Gadis itu masih termenung dimeja dalam kelas. Matanya menatap lapangan kering yang bertanah merah dari jendela kelas yang tak berkaca. Tangannya menopang dagunya yang lancip. Wajahnya yang manis disimpan dalam dibalik kesedihan yang begitu membebani kening jidatnya yang tertutupi kain kerudung menghiasi mahkota terindahnya. Kain putih segitiga itu membungkus kepalanya. warna putih dengan paduan kemeja batik warna biru dengan ornament khas pekalongan yang membungkus badannya menambah keanggunan dan kecantikan gadis santri Nurul Ilmi.
Gadis itu bertubuh kecil, tidak terlalu tinggi selayaknya gadis Indonesia kebanyakan, kulitnya kuning langsat halus, wajahnya tidak lonjong atau berbentuk segi tiga, melainkan bulat agak oval, bibir tipis manis, matanya sayu memandangi kertas dari bagian note book yang menjadi curahan hatinya. Tulisan itu sepertinya memiliki makna bagi gadis yang bernama Fujiani.
Kertas itu bertuliskan “kedengkian akan menyelimuti orang yang selalu iri dengan kenikmatan yang diberikan, janganlah bersedih dengan mereka. Jika mereka iri dengan dirimu, itu berarti mereka memandang dirimu penting. Manusia tidak akan menendang bangkai anjing. Manusia akan menghindar dari sesuatu yang memuakkan mata. Sebaliknya manusia akan selalu memperbincangkan yang menjadi perhatian pikirannya. Jika mereka menyibukkan dirinya terhadap apa yang mereka lihat, berbahagialah kamu jika difikirkannya. Berarti anda dalam perhatian dan kasih sayangnya. Anda memilki nilai besar bagi dirinya. Jika mereka tak membicarakan dirimu itu akan menjadi pertanyaan besar, berarti anda dan bangkai anjing tak jauh beda.” Tulisan itu ditulis dengan tinta merah berbingkai ornament batik yang melingkar diantara ujung kertas, Fujiani berfikir dikelingkan matanya kearah kanan atas bentuk dia berfikir keras. Kerlingan matanya ke kiri dengan mengingat-ingat memori yang ada dalam benaknya, fujiani ingin menemukan makna dari sebuah tulisan yang ada di note booknya.
Tak lama setelah memandangi tulisan tersebut, teman rekan kerja dikantornya menyapa Fujiani. “biasa aja dong matanya, ga usah pakai keatas ke bawah kaya penari Bali…” cepat bagai sergapan maut, tangannya mengarah ke gelas berisi air di samping Fujiani, Dewi menyambar dan meneguk air bagai kehausan ditengah padang pasir. Dewi adalah teman sekamar Fujiani di Nurul Ilmi yang selalu menjadi teman curhat. Wajah Dewi tak kalah cantiknya dengan Fujiani, pipinya lesung menawan mata untuk meliriknya. Tetapi badannya lebih besar dari Fujiani. Dewi mengambil tempat duduk disamping Fujiani selepas meneguk air, matanya mengikuti arah Fujiani memandang lapangan. “ada apa sih lo…? ga biasanya murung seperti itu? Tanya Dewi ke Fujiani yang masih dalam raut kesedihan. Kesedihanya sangat tampak dari raut mukanya dengan melipat beberapa kulit di keningnya.
“hidup itu perjuangan yang melelahkan bagi yang cepat putus asa” Fujiani menoleh ke kanan memandangi Dewi yang asik memandanginnya dengan tatapan tajam seakan ingin menyakinkan perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya.
“maksud lo apaan sih? Saya ga ngerti… aneh lo itu… sok-sok bijak gitu, ga biasanya lo begitu. Habis kemasukan petuah Kyai Fajar ya..” Dewi keheranan dengan kata-kata Fujiani yang seakan tak percaya dengan kata perjuangan dan putus asa. Mulutnya monyong, jidatnya dilipat dengan garis-garis, kepalanya dimiringkan seperti orang yang melewati tikungan dengan kencang. Tangannya mengusap pundak Fujiani dengan pelan.
“aku itu terheran-heran wi, sama temen-temen yang ada di asrama Aisyah kamar 207, mereka selalu membicarakan teman-teman kamar kita ini.”
“wah… itu dah biasa kali…. Emang mereka selalu menjadi pengamat gratis bagi kita dan kamar ini.” Dewi menimpali perkataan Fujiani yang tampak kesal.
“itulah yang menjadikan aku sedih Wi, makanya untuk menyemangati diri ini, aku membaca motivasi ini yang tertulis di note bookku.” Telunjuk Fujiani mengarak ketulisan yang barusan dia baca
Tak berselang lama, Dewi berucap “Dari kalimat ini aku pahami bahwa mereka tak akan membicarakan kita, jika kita tidak berharga bagi dirinya. Ketahuilah bahwa, Manusia tidak akan menendang bangkai anjing. Artinya jika mereka membicarakan kita, berarti kita bukan bangkai anjing, tapi kalo kita tidak jadi topic pembicaraannya, apalah bedanya kita dengan bangkai anjing?, udah yuk…mandi dah sore nanti terlambat ke masjid” Dewi beranjak berdiri dengan menggeser kursi yang ia duduki ke arah belakang.
“ ayo… tuh bagian keamanan dah stand by di depan labcom ngobrak-ngabrik yang lagi main face book” Fujiani berkemas meninggalkan kelas yang tak berkaca.
Mereka pun bergandengan menuju kamar mandi untuk ambil tiket ngantri.
