Inspiration Night

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Lailatul maiyyah atau bisa dibilang malam kebersamaan merupakan salah satu kegiatan spiritual yang rutin dilaksanakan oleh para santri Darunnajah Cipining pada malam Jum’at. Kegiatan 2 pekan sekali ini, dilakukan seusai shalat Isya berjamaah. Dengan membaca surat yasin bersama yang dipimpin oleh bagian peribadatan, pada kesempatan ini para santri menyatukan hati, bermunajat memohon ampunan dari semua kesalahan dan alfa. Do’a-do’a penuh khusuk juga dilantunkan teruntuk kedua orang tua dan keluarga. Semoga anugerah serta bimbingan-Nya memudahkan urusan dunia hingga akhirat. Bukankah Rasul berpesan, amal yang tiada putus selama-lamanya adalah anak sholeh yang mendo’akan kedua orang tuanya?

Namun pada Jum’at (3/3/11) kemarin, acara sedikit berbeda dari malam-malam biasanya. Guna menambah motivasi serta inspirasi, santri kelas akhir atau niha’i (XII MA) menambah acara dengan cerita penuh hikmah yang disebut dengan ‘Inspiration Night Niha’i’. Pada kesempatan tersebut tampil di antaranya adalah:

1.      Chairul Rahmat, ia menyampaikan  tema cara beroganisasi dengan baik. Melalui segudang pengalaman, satu per satu Rahmat  mengurai wawasannya tersebut secara runtut. Ia salah satu santri yang banyak didaulat menjadi ketua panitia dalam kepanitiaan lingkup organisasi maupun skala pesantren.

2.      Gitta Marshella, ia membawakan tips santri berprestasi, baik akademik maupun non akademik. Menurut pengakuannya, ia termasuk pemegang rangking pertama di setiap jenjang pendidikannya. Selain itu, beberapa kali ia juga menjuarai perlombaan berbahasa Inggris, seperti pidato, debating, dan menulis surat. Ia pernah mewakili jawa Barat dalam Pospenas tingkat pesantren di Surabaya pada tahun 2010 lalu. Salah satu prestasi terbaiknya adalah juara 1 menulis surat kepada presiden RI dalam sebuah kegiatan pramuka tingkat nasional.

3.      Eva Bahrudin, ia memberikan resep soal kedewasaan plus kemandirian. Hal yang ditekankan pada sesi ini adalah kedewasaan dalam mengahadapi berbagai masalah. Hidup di pesantren nan jauh dari keluarga, sudah seharusnya seorang santri mengelola dirinya dengan baik dan teratur. Tidak ada lagi kata ‘manja’. Begitulah resep betah di pesantren ala Epay—nama akrab Eva Bahrudin.

Guna menyempurnakan acara,  M. fawwazul Haqie selaku protokol memberikan kesempatan kepada rekannya yaitu Rizki Maulana yang berhasil menghatamkan hapalan Qur’annya selama 4 tahun untuk melantunkan surat Al-Hujurat.  Begitu menyentuh hati, seperti itulah kesan di benak peserta kegiatan malam itu saat menyimak kalam-kalam ilahi yang dilantunkan.

Dalam kesempatan tersebut, Khaidir Ali, ketua angkatan 18 turut memberikan sambutan. Ia mengaku, baginya ujian terberat selama menjadi santri ialah saat ujian praktik mengajar (amaliah tadris). ”Jangan pernah menyesal menjadi santri!” begitulah pesan yang disampaikannya kepada adik-adik kelas.

“Lulus dari pondok pesantren Darunnajah Cipining ini bukan berarti akhir dari segalanya, tapi inilah awal perjuangan kami untuk meniti masa depan. Maka kami segenap keluarga angkatan 18 memohon do’a agar kami diberikan kemudahan dan bimbingan dalam menghadapi ujian-ujian akhir do pesantren ini. Semoga kami bisa melalui itu semua dengan hasil yang baik” ucapnya kemudian. (Warna/D’Can)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait