Keberhasilan menembus batas fisik selalu berawal dari ketangguhan mental dalam jiwa. Prinsip inilah yang membawa Sersan Dua Dandanayaka Bambang Prawira (alumni asal Jakarta Timur) mencapai impiannya. Lulusan Pesantren Darunnajah 2 Cipining tahun 2025 ini resmi dilantik menjadi prajurit Kopassus. Peristiwa ini mencerminkan semangat santri menjaga kedaulatan negara.
Pada kunjungan silaturahminya, Senin, 4 Mei 2026, Dandana membagikan kisah inspiratif kepada adik kelas secara spontan. Wakil Pengasuh, Ustadz Musthafa Zahir, berharap momen ini memotivasi para santri. “Berikan santri motivasi untuk kedepannya, biar banyak penerus menjadi seperti kami,” ujarnya.

Perjalanan Dandana meraih baret merah menuntut pengorbanan besar yang sering luput dari pandangan masyarakat umum. Selain merelakan momen wisuda kelulusan, ia juga harus melewati proses seleksi militer yang sangat ketat. Orang biasanya terpaku pada hasil akhir gemilang tanpa memahami peluh perjuangannya.
Sebelum bergabung dalam pendidikan komando, ia berhasil membuktikan ketahanan fisiknya secara terukur. Pemuda tangguh ini sanggup berlari sejauh 3.010 meter hanya dalam waktu dua belas menit. Catatan statistik ini menjadi syarat mutlak untuk mengikuti pelatihan lanjutan di Batujajar.
Selama lima bulan masa pendidikan komando, ia harus menaklukkan berbagai rintangan ekstrem. Rangkaian ujian fisik dan mental tersebut terbagi ke dalam beberapa fase krusial:
- Tahap basis mencakup latihan menembak dan berenang dua kilometer
- Tahap hutan gunung dengan rappeling di Situ Lembang
- Long march sejauh 300 kilometer dari Bandung menuju Cilacap
- Tahap rawa laut dan operasi khusus di wilayah Nusa Kambangan
Puncak dari segala kelelahan tersebut terbayar lunas pada akhir bulan April. Tepat pada tanggal 27 April 2026, ia resmi dilantik di Lapas Perpisahan Nusa Kambangan. Upacara sakral ini dipimpin langsung oleh Letnan Jenderal Djon Afriandi selaku Panglima Kopassus.
Tantangan alam yang ekstrim ternyata terasa lebih ringan berkat rutinitas keagamaannya dahulu. Kedisiplinan hidup berasrama membentuk karakter kemandirian yang mengakar sangat kuat. Hampir sembilan puluh persen nilai kehidupan militer memiliki kesamaan dengan rutinitas harian Pesantren.
Di medan latihan, ia kerap berdiskusi dengan rekan seperjuangan dari berbagai lembaga pendidikan Islam. Ia menemukan fakta bahwa lulusan institusi agama memiliki ketahanan mental serupa. Kakak kelasnya yang bernama Fauzan pun telah lebih dahulu berkarier sebagai tentara.

Pengawas Pesantren, Ustaz Atijan Yani, menegaskan bahwa profesi militer merupakan jalan mulia. Menjadi tentara adalah kesempatan emas menyebarluaskan nilai kebaikan sebagai media dakwah. Berdasarkan catatan wawancara lapangan ini, mari kita persiapkan mental generasi muda demi bangsa.
