Ilmu Bumi dari Cipining, Mengenang K.H. Jamhari Abdul Jalal Ilmu Bumi dari Cipining, Mengenang K.H. Jamhari Abdul Jalal

Ilmu Bumi dari Cipining, Mengenang K.H. Jamhari Abdul Jalal, Lc.

Terus terang, saya tidak terlalu dekat secara pribadi dengan almarhum Kiai Jamhari. Kami lebih sering bertemu di acara-acara resmi: rapat, pertemuan pimpinan, atau acara besar di Darunnajah. Beberpa kali berkesempatan mendampingi rihlah dgn beliau. Pada setiap kesempatan, beliau biasanya duduk tenang di tempatnya, saya di tempat saya. Tapi ada orang yang tidak perlu banyak mengobrol dengan kita untuk meninggalkan pelajaran. Cukup kita lihat cara kerjanya, dan dari jauh pun kita sudah belajar banyak.

Beliau berasal dari Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah. Seperti banyak alumni Gontor lainnya, beliau membawa satu semangat yang sama: siap berjuang menghidupkan pesantren di mana saja, tak peduli di mana tempatnya. Semangat itu beliau bawa sampai ke Tanah Suci, ketika menuntut ilmu di Universitas King Abdul Aziz di Makkah (kini Universitas Umm al-Qura). Di sanalah, di musim haji, beliau berjumpa dengan K.H. Mahrus Amien, pendiri Darunnajah. Siapa sangka, pertemuan di kota suci itu menjadi awal perjalanan panjangnya.

Ilmu Bumi dari Cipining, Mengenang K.H. Jamhari Abdul Jalal

Sepulang ke tanah air, beliau ikut bergabung dan berjuang di Darunnajah pada masa-masa awal, ketika pondok ini sendiri masih belajar berdiri. Di Darunnajah pula beliau kemudian menjadi menantu kakek kami, K.H. Abdul Manaf Mukhayyar.

Maka ketika Kakek membeli sebidang tanah di Cipining, Jasinga, Bogor, dan menyerahkan perintisannya kepada beliau, amanah itu jatuh ke tangan orang yang sudah teruji. Itu terjadi pada tahun 1989, tahun yang sama ketika saya baru masuk pondok. Waktu itu di Cipining tidak ada apa-apa. Tidak ada asrama, tidak ada masjid, tidak ada santri. Hanya tanah kosong dan sebuah niat. Dari situlah saya mulai memperhatikan sosok yang belakangan saya sadari sebagai salah satu orang paling istimewa dalam perjalanan pondok kami.

Orangnya teduh, khas orang Jawa. Senyumnya hampir tidak pernah lepas. Bicaranya sedikit, dan saya nyaris tidak pernah melihatnya marah. Ini terasa sekali bedanya, karena keluarga besar kami punya darah Betawi dan Banten, dua watak yang kadang gampang meledak. Di tengah keluarga yang suaranya keras-keras, Kiai Jamhari justru kebalikannya. Beliau tidak pernah perlu meninggikan suara, karena hasil kerjanya sudah bicara lebih keras dari siapa pun.

Barangkali sifat itu beliau bawa dari kampung halamannya. Orang Jawa punya istilah untuk kemampuan seperti yang beliau miliki: ilmu bumi. Kekuatan untuk menumbuhkan sesuatu di atas tanah, bahkan tanah yang tergolong gersang. Ilmu semacam ini tidak dipelajari dari buku. Ia lahir dari kedekatan yang panjang dengan tanah: tahu kapan harus mengolah, kapan menanam, kapan cukup menunggu. Para petani tua di desa-desa dulu punya perhitungan musim yang diwariskan turun-temurun, dan kepekaan membaca tanda-tanda alam karena terus-menerus memperhatikan. Mereka tidak tergesa-gesa. Mereka tahu bahwa tanah tidak bisa dipaksa.

Ilmu Bumi dari Cipining, Mengenang K.H. Jamhari Abdul Jalal

Ilmu itu baru menjadi nyata ketika dijalani. Ilmu bumi bukan pengetahuan yang dibicarakan, melainkan yang dikerjakan dengan tangan, dengan keringat, dengan kesabaran. Barangkali karena itu orang yang memilikinya cenderung pendiam. Tanah tidak tumbuh karena diceramahi. Ia tumbuh karena dirawat.

Begitulah beliau memperlakukan Cipining. Yang beliau tanam bukan hanya pohon dan bangunan, tapi juga manusia: santri yang datang dengan segala kekurangannya, dan guru-guru muda yang masih belajar menjadi pendidik. Semuanya dirawat dengan cara yang sama, tekun, sabar, dan tanpa banyak suara. Pelan, yang penting sampai. Alon-alon waton kelakon, istilah orang Jawa.

Setiap kali teringat beliau, saya teringat juga firman Allah dalam Surah Fathir ayat 32:

“Tsumma awratsnal-kitaaballadziinashthafainaa min ‘ibaadina, fa minhum zhaalimun linafsih, wa minhum muqtashid, wa minhum saabiqun bil-khairaati bi-idznillaah.”

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada hamba-hamba yang Kami pilih. Di antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.

Kitab yang diwariskan itu adalah Al-Qur’an. Pesantren berdiri di atas Al-Qur’an, menjadikannya visi sekaligus landasan, dan mengajarkannya kepada setiap santri. Jadi setiap santri yang keluar dari pondok sebenarnya adalah pewaris Kitab itu. Dan seperti kata ayat tadi, para pewaris itu tidak sama. Ada yang seperti batu licin: bertahun-tahun ilmu dicurahkan kepadanya, tapi mengalir begitu saja tanpa bekas. Ada yang seperti batu karang: bisa menampung dan menjaga ilmu untuk dirinya, tapi tidak menumbuhkan apa-apa di sekitarnya. Dan ada yang seperti tanah subur: setiap tetes ilmu yang jatuh kepadanya berubah menjadi kehidupan bagi banyak orang. Kiai Jamhari, tanpa ragu, termasuk yang terakhir.

Ilmu Bumi dari Cipining, Mengenang K.H. Jamhari Abdul Jalal

Buktinya ada di depan mata. Tanah kosong di Cipining itu sekarang sudah menjadi cabang pertama sekaligus yang terbesar di keluarga Darunnajah. Tanah yang dulu sepi itu berubah jadi emas. Bukan emas dalam arti harta, tapi sesuatu yang jauh lebih berharga: santri-santri berkualitas yang lahir dari segala keterbatasan. Mereka tumbuh bukan karena fasilitasnya lengkap, tapi karena ada seseorang yang dengan sabar terus merawat tanah tempat mereka berpijak.

Ada satu pesan beliau yang selalu diulang-ulang, dan rasanya di situlah rahasianya. Mengurus pondok, kata beliau, seperti induk ayam mengerami telur. Jangan sering ditinggal-tinggal. Tetap di sana, fokus mendidik, membina santri dan guru, sampai tiba waktunya telur-telur itu menetas.

Kedengarannya sederhana, tapi makin lama saya memimpin, makin terasa beratnya. Di zaman ketika pemimpin lembaga gampang tergoda sibuk ke sana kemari, Kiai Jamhari mengingatkan kami pada hal yang paling dasar: hadir. Pondok tidak tumbuh hanya dari rapat dan rencana. Pondok tumbuh dari kehangatan seseorang yang setia mengeraminya, hari demi hari, tahun demi tahun.

Kini beliau sudah berpulang. Orang yang menanam pohon tidak selalu sempat menikmati buahnya, dan beliau tahu itu. Beliau tetap menanam juga, karena yang dikejar bukan panen untuk dirinya sendiri, melainkan kehidupan bagi generasi sesudahnya, bahkan generasi yang mungkin tidak pernah mengenal namanya. Setiap santri yang lahir dari Cipining adalah tunas dari ilmu bumi yang beliau tanam dalam diam.

Ya Allah, terimalah seluruh amal ibadah dan pengabdian beliau sebagai amal jariyah yang tak terputus. Ampunilah segala khilafnya, lapangkan kuburnya, dan tempatkanlah beliau bersama golongan as-saqbiquna bil-khairaat. Dan kepada kami, para penerusnya, anugerahkanlah kekuatan untuk meneladani keistiqomahannya: setia hadir, sabar merawat, dan tak pernah lelah mendidik santri-santri kami, sebagaimana beliau mengerami Cipining hingga menetas menjadi kehidupan.

Allahummaghfir lahu warḥamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu. Aamin yaa Rabbal ‘aalamin.

Ulujami, 31 Oktober 2026

(KH. Hadiyanto Arief, S.H, M.Bs.)