Hukuman Allah swt yang Paling Berat di Dunia

blank

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

hukuman terberat

Dikisahkan ada seorang murid yang bertanya kepada sang gurunya, dan gurunya pun menjawab dengan jawaban panjang yang membuat air mata si murid tak henti-henti meneteskan air mata.

Murid : wahai guru, begitu banyak kita berbuat dosa kepada Allah swt, tidak  menjalankan perintah-perintah Nya dan cenderung suka dengan berbuat maksiat serta mengingkari larangan-larangan Nya, tapi kenapa Allah swt tidak menghukum kita?

Dengan memandang mata muridnya, sang guru menjawab :

Bukan Allah swt tidak menghukum kita, tapi kita yang tidak merasa sedang dihukum oleh Allah swt, ketahuilah wahai muridku, hukuman terbesar Allah swt yang diberikan kepada hambanya ialah sedikitnya taufiq yang diberikan kepada kita untuk mengamalkan ketaatan dan amal-amal kebaikan. Allah swt tidak menguji/menghukum seorang hamba lebih besar dari ‘kekerasan hatinya dan kematian hatinya’.

Renungkanlah wahai muridku:

Tidakkah engkau sadar, bahwa Allah swt telah mencabut rasa bahagia dan senang ketika bermunajat kepada Nya, merendahkan diri kepadanya dalam sujudmu?

Tidakkah engkau sadar, bahwa Allah swt telah mencabut rasa khusyu’ dalam dirimu ketika shalat?

Tidakkah engkau sadar, bahwa Allah swt menghilangkan kemudahan bermunajat ditengah malam dalam Qiamullail, memohon kemudahan segala urusan hidupmu?

Tidakkah engkau sadar, bahwa Allah swt menjadikan hari-harimu hamba tanpa lantunan ayat suci Al Qur’an keluar lewat lisanmu? Padahal engkau mengetahui firman Allah swt : “Sesungguhnya Al Quran ini adalah bacaan yang mulia, (tertulis) pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak (dapat) menyentuhnya kecuali hamba-hambanya yang disucikan” (QS Al Waqiah: 77-79). Bahkan hatimu tidak bergetar saat mendengar lantunan ayat ayat suci Al Qur’an yang melembutkan hati.

Tidakkah engkau sadar, kita telah melewatkan hari hari yang berisikan kebaikan seperti bulan Ramadhan, enam hari dibulan Syawal, sepuluh hari dibulan Dzulhijjah dan lainnya, namun kita belum  mendapatkan taufiq dan manfaat yang seharusnya dapat dicapai.

Tanyakan pada hati nuranimu wahai muridku:

Apakah menurutmu itu bukan suatu hukuman yang berat bagimu?

Apakah itu bukan suatu teguran yang berat untuk dirasakan bagi hamba yang hina dina?

Apakah engkau masih menginginkan hukuman yang lebih berat dari itu?

Seperti apakah hukuman yang engkau anggap berat dan mampu membangunkan dirimu dari kematian hatimu?

Tidakkah cukup dengan Allah swt hilangkan dengan nikmatnya beribadah kepada NYa, lezatnya berdzikir kepada Nya, nyaman Nya bermunajat dimalam hari dihadapan Nya, tenangnya ketika membaca surat-surat cinta Nya dalam kitab suci Nya?

Hukuman apa lagi yang harus Allah swt berikan kepadamu? Agar engkau tidak lagi asyik dengan kemaksiatan didunia yang fana ini, agar engkau tidak lagi mengejar-ngejar dunia yang semu ini, agar engkau tidak lagi mengagungkan dunia yang hina ini? Agar engkau tidak lagi menutup mata dari kebesaran Allah swt yang ditunjukan di dunia yang kecil ini?

Ingatlah wahai muridku, dunia ini hanyalah perjalan menuju tempat yang nyata bagi kita, jangan sampai ditempat persinggahan ini kita lupa akan tujuan kita, jangan biarkan kenikmatan dunia yang menipu ini melupakan lezatnya di akhirat yang nyata dan kekal selama-lamanya.

Si muridpun menunduk dalam isakan tangisnanya, gejolak jiwanya memuncah ternyata Allah swt sedang menghukumnya dengan mencabut/membiarkan dirinya asyik dengan kehidupan dunia yang sementara ini.

Sang gurupun tak sanggup lagi meneruskan perkataannya karena hal tersebut juga merupakan tamparan bagi dirinya, air matanyapun terurai sampai membasahi jenggot putihnya, sambil mengelus kepala muridnya ia berkata dengan nada pelan:

Wahai muridku,

Hukuman yang paling ringan yang Allah berikan kepada hambanya ialah, ‘hukuman yang terasa’ seperti harta, anak, kesehatan dan sejenisnya. Sedangkan hukuman yang paling berat adalah ‘hukuman yang tidak terasa’ pada kematian hati, yang menjadikan kita tidak dapat merasakan ni’matnya ketaatan kepada Allah swt dan tidak sanggup merasakan sakitnya perbuatan dosa. Oleh karena itu perbanyaklah isi hari-hari kita dengan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah swt, perbanyak dzikrullah, selalu beristighfar, dan senantiasa berbuat baik kepada saudara-saudara kita. Semoga Allah swt selamatkan kita dari hukuman yang paling berat di dunia ini, aamiin.

(Abs)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang Banten

Detil-detik melepas K.H. Saifuddin Arief

[Celoteh santri] Detik-detik terakhirDetik-detik menuju UN[Celoteh Santri] Detik-detik UjianDETIK-DETIK MENJELANG UJIAN NASIONAL MTsDetik-Detik Amaliah TadrisDetik-detik Jelang Panggung Gembira Santri Kelas 6 TMIDETIK-DETIK MENJELANG HAFLAHTUT TAKHARRUJDetik-detik