Ittibā': Wujud Nyata Cinta kepada Nabi Ittibā': Wujud Nyata Cinta kepada Nabi

Ittibā’: Wujud Nyata Cinta kepada Nabi

Pendahuluan

Setiap kali Rabiul Awal tiba, gema shalawat, pembacaan sirah, dan berbagai kegiatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ kembali menghidupkan masjid-masjid, majelis taklim, dan rumah-rumah kaum Muslimin. Di berbagai tempat, peringatan Maulid hadir dalam beragam bentuk, sesuai dengan sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat.

Keragaman tersebut menunjukkan luasnya ekspresi kecintaan umat kepada Rasulullah ﷺ. Namun, di balik berbagai bentuk peringatan itu, ada satu hal yang lebih penting untuk kita renungkan: sudahkah kecintaan kepada Nabi ﷺ benar-benar mendorong kita untuk mengikuti dan meneladani beliau? Sebab, cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak semestinya berhenti pada pujian dan peringatan, tetapi perlu diwujudkan dalam ittibā’, yaitu mengikuti petunjuk dan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Maulid: Keragaman Tradisi dan Wajah Kecintaan Umat

Di Nusantara, wajah peringatan Maulid begitu beragam dan masing-masing berakar pada kearifan lokal masyarakat setempat. Di Yogyakarta dan Surakarta, tradisi Sekaten dan Grebeg Maulid digelar dengan arak-arakan gunungan hasil bumi dari keraton menuju masjid agung untuk didoakan, kemudian dibagikan kepada masyarakat. Di Banyuwangi, masyarakat Using menggelar endog-endogan—telur rebus yang dihias dengan kembang kertas, ditancapkan pada batang pisang, lalu diarak keliling kampung sembari melantunkan shalawat dan syair Barzanji. Tradisi ini bahkan disebut telah ada sejak akhir abad ke-18.

Keragaman bentuk tersebut juga tampak dalam berbagai tradisi lainnya. Di Desa Loram Kulon dan Loram Wetan, Kudus, warga merayakannya melalui Ampyang Maulid—nasi kepal yang dibungkus daun jati dan disusun menjadi gunungan, kemudian diarak, didoakan, dan dibagikan kepada masyarakat. Masyarakat Kaliwungu, Kendal, memiliki tradisi weh-wehan, yakni saling berbagi makanan khas seperti sumpil dan jenang sarang antartetangga sebagai sarana mempererat silaturahmi. Di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, masyarakat Minangkabau merayakannya melalui bungo lado—pohon hias yang bagian menyerupai daunnya dirangkai dari lembaran uang kertas untuk dikumpulkan sebagai sumbangan bagi pembangunan dan pemeliharaan masjid (Mutia Shandy dkk., 2023). Rangkaian perayaan Maulid di daerah ini juga dikenal dengan Dikie Maulid, yang di dalamnya terdapat tradisi badikia, yaitu pembacaan pujipujian dan shalawat serta kisah kehidupan Nabi ﷺ, mulai dari kelahiran hingga wafat beliau (Suryanti, 2012; Daud, 2024). Tradisi badikia biasanya dilaksanakan pada malam hari setelah salat Isya dan dapat berlangsung hingga menjelang Subuh (Ernawita, 2025). Sementara itu, masyarakat Aceh menyambut Maulid dengan memasak kuah beulangong, yakni gulai daging kambing atau sapi yang dipadukan dengan nangka muda dan dimasak bersama dalam kuali besar, kemudian dibagikan kepada masyarakat dan anak yatim. Di Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar memiliki tradisi Baayun Maulid, yakni mengayun bayi atau anak dalam ayunan yang dihias sembari diiringi pembacaan syair Maulid, Al-Qur’an, shalawat, dan doa. Tradisi ini merupakan bentuk akulturasi antara tradisi lokal mengayun anak dengan nilai-nilai Islam dan kemudian berkembang menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi ﷺ.

Keragaman itu juga terlihat di berbagai negara. Di Malaysia, Maulidur Rasul dirayakan melalui berbagai kegiatan keagamaan, antara lain pawai dan lantunan selawat. Di Mesir, yang dalam sejumlah kajian sejarah dikaitkan dengan perkembangan awal peringatan Maulid pada masa Dinasti Fathimiyah, masyarakat hingga kini masih menghidupkan berbagai kegiatan untuk memperingati kelahiran Nabi ﷺ. Di Turki, peringatan yang dikenal sebagai Mevlid Kandili diisi antara lain dengan pembacaan Mevlid-i Şerif, syair masyhur yang mengisahkan kelahiran dan kehidupan Nabi ﷺ. Di anak benua India—Pakistan, India, dan Bangladesh—perayaan Eid Milad-unNabi ditandai dengan prosesi akbar yang disebut juloos, ketika masyarakat turun ke jalan sembari mengibarkan bendera dan melantunkan na’at, yaitu puisi pujian kepada Nabi ﷺ. Di Pakistan, peringatan Eid Milad-un-Nabi juga diwarnai upacara kenegaraan berupa tembakan penghormatan seremonial (gun salute), sebanyak 31 kali di ibu kota federal dan 21 kali di setiap ibu kota provinsi. Di kota Sale , Maroko, peringatan Maulid juga diwarnai tradisi Moussem of the Candles, berupa arakarakan menara-menara lilin besar yang dihias menuju makam seorang wali setempat. Tradisi tersebut menurut riwayat setempat terinspirasi dari prosesi yang pernah disaksikan di Istanbul pada masa silam.

Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi ﷺ di berbagai tempat tidak hadir dalam satu bentuk yang seragam. Ia dapat diwujudkan melalui pembacaan sirah dan syair, lantunan shalawat, pawai dan arak-arakan, berbagi makanan, sedekah, gotong royong, hingga berbagai bentuk tradisi lokal yang berkembang dalam masyarakat. Keragaman tersebut menunjukkan bagaimana momentum peringatan Maulid berinteraksi dengan sejarah dan kebudayaan masyarakat Muslim di berbagai tempat.

Dari Perayaan Menuju Keteladanan

Keragaman moda perayaan ini menunjukkan betapa luas dan mendalamnya kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad ﷺ, melintasi batas geografis dan budaya—sekaligus mengingatkan bahwa perbedaan cara pandang mengenai bentuk perayaan ini sendiri (termasuk perdebatan fikih seputar hukumnya) telah lama ada di kalangan ulama. Namun di balik semarak arak-arakan dan pawai tersebut, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama, terlepas dari perbedaan pandangan itu: sudahkah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad ﷺ berbuah pada upaya sungguhsungguh untuk meneladaninya?

Allah SWT sendiri menegaskan kedudukan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam surah AlAhzab ayat 21:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Keteladanan tersebut tidak dapat dipisahkan dari kecintaan kepada beliau. Dalam surah Ali ‘Imran ayat 31, Allah Ta’ala mengaitkan kecintaan kepada-Nya dengan kesediaan mengikuti Rasulullah ﷺ:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.’” (QS. Ali Imran: 31)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa cinta yang benar tidak berhenti pada rasa kagum dan ungkapan lisan, tetapi melahirkan ittibā’—kesediaan untuk mengikuti Rasulullah ﷺ. Karena itu, momentum Maulid semestinya tidak hanya menghidupkan rasa cinta kepada beliau, tetapi juga menggerakkan kita untuk semakin mengenal kehidupan, akhlak, petunjuk, dan keteladanan beliau, agar cinta tersebut benar-benar menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.

Khazanah Keteladanan Rasulullah ﷺ

Para ulama menghimpun khazanah keteladanan Rasulullah ﷺ ini dalam berbagai kitab induk: Asy-Syāmail al-Muhammadiyyah karya At-Tirmidzi (1408 H/1988 M) yang merekam potret pribadi beliau; Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam al-Insān al-Kāmil karya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani (1428 H/2007 M) yang menguraikan kesempurnaan pribadi, akhlak, keistimewaan, dan keteladanan Rasulullah ﷺ; Akhlāq an-Nabi wa Ādābuh karya Abu asy-Syaikh alAshbahani (1419 H/1998 M) yang menghimpun budi pekerti beliau berikut analisis sanadnya; Asy-Syifā bi Ta’rīf Huqūq al-Musthafā karya Al-Qadhi ‘Iyadh (1425 H/2004 M) yang menguraikan hak-hak Nabi ﷺ; Zād al-Ma’ād fi Hadyi Khair al-‘Ibād karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah yang menghimpun petunjuk hidup beliau sehari-hari; Dalā’il an-Nubuwwah wa Ma’rifah Ahwal Shahib asy-Syari’ah karya Al-Baihaqi (1405 H/1985 M) yang membuktikan kebenaran risalahnya; serta Al-Khasā’is al-Kubrā karya As-Suyuthi yang menghimpun keistimewaan-keistimewaan beliau.

Muhammad ﷺ al-Insān al-Kāmil: Mengenal Kesempurnaan Nabi

Setelah menjelaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus melahirkan ittibā’, kita perlu terlebih dahulu mengenal sosok yang hendak kita teladani. Salah satu karya kontemporer yang secara khusus menguraikan keluhuran dan kesempurnaan pribadi Rasulullah ﷺ adalah Muhammad ﷺ al-Insān al-Kāmil karya As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani (1364) 1425 H/1944–2004 M), ulama Makkah yang dikenal luas melalui karya-karyanya tentang sirah, keutamaan, dan kecintaan kepada Nabi ﷺ. Sebagaimana tergambar dari judulnya, kitab ini menguraikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai alinsān al-kāmil—manusia yang mencapai kesempurnaan dalam kapasitas kemanusiaannya karena dipilih, disucikan, dan dianugerahi Allah berbagai keutamaan lahir maupun batin. Pembahasannya mencakup kesempurnaan fisik dan rupa (al-kamāl al-khalqī), kesempurnaan akhlak (al-kamāl al-khuluqī), keteladanan beliau dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan, kedalaman spiritual dan ibadah (al-kamāl al-rūhī wa al-`ibādī), serta berbagai kekhususan dan mukjizat kenabian. اإلنسان الكاملالكامل يف كل شيء من الصفات احلسية واملعنوية املنزه عن كل عيب أو نقص ”Yang sempurna dalam segala hal, baik dalam sifat-sifat indrawi maupun maknawi, serta terbebas dari segala aib atau kekurangan” (Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani) Kerangka tersebut memperlihatkan bahwa mengenal Nabi ﷺ tidak cukup hanya dengan mengetahui sejarah kelahiran dan perjalanan dakwah beliau. Semakin seseorang mengenal keindahan akhlak, kesempurnaan pribadi, keteladanan hidup, dan keistimewaan beliau, semakin terbuka jalan bagi tumbuhnya mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ. Dan cinta yang benar tidak berhenti pada kekaguman; ia semestinya mendorong seseorang untuk mengikuti dan meneladani beliau. Di sinilah hubungan antara mahabbah dan ittibā’ menjadi semakin jelas. Berikut enam pelajaran penting yang dapat kita renungkan dari khazanah tersebut sebagai bahan muhasabah di momen Maulid.

1. Menumbuhkan Cinta dan Kerinduan melalui Kesempurnaan Fisik dan Karakter
Salah satu hal yang dihimpun dalam kitab Asy-Syamāil adalah gambaran fisik Rasulullah ﷺ. Sahabat Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menuturkan: “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih tampan mengenakan pakaian merah daripada Rasulullah ﷺ; rambutnya terurai hingga hampir menyentuh bahunya.” (At-Tirmidzi, 1408 H/1988 M, hlm. 46, hadis no. 62)

Kekaguman semacam ini bukan dimaksudkan untuk menimbulkan kultus fisik, melainkan menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa keelokan fisik Rasulullah ﷺ selaras dengan keindahan batinnya. Keindahan batin itu paling nyata terlihat dari akhlaknya. Diriwayatkan bahwa Sa’d bin Hisyam pernah bertanya kepada Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang budi pekerti (khuluq) Rasulullah ﷺ, dan beliau menjawab: “Khuluq Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur’an.” (Abu asySyaikh al-Ashbahani, 1419 H/1998 M, hlm. 90, hadis no. 8). Riwayat ini juga ditemukan jalur sanadnya oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, yang menilainya sahih sesuai kriteria Syaikhain (Bukhari-Muslim) meski keduanya tidak meriwayatkannya, dan penilaian ini disetujui oleh AdzDzahabi. Setiap perintah dan larangan dalam Al-Qur’an senantiasa beliau amalkan, bukan sekadar dihafal atau diperdengarkan.

Mengenal keelokan fisik dan budi pekerti ini berfungsi menghidupkan rasa rindu mendalam (mahabbah) serta kedekatan batin antara umat dan nabinya. Di sinilah pesan mendasar Maulid: mencintai Nabi ﷺ berarti berusaha menghidupkan akhlaknya dalam interaksi kita sehari-hari, dengan keluarga, tetangga, maupun sesama.

2. Menunaikan Hak-Hak Nabi ﷺ : Memuliakan dan Menjaga Kemurnian Ajaran Kitab Asy-Syifā bi Ta’rīf Huqūq al-Musthafā karya Al-Qadhi ‘Iyadh (1425 H/2004 M) menyusun pembahasannya ke dalam tiga bagian besar. Bagian kedua kitab ini secara khusus membahas hak-hak yang wajib ditunaikan manusia terhadap Rasulullah ﷺ, dan bab pertamanya— memuat lima pasal—berbicara tentang wajibnya iman kepada beliau serta wajibnya taat dan ittibā’ pada sunnahnya (Al-Qadhi ‘Iyadh, 1425 H/2004 M, hlm. 10). Ini menunjukkan bahwa ittibā’ bukan sekadar anjuran tambahan dalam pandangan ulama klasik, melainkan tercatat eksplisit sebagai salah satu hak Nabi ﷺ yang wajib ditunaikan umatnya, sejajar dengan kewajiban mencintai, menasihati, mengagungkan, dan bershalawat kepada beliau.

Namun pengagungan ini harus berjalan selaras dengan ketawadukan beliau sendiri yang menolak pengkultusan melampaui batas syariat. Dalam pasal yang secara khusus membahas ketawadukan Rasulullah ﷺ, Al-Qadhi ‘Iyadh mencatat riwayat dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihlebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan utusan-Nya.” (Al-Qadhi ‘Iyadh, 1425 H/2004 M, hlm. 85, Pasal 19: “Tawādu’uhu )”ﷺ

Pada halaman yang sama, tergambar pula betapa nyatanya ketawadukan itu dalam keseharian beliau. Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para sahabatnya, “Janganlah kalian berdiri menghormatiku sebagaimana orang-orang ‘Ajam berdiri saling mengagungkan satu sama lain,” dan menegaskan, “Aku hanyalah seorang hamba; aku makan sebagaimana hamba makan, dan aku duduk sebagaimana hamba duduk.” Beliau pun biasa menaiki keledai tanpa pelana, menerima undangan seorang budak yang menghidangkan roti gandum dengan lauk seadanya, dan duduk berbaur di antara para sahabatnya tanpa membedakan tempat duduk. Lebih jauh, di rumahnya sendiri Rasulullah ﷺ menambal pakaiannya, memerah kambingnya, menambal sandalnya, melayani dirinya sendiri, menyapu rumah, mengikat untanya, memberi makan tunggangannya, makan bersama pelayannya, menguleni adonan, bahkan membawa sendiri barang belanjaannya dari pasar (Al-Qadhi ‘Iyadh, 1425 H/2004 M, hlm. 85–86).

Larangan berlebihan memuji ini lahir dari kekhawatiran beliau bahwa umatnya akan tergelincir sebagaimana umat-umat terdahulu yang berlebihan memuliakan nabi mereka hingga jatuh pada penyimpangan akidah. Di titik inilah letak keseimbangan yang mesti dijaga: menunaikan hak Nabi ﷺ berupa penghormatan dan shalawat, tanpa jatuh pada sikap ghuluw (berlebihan) yang justru dilarang oleh beliau sendiri.

3. Mengamalkan Petunjuk Hidup Sehari-hari (Al-Hadyu an-Nabawi)
Keteladanan kepada Nabi ﷺ tidak terbatas pada aspek seremonial atau ibadah ritual semata, tetapi mencakup seluruh pola hidup. Dalam ranah ibadah, Rasulullah ﷺ konsisten menjalankan shalat malam, dzikir, dan khusyuk bermunajat kepada Allah. Dalam keseharian, kitab Asy-Syamāil dan Zād al-Ma’ād fi Hadyi Khair al-‘Ibād karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menguraikan hingga ke perkara-perkara kecil: cara Rasulullah ﷺ berjalan, berbicara, bergurau, pola makan, adab tidur, kebersihan diri, hingga cara beliau berobat ketika sakit. Dalam ranah muamalah dan sosial, sebagaimana telah disinggung di muka, beliau dikenal lemah lembut dan tidak segan melayani kebutuhannya sendiri maupun keluarganya.

Cakupan yang menyeluruh ini menegaskan bahwa keteladanan kepada Nabi ﷺ harus merambah ke seluruh sendi kehidupan, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala pada surah Al-Ahzab ayat 21 yang telah disebutkan di muka. Di sinilah letak makna ittibā’ yang sesungguhnya: mengikuti jejak Rasulullah ﷺ secara utuh, bukan memilah-milah bagian mana yang ingin diteladani dan mana yang diabaikan.

Namun perlu digarisbawahi, ittibā’ bukanlah meniru bentuk luar secara harfiah tanpa memahami maksudnya. Mengenakan jubah dan sorban semata demi merasa “sesuai sunnah”, misalnya, tidak banyak bermakna jika tidak diiringi pemahaman atas ruh di balik setiap laku Rasulullah ﷺ—yakni kesederhanaan, kerendahan hati, dan kepedulian kepada sesama. Ittibā’ yang benar adalah menangkap semangat itu, lalu menerjemahkannya sesuai konteks zaman kita hari ini.

4. Memperkokoh Keyakinan Iman Melalui Bukti Kenabian
Selain menjadi teladan akhlak, mengenal Rasulullah ﷺ juga berfungsi memperkokoh keyakinan iman. Kitab Dalā’il an-Nubuwwah wa Ma’rifah Ahwāl Shāhib asy-Syarī’ah karya Imam Al-Baihaqi (1405 H/1985 M) menghimpun tanda-tanda kebenaran risalah beliau. Kitab ini bahkan menyediakan rangkaian bab tersendiri yang secara khusus membahas kelahiran Nabi ﷺ mencakup tanda-tanda yang menyertainya, seperti goncangnya serambi istana Kisra di Persia, mimpi sang pendeta Majusi (Al-Mubadzan), dan padamnya api-api sesembahan Majusi pada malam kelahiran beliau (Al-Baihaqi, 1405 H/1985 M, Juz 1, hlm. 126).

Selain tanda-tanda semacam itu, kitab ini juga menghimpun mukjizat hissi (indrawi) yang disaksikan langsung oleh para sahabat. Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan riwayat berikut, yang juga terekam dalam kitab Dalā’il an-Nubuwwah karya Qiwam as-Sunnah al-Asbahani, seorang ulama hadis dari abad ke-5 Hijriah yang menulis kitab dengan judul serupa:
“Kami pernah makan bersama Nabi ﷺ dan kami mendengar tasbih makanan itu [ketika sedang dimakan]!”
“Nabi ﷺ pernah dibawakan sebuah bejana berisi air, lalu beliau meletakkan tangannya ke dalamnya, maka air itu memancar dari sela-sela jarinya. Nabi ﷺ pun bersabda: ‘Marilah menuju bersuci yang diberkahi, dan keberkahan itu dari langit.'” (Qiwam as-Sunnah al-Asbahani, Juz 1, hlm. 274, Pasal 4)

Mengetahui bukti-bukti kenabian semacam ini bukan sekadar pengetahuan sejarah, melainkan berfungsi mempertebal akidah dan keyakinan bahwa ajaran Islam yang dibawa Rasulullah ﷺ adalah petunjuk mutlak dari Allah Ta’ala, bukan buah pikiran manusia semata. Keyakinan inilah yang pada gilirannya melahirkan kesungguhan untuk mengikuti tuntunannya secara total.

5. Menghayati Keistimewaan Beliau sebagai Rahmat bagi Alam Semesta
Semua keteladanan dan bukti kenabian itu pada akhirnya bermuara pada satu keyakinan agung: kehadiran Nabi Muhammad ﷺ adalah rahmat bagi semesta alam. As-Suyuthi dalam AlKhasā’is al-Kubrā menghimpun riwayat-riwayat seputar kekhususan Nabi ﷺ, termasuk kedudukannya sebagai Khātam an-Nabiyyīn (penutup para nabi) yang telah tertulis jauh sebelum penciptaannya. Perlu dicatat, sebagian riwayat yang dihimpun As-Suyuthi dalam kitab ini dinilai lemah atau bahkan tidak berdasar oleh sebagian ulama hadis; namun kedudukan Nabi ﷺ sebagai Khātam an-Nabiyyīn, pemegang Maqām Mahmud (kedudukan terpuji di sisi Allah), dan pemberi syafaat terbesar (Asy-Syafa’ah al-‘Uzhma) bagi umatnya kelak di hari kiamat, telah ditegaskan secara qath’i dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih yang mutawatir.

Menyadari kedudukan agung ini semestinya menumbuhkan kerinduan sekaligus tanggung jawab. Kelahiran beliau adalah rahmat terbesar yang patut disyukuri oleh setiap mukmin—namun rasa syukur itu tidak boleh berhenti pada kekaguman semata. Mencintai Nabi ﷺ bukan cukup dengan mengagumi keistimewaannya, tetapi juga berusaha meneladani jejaknya.

6. Mewujudkan Syukur Kelahiran dengan Amal Nyata
Menariknya, Rasulullah ﷺ sendiri pernah memberi teladan bagaimana semestinya menyikapi hari kelahirannya. Sahabat Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ ditanya perihal kebiasaannya berpuasa setiap hari Senin, beliau menjawab: “Itu adalah hari ketika aku dilahirkan dan hari ketika wahyu pertama diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim) Rasulullah ﷺ memilih menyambut hari kelahirannya dengan puasa dan ketaatan, bukan dengan perayaan yang berlebih-lebihan. Peringatan Maulid, jika demikian, pada hakikatnya adalah momentum menghidupkan kembali ketaatan, sedekah, pembacaan shalawat, dan konsistensi dalam mengamalkan sunnah-sunnah beliau—sejalan dengan cara Nabi ﷺ sendiri mensyukuri kelahirannya.

Penutup: Ittibā’ sebagai Syarat, Bukan Pelengkap

Para ulama mengingatkan bahwa ittibā’ bukan sekadar pelengkap spiritual, melainkan salah satu syarat diterimanya amal di sisi Allah—sebagaimana tercermin dari struktur kitab Asy-Syifa yang menempatkan kewajiban ittibā’ sejajar dengan kewajiban iman itu sendiri. Sebuah amal baru bernilai ibadah yang diterima apabila memenuhi dua syarat sekaligus: dilakukan dengan ikhlas karena Allah, dan sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya. Karena itu, semangat mengikuti Nabi ﷺ semestinya hadir dalam hal-hal yang tampak sederhana dalam keseharian kita: bagaimana merespons kritik dengan lapang dada, bagaimana menjaga lisan ketika bermedia sosial, atau kesediaan turun tangan membantu pekerjaan rumah tanpa gengsi—persis sebagaimana Rasulullah ﷺ yang tidak segan menambal sandalnya sendiri dan membawa belanjaannya dari pasar.

Maulid, dengan demikian, semestinya menjadi momentum introspeksi: apakah kecintaan kita kepada Nabi ﷺ sudah terwujud dalam sikap sehari-hari, ataukah masih berhenti pada seremoni dan pujian lisan? Karena itu, salah satu ikhtiar yang perlu kita hidupkan adalah kembali mendekat kepada sosok Rasulullah ﷺ melalui khazanah yang diwariskan para ulama: membaca sirah beliau, mengkaji syamā’il dan akhlaknya, mengenali keutamaan dan keistimewaannya, serta menyelami berbagai sisi kehidupan beliau sebagai manusia, hamba Allah, pendidik, pemimpin, dan teladan umat. Semakin kita mengenal beliau, semestinya semakin tumbuh kecintaan; dan semakin dalam kecintaan itu, semakin kuat dorongan untuk mengikuti jejaknya. Semoga peringatan Maulid Nabi tahun ini bukan sekadar perayaan yang berlalu begitu saja, melainkan menjadi titik tolak bagi kita untuk semakin dekat dengan sunnah dan akhlak Rasulullah ﷺ—dalam kesederhanaan, kerendahan hati, ibadah, dan pergaulan sehari-hari. Ittibā’ bukanlah pencapaian yang selesai dalam semalam usai Maulid berlalu, melainkan perjalanan panjang yang perlu terus dirawat dan diperbarui setiap hari. Sebab, sebaik-baik bentuk kecintaan kepada beliau adalah dengan mengikuti jejaknya, bukan sekadar mengagumi kisahnya. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammadin, wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Daftar Pustaka

Abu asy-Syaikh al-Ashbahani, A. M. (1419 H/1998 M). Akhlāq an-Nabi wa ādābuh (S. M. alWunais/al-Wuniyyan, Tahqiq). Maktabah ar-Rusyd/Dar al-Muslim.
Al-Baihaqi, A. A. (1405 H/1985 M). Dalā’il an-nubuwwah wa ma’rifah ahwāl shāhib asy-syarī’ah (A. M. Qal’aji, Tahqiq). Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Maliki al-Hasani, S. M. b. ‘A. (1428 H/2007 M). Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam al-Insān al-Kāmil. Syarikat Abna’ Syarif al-Anshari.
Al-Qadhi ‘Iyadh, A. F. I. (1425 H/2004 M). Asy-Syifā bi ta’rīf huqūq al-Musthafā (A. al-Jazzar, Tahqiq). Dar al-Hadits.
As-Suyuthi, J. A. (1423 H/2002 M). Al-Khasā’is al-kubrā (Kifāyat ath-thālib al-labīb fi khasā’is alhabīb). Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
At-Tirmidzi, A. I. M. (1408 H/1988 M). Asy-Syamāil al-Muhammadiyyah (M. A. az-Zu’bi, Tahqiq). Dar al-Hadits/Dar Ihya at-Turats al-Arabi.
Daud, Hathwarman M. (2024, 24 April). Tradisi Badikia di Sumatera Barat. RRI.
Ernawita. (2025, 7 November). Badikia, Tradisi Unik Masyarakat Padang Pariaman. RRI.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, S. M. (1418 H/1998 M). Zād al-ma’ād fi hadyi khair al-‘ibād (S. alArna’uth & A. Q. al-Arna’uth, Tahqiq). Mu’assasah ar-Risalah.
Mutia Shandy, R., Dewi, S. F., Montessori, M., & S, N. (2023). Makna tradisi bungo lado dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Journal of Education, Cultural and Politics.
Qiwam as-Sunnah al-Asbahani, I. M. Bin M. (w. 535 H). Dalā’il an-nubuwwah (M. S. ar-Rasyid alHumaid, Tahqiq; Jami’ah Islamiyyah al-Madinah al-Munawwarah, 1409 H).
Suryanti. (2012). Menggali Makna Upacara Maulid Nabi di Padang Pariaman Sumatera Barat. Panggung, 22(4). https://doi.org/10.26742/panggung.v22i4.71

Penulis: Ustadz Muhammad Kadhafi Hamdie