Hikayat Kesabaran

 

Sabar dan kesabaran adalah sebuah kalimat yang akrab di pendengaran kita, namun demikian prakteknya tidak semudah yang dibayangkan. Maka wajarlah kalau sampai ada sebuah Mahfudzat yang menjelaskan bahwa Kesabaran itu seperti buah Shibr yang pahit rasanya, namun efeknya lebih manis daripada madu;

الصبر كالصبر مر في مذاقته لكن عواقبه أحلى من العسل.

Dalam rangkaian sejarah telah tertulis dengan tinta emas beberapa tamsil kesabaran yang sempurna dan paripurna. Dan dengan sendirinya mematahkan hujah bagi yang berpandangan bahwa kesabaran itu ada batasnya.

Berikut contoh-contoh ideal kesabaran :

Pertama, Kesabaran dalam musibah. Kesabaran ini telah dipraktekkan dengan baik oleh Nabi Ayyub AS. Beliau terkena penyakit kulit yang sangat buruk dan busuk, sehingga orang-orang terkasih menjauhinya, termasuk istri tercintanya. Ketika Nabi Ayyub AS bersabar maka Allah SWT karuniakan kesembuhan dan kembali pulih seperti sedia kala.

Kedua, Kesabaran Menahan Diri Untuk Bermaksiat padahal ada kesempatan. Kesabaran yang tidak mudah ini telah diaplikasikan Nabi Yusuf AS. Betapa ketika Si Cantik Jelita menggodanya adalah sebuah ‘kesemptan emas’ bagi pemuda, namun Burhanu Rabbiy telah menyelamatkannya. Yang perlu dicatat di sini, bahwa yang menggoda pertama adalah justru fihak wanita. Jadi yang sulit adalah kesabaran untuk tidak bermaksiat padahal ada kesempatan, jika tidak ada peluang sih tidak perlu dibahas.

Ketiga, Kesabaran Dalam Berdakwah. Kita tentu masih ingat betapa Nabi Nuh AS berdakwah mengajak kaumnya ke jalan Allah SWT selama kurang lebih 500 tahun, namun yang mau ikut hanya sekira 80 orang saja. Bahkan istrinya dan juga salah-satu putra kesayangan yang bernama Kan’an tidak bersedia naik bersama Perahu Keselamatan sehingga tenggelam dalam air bah Tsunami Kesesatan.

Keempat, Kesabaran Sempurna dan Paripurna dalam segala suasana. Kesabaran tingkat tertinggi ini bisa kita telusuri dalam pribadi Agung Rasulullah Muhammad SAW. Sejak kecil beliau telah yatim piatu, ketika sedang mulai berdakwah ditinggal selamanya oleh dua pendukung setianya, istrinya Khadijah dan Pamannya Abu Thalib sehingga dikenal dengan Tahun Duka Cita atau ‘Aamul Huzni. Segala macam penderitaan beliau alami, dari dicaci-maki, dikatakan sebagai orang gila dan penyihir, disambit dengan batu, diboikot, hingga ujian peperangan dalam membela kebenaran.

Semoga Allah SWT Ash-shabuur mengaruniakan Kesabaran kepada kita dalam menapaki hari-hari kehidupan yang kian terjal dengan kerikil-kerikil bahkan batu sandungan, aamiin.

Pagi Selasa, 15/3/2016, Masjid Kampus 3. (Mr.MiM)