Aula Kampus 1 Pesantren Darunnajah 2 Cipining terisi penuh sejak pukul 07.00, Jumat (17/7). Para guru duduk berjajar tanpa telepon genggam di tangan, mengikuti In House Training (IHT) awal tahun ajaran 2026/2027. Kegiatan berlangsung dua hari, 17 sampai 18 Juli 2026, dan dibuka dengan pembacaan Al-Quran, lagu Indonesia Raya, serta Hymne Oh Pondokku.
Direktur TMI, Ust. Imam Ghozali, M.Pd., menempatkan IHT sebagai kegiatan mendasar yang dilakukan setiap awal tahun ajaran, bukan seremoni tahunan yang berulang tanpa makna. Ia menyinggung capaian tahun lalu, ketika 20 santri meraih predikat mumtaz, sebagai tanda bahwa mutu thariqah tadris di kelas memang bergerak.
Direktur Departemen Pengasuhan Santri, Ust. Solehudin, S.Pd., mengukur keberhasilan IHT dari hal yang lebih sederhana: tingkat kebetahan santri tinggal di pesantren. Sementara Wakil Pengasuh, Ust. Nasikhun Sugik, S.E., M.M., mengingatkan bahwa slogan “Ke Darunnajah apa yang kau cari?” berlaku juga bagi guru, selain bagi santri. Ia meneruskan pesan Pimpinan Pesantren agar setiap guru mencintai pekerjaannya, dan berjuang untuk lembaga, bukan untuk figur.

Hari pertama diisi tiga sesi:
- Kepemimpinan Guru dan Semangat Berkhidmah, oleh Drs. K.H. Busthomi Ibrohim, M.Ag., Ph.D.
- Thoriqoh At-Tadris Al-Aam, oleh Ust. Muhammad Khadafi Hamdie, M.A.
- Menjadi Musyrif dan Musyrifah yang Menginspirasi, oleh Ust. Hodam Wijaya, S.Pd.I., M.P.P.
Materinya bertaut satu sama lain. Kiai Busthomi bicara soal guru yang melampaui batas ruang kelas. Ust. Khadafi membedah integrasi lima langkah Herbart dengan metode mengajar, dan menegaskan tidak ada satu metode yang paling baik untuk semua pelajaran. Ust. Hodam menutup hari itu dengan keterhubungan hati antara pengasuh dan santri. Dalam salah satu bagian paparannya tertulis, “Metode boleh berbeda, langkah pembelajaran dapat bervariasi, tetapi tujuan kita tetap satu.” Hari kedua, Sabtu (18/7), dimulai dengan evaluasi hari pertama oleh Ust. Muhlisin, S.H.I., M.Pd., disusul sosialisasi administrasi guru oleh Ust. M. Fariz Khaerul Fazri, Lc., M.S.I., dan ditutup materi Tiga Pilar Pendidikan Santri dari Prof. Dr. Hj. Imas Kania Rahman, M.Pd.I. (WARDAN/DR)

