IHT Darunnajah 8 Recharge Semangat dan Profesionalitas Guru IHT Darunnajah 8 Recharge Semangat dan Profesionalitas Guru

IHT Darunnajah 8 Recharge Semangat dan Profesionalitas Guru

CIDOKOM, BOGOR – Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8 menggelar In House Training (IHT) khusus bagi seluruh guru internal pesantren pada 19 hingga 21 Juli 2026 bertempat di Gedung Mini Hall, Cidokom. Kegiatan ini menjadi ajang pembekalan dan penguatan kapasitas para pendidik dalam menghadapi tahun ajaran baru 2026/2027.

Mengusung tema penguatan ruh perjuangan dan profesionalisme, IHT tahun ini menghadirkan narasumber utama Drs. K.H. Busthomi Ibrohim, M.Ag., Ph.D. yang menyampaikan materi kunci berjudul “Menyembah Hawa Nafsu: Ancaman Akidah dan Akhlak di Era Digital.”


Acara dibuka secara resmi pada Ahad pagi, 19 Juli 2026, oleh Ustaz Muchtar Ghozali, M.M. selaku Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya memperkuat ruh perjuangan sebagai guru di pesantren.

“Pesantren ini tidak hanya dibangun dengan gedung yang megah, melainkan dibangun dengan hati-hati yang ikhlas,” ujarnya di hadapan para guru yang hadir.

Beliau membedakan antara profesionalisme tanpa keikhlasan dan profesionalisme yang dilandasi nilai ibadah.

“Guru profesionalisme tanpa keikhlasan hanya akan menjadi guru yang baik. Ketika tidak dilandasi dengan keikhlasan, nilainya hanya ‘baik’ saja. Berbeda apabila dilandasi dengan nilai ‘ikhlas,’ maka akan menjadi amal saleh yang melahirkan nilai ibadah,” tegasnya.

Ustaz Muchtar juga memperkenalkan dua paradigma dalam bekerja:

ParadigmaCiri-ciri
Paradigma TransaksionalMotivasi bekerja semata-mata untuk imbalan materi, status, dan validasi dari manusia. Mengajar sekadar transfer informasi dari kepala ke kepala.
Paradigma BerkahMotivasi bekerja untuk meraih keridaan Allah. Mengajar sebagai ibadah agung dan proses transformasi jiwa.

“Pesantren akan hilang makna apabila tidak dijalankan dengan tulus,” pungkasnya.


Pada sesi pertama, Drs. K.H. Busthomi Ibrohim, M.Ag., Ph.D. menyampaikan materi yang menggugah kesadaran para pendidik. Mengutip pertanyaan monumental Nabi Ya’kub a.s. di ujung usianya, “Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?” (Al-Baqarah: 133), beliau mengingatkan bahwa kekhawatiran terbesar seorang pendidik bukanlah warisan harta, melainkan akidah generasi penerusnya.

Beliau menjelaskan bahwa berhala di era modern telah bermutasi. Ia bukan lagi patung batu yang terlihat mata, melainkan ancaman tak kasat mata yang bersemayam di dalam diri manusia. Mengutip Surat Al-Jatsiyah ayat 23, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…”, Kiai Busthomi menguraikan definisi menuhankan hawa nafsu sebagai memperturutkan dan menaati dorongan nafsu serta syahwat hingga mengalahkan ketaatan kepada perintah Allah SWT.

IHT Darunnajah 8 Recharge Semangat dan Profesionalitas Guru

Beliau memaparkan spektrum berhala digital yang mengancam generasi masa kini:

  • Gila harta — menghalalkan segala cara demi gaya hidup mewah
  • Egoisme — fanatisme buta dan pantang mengaku salah
  • Hedonisme — mengorbankan kewajiban demi kesenangan fana
  • Emosional tanpa kendali akal
  • Candu maksiat — kebebasan tanpa batas yang merusak akal

“Tanpa sadar, manusia modern telah menyerahkan kedaulatannya, menjadikan hawa nafsu sebagai ‘tuhannya.’ Kecerdasan intelektual dan kemajuan teknologi gagal menyelamatkan manusia yang kehilangan kecerdasan spiritualnya. Keterhubungan digital justru mempercepat keterasingan jiwa,” paparnya.

Kiai Busthomi juga membedakan paradigma pendidik biasa (mu’allim) dengan pendidik jiwa (murabbi). Seorang mu’allim hanya fokus pada transfer informasi dan pemenuhan silabus, sementara seorang murabbi fokus pada tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) santri dengan target kekokohan akidah dan kemuliaan akhlak.

“Di era digital, kecerdasan buatan (AI) dapat dengan mudah menggantikan seorang pengajar biasa. Namun, tidak akan ada teknologi yang mampu menggantikan posisi seorang murabbi,”tegasnya.


Pada kesempatan yang sama, Ustaz Rifdy Izdihar, M.A. selaku Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8 menyampaikan pesan reflektif yang menyentuh hati para peserta IHT. Beliau mengajak seluruh guru untuk merenungi QS. Al-Imran yang menjelaskan tentang kekuasaan Allah SWT dalam mencabut dan memberi, memasukkan dan mengeluarkan ruh, serta mengganti malam menjadi siang dan siang menjadi malam.

“Kalau antum pahami tafsir ayat ini, hidup akan nyaman dan legowo. Tidak selamanya saya menjadi wakil pengasuh. Menanggapi pergantian malam dan siang, orang meninggal jadi hidup, orang hidup jadi meninggal, orang diberi kekuasaan dicabut kekuasaannya. Itu biasa saja,”ujarnya.

Beliau menegaskan bahwa Pondok Darunnajah bukan pondok untuk berkarir.

“Hidup itu tidak selalu apa yang kita inginkan. Saya paham bulan Juni-Juli sangat krusial. Ada yang tadinya jadi Wakil Direktur, sekarang tidak jadi Wakil Direktur. Ada yang tadinya jadi Direktur Pengasuhan, sekarang jadi Wakil Direktur. Ada yang tadinya bukan siapa-siapa, sekarang jadi Wakil Direktur. Saya yakin 100% kehidupan itu tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan,” ungkapnya.

Beliau mengajak para guru untuk terus berkembang dan mencoba hal-hal baru. Mengenang masa-masa ketika banyak teman sebayanya keluar dari pondok, Ustaz Rifdy mengakui bahwa ia sempat merasa sedih.

“Dulu saya punya prinsip: ‘Yang namanya berjuang di pondok itu enaknya sama teman.’ Tetapi semakin berjalannya waktu, saya memahami bahwa semakin kita dewasa, circle kita semakin sedikit. Semakin antum naik ke jenjang berikutnya, antum akan sendiri. Di puncak gunung itu sepi. Pemimpin itu menderita, sendiri dan dingin,” pesannya dengan penuh haru.

IHT Darunnajah 8 Recharge Semangat dan Profesionalitas Guru

Beliau juga menekankan bahwa sistem dan nilai-nilai lebih penting daripada individu.

“Meski Ustaz Sofwan Manaf tidak ada, Darunnajah tetap berjalan! Karena yang kita bangun adalah sistem dan nilai-nilai. Masinis boleh berganti, tetapi kereta tujuannya tidak boleh berganti. The show must go on,” tegasnya.


Hari kedua, Senin, 20 Juli 2026, diisi dengan evaluasi umum pengasuhan santri serta program kerja ke depan yang disampaikan oleh Nurham, S.H. , M. Nauval Yahya , dan Maritza Aulia Bilbina.

Sesi dilanjutkan dengan evaluasi TMI yang mencakup pembuatan i’dad mengajar, pembuatan soal ujian, dan penilaian kelas oleh Nur Ali Saputra, S.Th.I., M.Pd. , Hilman Nur Barkah, S.H.I., M.H. , dan Siti Fathonatul Arifah, S.Ag., M.Pd.

Pada hari terakhir, Selasa, 21 Juli 2026, para guru menyusun Prosem (Program Semester) dan Prota (Program Tahunan) sebagai perangkat pembelajaran yang akan digunakan selama satu tahun ajaran ke depan.

Ustaz Nur Ali Saputra, M.Pd. selaku Direktur TMI menyampaikan arahan teknis terkait penyusunan Program Semester dan Jadwal Pelajaran. Beliau menekankan pentingnya perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan efektif dan terarah.

“Program Semester dan Jadwal Pelajaran adalah peta jalan bagi guru dalam mengantarkan santri mencapai target pembelajaran. Tanpa perencanaan yang jelas, proses pengajaran akan kehilangan arah dan tujuan,” ujarnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa penyusunan perangkat pembelajaran harus memperhatikan:

  • Kesesuaian dengan kurikulum dan visi pesantren
  • Keterukuran target capaian setiap semester
  • Fleksibilitas untuk menyesuaikan dengan kondisi santri
  • Kolaborasi antar guru mata pelajaran agar tidak terjadi tumpang tindih materi

IHT ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Wakil Pengasuh. Tugas suci para pendidik hari ini adalah memastikan santri Annur Darunnajah 8 kelak mampu menjawab tantangan zaman dengan jiwa yang bersih dari berhala hawa nafsu, akidah yang kokoh tak tergoyahkan, dan berserah diri secara utuh hanya kepada Allah SWT.