkan, berpakaian rapi dan bersih. Penggunaan waktu luang pada remaja tunagrahita, juga perlu diperhatikan, sehingga tunagrahita tidak jatuh pada orang-orang yang tidak bertangung jawab.
          D.Tunagrahita Dewasa
Pada anak tunagrahita dewasa, perkembangan sosial lebih ditekankan pada kemampuan hidup ditengah-tengah masyarakat banyak, dengan keterbatasannya. Pada tunagrahita dewasa diharapkan anak sudah memiliki kemandirian di bidang sosial.
Anak tungarahita mempunyai keteampilan adaptif yang rendah. Sperti yang dijelaskan oleh Kirk & Gallaggher (1989) bahwa, anak tunagrahita mengalami deficit dalam perilaku adaptif, hal ini menyebabkan anak tunagrahita mengalami masalah dalam penyesuaian diri dan penyesuaian sosial. American Association on Mental Retardation/AAMR (dalam Beirne-Smith, et.al., 2002) mengemukakan 10 area keterampilan adaptif. 10 area tersebut adalah:
1.    Komunikasi
2.    Merawat diri
3.    Hidup berumah tangga ( home living)
4.    Keterampilan sosial
5.    Menjalin kerukunan (community use)
6.    Mengarah atau membimbing diri (self-derection)
7.    Kesehatan dan keselamatan
8.    Memfungsikan kemampuan akademik
9.    Memanfaatkan waktu luang
10.  Bekerja.
Kesepuluh area keterampilan adaptif tidak mudah di jangkau oleh anak tunagrahita, sehingga anak tunagrahita mempunyai masalah dalam penyesuaian diri dan penyesuaian sosial. Kehadiran orang tua dengan memberikan kepuasan emosi, latihan-latihan menolong diri sendiri yang diberikan guru akan sangat membantu anak tunagrahita dalam menguasai keterampilan adaptif dengan keterbatasanya.
Sehubungan dengan keterbatasan kognitifnya maka kesulitan bagi lingkungan untuk mengenalkan norma-norma yang ada di masyarakat. Willerman (1977) menjelaskan bahwa dalam menerima informasi anak-anak normal lebih bersifat aktif, sedang pada anak tunagrahita cenderung pasif, tergantung lingkungan yang memberikannya. Selanjutnya di katakan anak mudah sekali kena bujukan atau mudah sekali tersugesti. Sehingga sangat berbahaya apabila anak berteman dengan anak-anak yang menyimpang perilakunya.
Willerman (1979) mengatakan pemberian kesempatan untuk berhubungan sosial pada anak tunagrahita banyak membantu perkembangan sosialnya. Faktor lain menurutnya adalah kemandiriannya. Latihan kemandirian juga akan banyak membantu anak untuk sukses dalam melakukan adaptasi dengan lingkungannya. Perilaku stereotype menurut Baumeister & Forehand (dalam reiss, et,al., 1977) “Stereotype as highly consistent and repetitious motor or posturing behavior, the adaptive consequences of which, if any, are not immediately apparent.”
Maksudnya stereotype merupakan gerakan yang di ulang-ulang, dan sangat konsisten, gerakan itu dapat dari perilaku postur tubuh, sebagai konsekuensi dari adaftasi. Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Berkson & Davenfort (dalam reiss, et.al., 1977) ditemukan bahwa stereotype banyak di derita anak tunagrahita laki-laki. Dalam penelitiannya ditemukan ada korelasi antara lamanya anak tunagrahita berada pada suatu lembaga dengan perilaku stereotype dan ada korelasi yang negatif antara IQ dan stereotype.
Mengenai stereotype ini ada beberapa teori yang di kemukakan, yaitu stereotype terjadi sebagai bentuk untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan-ketegangan. Ada juga teori yang mengatakan bahwa stereotype ini terjadi sebagai bentuk stimulasi diri, karena stimulasi sensory terutama pada mata sangat terbatas. Karena itu biasanya stereotype ini banyak terjadi pada anak tunanetra yang sering disebut dengan blindism.
1.Perkembangan Emosi Tunagrahita
Perkembangan emosi sudah dapat mencapai perkembangan yang optimal apabila anak sudah dapat mencapai perkembangan emosi, maksudnya anak dapat mengelola emosinya dan dapat mengekspresikan emosinya sesuai dengan aturan-aturan atau cita-cita masyarakat. Kemandirian kemampuan untuk berinisiatif menurut Erikson’s banyak dipengaruhi perkembangan emosi pada masa kanak-kanak. Ada 2 sikap yang tidak menguntungkan untuk perkembangan emosi. Sikap tersebut adalah overprotection, otoriter, dan memberikan kebebasan. Ketiga sikap tersebut sebenarnya sebagai manipestasi sikap menolak, atau kekecewaan terhadap anaknya yang cacat.
Reiss, et.al., (1977) mengatakan pada anak tunagrahita sering mengalami gangguan emosi dan masalah-masalah perkembangan emosi sehubungan dengan kemampuan yang rendah. Perilaku emosi yang dinampakkan seperti agresif. Baik verbal maupun performance, marah (kadang meledak-ledak), withdrawl, takut, cemas, dingin, infulsif, lancang dan merusak. Selanjutnya dikatakan oleh Reiss, bahwa hubungan antara subnormalita mental dan gangguan emosi itu sangat kompleks, sebab maslah emosi ini juga disebabkan oleh faktor-faktor yang lain.
Reiss, et.al., (1977), Prieda Mangunsong, Dkk, (1998) mengatakan motivasi anak tunagrahita inferior, terutama pada tugas-tugas yang memerlukan aspek interelegensi. Pada anbak anak tunagrahita mempunyai ketahanan memperhatikan lebih pendek di bandingkan dengan anak normal. Di laporkan anak tunagrahita, mempunyai harapan-harapan untuk dapat menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya, tetapi sering kali mengalami kegagalan, sehingga ia menjadi takut untuk mencoba. Pikiran yang ada padanya selalu tidak bisa mengerjakannya, kegagalan, ada dorongan untuk minta bantuan. Pikiran-pikiran akan kegagalan ini menjadikan self-fulfilling prophecy yang akan mempimpin dan mengarahkan pada kegagalan-kegagalan selanjutnya dalam waktu lama, sehingga menjadikan anak tunagrahita tidak pernah mau mencoba.
Sutjihati Somantri (2004) mengatakan bahwa lingkungan yang positif, akan menjadikan berkembangnya emosi-emosi yang positif pada anak tunagrahita. Emosi-emosi yang positif itu seperti cinta, girang dan simpatik. Emosi-emosi ini terjadi pada lingkungan yang lebih bersifat kongkrit, terutama pada anak tunagrahita yang masih muda.
Reiss, et.al.,(1977), Drew et.al., (1986) berpendapat bahwa anak tunagrahita sering di tolak oleh sekelompok anak-anak yang normal, akibatnya anak jadi frustasi, marah dan memberontak atau menentang. Perkembangan akademik anak tunagrahita mengalami hambatan, kemampuan membaca, mendengar, menghitung dan kemampuan berpikir logis ada dibawah anak-anak normal. Keterbatasan intelegensinya menyebabkan anak tunagrahita sering tidak selesai mengerjakan tugas.
Perkembangan emosi anak tunagrahita lebih lambat dibandingkan anak normal. Anak tunagrahita sering menunjukkan perilaku influsif, adanya gangguan emosi seperti agresif dan withdrawl.
Ada 2 teori yang dapat digunakan untuk menerangkan keperibadian anak tunagrahita. Teori-teori tersebut dapat dijelaskan sebagai berikikut:
a. Teori sifat
Beirne-Smith et.al,. (1986) menerangkan bahwa, pada teori sifat ini keperibadian manusia dibagi menjadi 5 aspek, yaitu (1) keperibadian yang neurotic (kecemasan dan perasaan tidak aman), (2) ekstraversion (kemampuan sosial), (3) Agreeableness (ramah, kepercayaan dan kerjasama), (4) Opennsess (ketebukaan, kemandirian, imajinasi dan bermacam-macam kemauan), (5)Conscientiouness ( organisasi, kehati-hatian dan disiplin diri).
b.Teori keperibadian Zigler’s
mZigler’s (dalam Beirne-smith, 2002) mengemukakan bahwa struktur keperibadian atau pola perilaku anak tunagrahita pada umumnya sama. Ada 5 ciri yang di identifikasi sebagai keperibadian anak tunagrahita yaitu (1) harapan untuk sukses rendah, (2) takut gagal, (3) selalu ingin dipuji, kebutuhan untuk selalu mendapatkan reinforcement, (4) cenderung mengikuti perintah orang lain, (5) sangat tergantung orang lain.
smoga bermanfraat.
Indah maryana.
sumber : internet