Tugas-tugas syariah yang diperintahkan pada diri manusia terbagi menjadi dua, yaitu :
1. hukum-hukum yang berhubungan dengan aspek amaliyah lahiriyah, dan
2. hukum-hukum yang berhubungan dengan amaliyah bathiniyah.
Dengan kata lain ada aturan ibadah yang berhubungan dengan fisik, ada pula yang berhubungan dengan qalbu. Amaliyah fisik terbagi dua. Perintah dan larangan. Perintah-perintah Ilahi di sini seperti sholat, zakat, haji dst. Sedangkan larangan seperti larangan membunuh, zina, mencuri, meminum khamar, korupsi dsb.
Hal yang sama dalam amaliyah qolbu terbagi dua, perintah dan larangan. Perintah-perintah-Nya seperti Iman kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab-Nya dan Rasul-Nya, dsb. Seperti ikhlas, ridha, syukur, jujur, khusyu’ dan tawakkal. Sedangkan larangan Qalbu seperti kufur, nifaq, takabur, ujub, riya’, iri dengki, ghurur, dendam dsb.
Bagian kedua inilah yang berhubungan dengan qalbu, lebih penting urgensinya dibanding yang pertama (amaliyah lahiriyah) – walaupun secara keseluruhan sama-sama pentingnya – karena alam bathin itu merupakan fondasi alam lahir, sekaligus sebagai sumber aspek lahiriyah. Jika amaliyah bathin rusak, akan rusak pula amaliyah lahiriyahnya. Dalam hal ini Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
“Siapa yang menghendaki bertemu Tuhannya, hendaknya melakukan amaliyah yang baik, dan sama sekali tidak menyekutukan Allah dalam ibadahnya.” (Al-Kahfi 110)
Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam sangat menekankan kepada para sahabatnya agar memperbaiki qalbunya, dan menjelaskan bahwa kebaikan manusia itu sangat tergantung pada kebaikan hatinya, menyembuhkan hatinya dari penyakit-penyakit yang tersembunyi di dalamnya. Beliau bersabda: “Ingatlah sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah (hati), jika baik maka baiklah seluruh jasad, jika jelek maka jelek pula seluruh jasad. Ingatlah, segumpal darah itu adalah qalbu.” (HR. Bukhari). Begitu pula dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam, mengajarkan bahwa titik pandang Allah Ta’ala itu adalah qalbu. “Sesungguhnya Allah tidak memandang jasadmu dan rupamu. Tetapi Allah memandang pada hatimu.”( Bukhari Muslim)
Membersihkan qalbu, menyucikan jiwa termasuk fardlu paling utama dan merupakan kewajiban Ilahi dibalik perintahNya, sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an:
وَلاَ تَقْرَبُواْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
“Janganlah mendekati keburukan-keburukan baik yang tampak maupun tersembunyi (lahir dan batin)”. (Al-Anaam 151.)
Keburukan bathin menurut para mufassir adalah dendam, riya’ dengki dan nifaq.
Sedangkan dari sunnah disebutkan: Setiap hadits Rasulullah SAW, yang menegaskan larangan tentang dendam, takabur, riya’ dan dengki, begitu juga hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk berias dengan akhlaq yang baik dan bekerja yang baik, maka semua itu mendukung pentingnya tasawuf.
Hadits Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam: “Iman itu bercabang menjadi 70 cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan Laailaaha Illallah, dan paling rendah adalah menyingkirkan halangan dari jalan. Sedangkan malu itu sebagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Termasuk perilaku tercela adalah merasa kagum diri (ujub) atas ibadah atau prestasi yang dimiliki. Seorang ahli ibadah akan ujub dengan ibadahnya, dan Ulama akan ujub dengan pengetahuannya, maka tindakan seperti itu haram, hal yang sama pada riya’, zalim, kontra kebenaran, dengki, pamer dan hobi debat
Seorang faqih besar, Ibnu Abidin dalam catatannya yang popular “Hasyiyah Ibnu Abidin” mengatakan, “mengenal Ikhlas, Ujub, Riya’, Dengki, adalah fardlu ‘ain, begitu juga mengenal penyakit-penyakit jiwa seperti sombong, pelit, dendam, menipu, marah, membuat permusuhan, dendam, tamak, bakhil, boros, sok-sokan, pengkhianatan dan wah-wahan, sombong terhadap kebenaran dan rekayasa serta pengkhianatan, keras hati dan panjang angan-angan, dan sebagainya merupakan penyakit hati, yang dibedah dalam seperempat kitab bab perilaku yang menghancurkan, oleh Al-Ghazaly dalam kitab Al-Ihya’ disebutkan, “Sudah tidak ada alasan lagi untuk menolak, seharusnya siapa pun mempelajari penyakit-penyakit itu sebagai kebutuhan.”
Tentu saja menghilangkan penyakit tersebut – jika mempelajarinya saja fardlu ‘ain – juga hukumnya fardlu ‘ain. Karena tidak akan bisa menghilangkan kecuali mengenal diagnosanya, batasan dan sebab-sebabnya, tanda dan terapinya. Orang yang tidak mengenal keburukan akan terjerumus di dalamnya.
Syeikh Alaudiin Abidin dalam Al-Hadiyyatul ‘Alaiyah, mengatakan, “Sudah jelas nash-nash syariah, dan Ijma’ Ulama, atas haramnya dengki dan penghinaan terhadap sesama muslim, serta hasrat kebencian terhadap mereka. Begitu pula haram, takabur, ujub, riya’ dan munafiq, serta sejumlah hal-hal kotor dalam hati, bahkan pendengaran, mata dan hati kelak akan dimintai pertanggungjawaban, hal-hal yang pada dasarnya di bawah ikhtiar manusia.
Pengarang kitab Maraqil Falah, mengatakan,” tidak ada gunanya bersuci badan kecuali dengan bersuci bathin melalui keikhlasan, kebersihan jiwa dari belenggu nafsu, penipuan, dendam dan dengki, serta membersihkan hati dari segala hal selain Allah, baik jagad dunia maupun jagad akhirat. Sehingga hamba hanya menyembah Allah, bukan karena sebab tertentu. Menyembah dengan penuh rasa butuh pada-Nya, dan Allah melalui anugerah-Nya memenuhi hajat para makhluk-Nya sebagai Kasih sayang-Nya. Karena itu dalam ibadahnya mestinya si hamba hanya menuju Yang Satu dan Yang Maha Tunggal, tidak ada satu pun selain Dia, begitu juga hawa nafsu anda tidak mempengaruhi diri anda ketika bakti kepadaNya.”
Penyakit hati ini sebagai faktor yang menyebabkan jauhnya hamba dengan Allah, menjauhkan pula dari syurga-Nya. Rasulullah saw, bersabda, “Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya masih ada sebiji atom ketakaburan.”
Kadang manusia tidak mengenal cacat dirinya, bahkan penyakit itu telah menghujam dalam di hatinya, tetapi malah dirinya menganggap telah sempurna. Wallahu’ alam bisshawab.
Semoga dalam ta’lim ini membuka kesadaran kita bersama, kita mampu menjadi muslim yang dapat mengamalkan ibadah fisik berupa shalat, mengaji, puasa, haji seiring dengan ibadah hati yang ditandai dengan khusu’, rendah hati, ikhlas, dan sabar dalam segala hal. (Berbagai sumber/red)
