Cianjur, Jawa Barat — Di tengah tuntutan pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang semakin kompleks, pengembangan kapasitas pemimpin tidak lagi cukup bertumpu pada pengalaman lapangan. Dibutuhkan kemampuan menerjemahkan visi menjadi sistem kerja yang terukur, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan zaman. Semangat itulah yang mewarnai pelaksanaan In House Training (IHT) Direksi Departemen Darunnajah Pusat dan Cabang yang berlangsung pada 14–16 Juli 2026 di Darunnajah Learning Center, Cianjur Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri atas jajaran direksi, Kepala Sekolah, Direktur Departemen, Wakil Pengasuh, hingga calon pimpinan masa depan di lingkungan Darunnajah.

Di antara peserta tersebut hadir Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah 12 Dumai, Ust. Marfu Ul Azhari, M.Pd., yang mengikuti seluruh rangkaian pelatihan secara penuh. Kehadirannya bukan sekadar memenuhi agenda kelembagaan, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat kualitas kepemimpinan dan tata kelola pesantren agar mampu berkembang secara lebih sistematis serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan umat.
Pelatihan dirancang secara intensif dengan pendekatan yang menekankan transformasi kepemimpinan berbasis sistem. Materi tidak berhenti pada penyusunan program kerja, tetapi membawa peserta memahami bagaimana strategi besar lembaga diterjemahkan menjadi langkah operasional yang memiliki tujuan, indikator keberhasilan, mekanisme evaluasi, hingga pembagian tanggung jawab yang jelas. Pendekatan tersebut menjadi jawaban atas tantangan organisasi yang kerap menghadapi kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan.
Selama pelaksanaan IHT, peserta mengikuti berbagai sesi mulai dari penyusunan kerangka pengelolaan program, identifikasi kelemahan sistem kerja, penyelarasan kewenangan lintas bidang, hingga penyusunan blueprint organisasi. Diskusi berlangsung dinamis melalui forum pleno, telaah antarkelompok, serta tugas mandiri yang menuntut setiap peserta menyusun rancangan program berdasarkan kebutuhan riil lembaga masing-masing.

Keseriusan dalam mengikuti setiap sesi mencerminkan kesadaran bahwa kemajuan sebuah pesantren tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan membangun sistem yang mampu berjalan secara konsisten. Kepemimpinan yang efektif tidak lagi bergantung pada figur semata, tetapi pada tata kelola yang dapat diwariskan, dievaluasi, dan terus disempurnakan.
Melalui pelatihan ini, diharapkan berbagai gagasan dan kerangka kerja yang diperoleh dapat menjadi fondasi dalam memperkuat pengelolaan Darunnajah 12 Dumai. Pengembangan sumber daya manusia, penyempurnaan program pendidikan, peningkatan koordinasi antardepartemen, hingga budaya kerja yang lebih terukur menjadi bagian dari perubahan yang ingin diwujudkan.
IHT Direksi tahun ini mengusung tema “System-Driven Leadership: Transforming Strategy into Structured Program Execution”, sebuah penegasan bahwa keberhasilan lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kuatnya visi, tetapi juga oleh kemampuan mengeksekusi strategi secara disiplin dan berkesinambungan.
Bagi Darunnajah 12 Dumai, keikutsertaan dalam forum ini merupakan investasi jangka panjang. Ilmu, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh selama pelatihan diharapkan menjadi energi baru untuk menghadirkan tata kelola pesantren yang semakin profesional, adaptif terhadap perubahan, serta tetap berpijak pada nilai-nilai dakwah dan pendidikan Islam. Dengan demikian, pesantren tidak hanya tumbuh sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai institusi yang terus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan umat dan bangsa.