Ada Hal yang Tidak Bisa Di-copy dari ChatGPT — dan Itu Justru yang Paling Dibutuhkan Anak
Banyak orang tua yang akhir-akhir ini mulai khawatir. Bukan karena anaknya tidak pintar, justru karena anaknya terlalu cepat pintar — dalam arti bisa menjawab soal apa pun dalam hitungan detik dengan bantuan aplikasi. Tulisan ini mencoba melihat apa yang sebenarnya hilang ketika jawaban selalu datang dengan cepat, dan apa yang justru paling dibutuhkan anak untuk bertahan di dunia yang semakin dikendalikan kecerdasan buatan.
Kenapa ChatGPT mulai dikhawatirkan di dunia pendidikan anak?
Dalam beberapa bulan terakhir, obrolan di grup orang tua murid mulai sering menyinggung topik yang sebelumnya terasa jauh. Anak mengerjakan PR bahasa Indonesia dengan ChatGPT. Anak menyusun makalah tanpa membaca sumbernya. Anak yakin jawabannya benar karena sudah ditanyakan ke AI.
Bukan hal yang sepenuhnya salah. Teknologi memang harusnya mempermudah. Tapi ada rasa yang mulai muncul perlahan — sesuatu yang tidak enak di dada ketika melihat anak yang tidak lagi diam berpikir dulu sebelum menjawab.
Pemerintah sendiri sudah mengeluarkan pedoman bahwa siswa tingkat dasar sampai menengah tidak dianjurkan menggunakan ChatGPT untuk mengerjakan tugas. Alasannya bukan karena AI jelek. Melainkan karena ada kekhawatiran munculnya apa yang disebut cognitive debt — keadaan ketika kemampuan berpikir anak perlahan melemah karena terlalu sering meminta bantuan.
Ini yang sedang ditimbang banyak orang tua sekarang. Bukan apakah anak boleh pakai AI. Tapi apakah anak masih punya kemampuan berpikir sendiri ketika AI-nya mati.
Apa sebenarnya yang bisa dan tidak bisa dikerjakan oleh AI?
AI bisa hampir semua hal yang sifatnya pola. Mengarang karangan, menyusun kerangka, merangkum buku, menerjemahkan bahasa, menjawab soal matematika. Di level ini, ChatGPT dan sejenisnya memang luar biasa.
Tapi ada hal-hal yang tidak bisa ia bantu selesaikan. Dan justru di sanalah letak nilai seorang anak di masa depan.
Apa saja yang tidak bisa di-copy dari ChatGPT?
Yang pertama, kemampuan duduk lama menghadapi sesuatu yang belum jelas jawabannya.
AI kasih jawaban cepat. Tapi banyak persoalan di hidup tidak punya jawaban tunggal — pilihan karir, keputusan keluarga, cara mendamaikan teman yang bertengkar, cara menghadapi kegagalan. Di situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan jawaban, tapi kemampuan berdiam, merenung, membandingkan, dan memutuskan.
Kemampuan ini tidak bisa dipasang. Ia tumbuh dari kebiasaan memberi waktu pada diri sendiri untuk berpikir.
Yang kedua, empati yang lahir dari hidup bersama orang lain setiap hari.
AI bisa meniru kata-kata yang empatik, tapi ia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya tidur di ruangan yang sama dengan teman yang sakit perut. Tidak pernah tahu bagaimana menenangkan adik kelas yang sedang rindu ibunya. Tidak pernah tahu bagaimana meminta maaf dengan tulus setelah bertengkar.
Empati sesungguhnya tumbuh dari pengalaman hidup bersama. Bukan dari tutorial.
Yang ketiga, kedisiplinan yang bukan karena diawasi.
AI bisa mengingatkan, tapi tidak bisa membuat anak bangun sendiri saat subuh tanpa alarm. Tidak bisa membuat anak menyelesaikan tugas yang tidak dicek guru. Tidak bisa membuat anak memilih jalan yang sulit ketika jalan yang mudah tersedia.
Kedisiplinan internal ini hanya terbentuk kalau anak pernah hidup di lingkungan tempat disiplin itu memang jadi bagian dari keseharian, bukan sekadar aturan di kertas.
Yang keempat, kemampuan percaya pada sesuatu yang tidak langsung kelihatan hasilnya.
AI memberi feedback cepat. Hafalan Al-Qur’an yang dicek AI langsung kelihatan salahnya. Tapi keyakinan bahwa menghafal satu juz selama setahun adalah hal yang berharga — itu butuh sesuatu yang lain. Butuh guru yang menemani. Butuh lingkungan yang menghargai proses lambat.
Di mana kemampuan-kemampuan ini tumbuh kalau tidak lewat kelas biasa?
Kemampuan-kemampuan di atas tidak bisa diajarkan lewat mata pelajaran formal. Tidak bisa dipelajari di kursus tambahan. Tidak ada diploma untuk empati, kesabaran, atau disiplin internal.
Yang ada adalah lingkungan yang seluruh harinya memberi kesempatan untuk melatih kemampuan-kemampuan itu.
Di pesantren, misalnya, empati tumbuh dari tinggal bersama ribuan teman dari berbagai daerah selama bertahun-tahun. Ada momen sakit, ada momen kehilangan, ada momen rindu, ada momen senang — semuanya dialami bersama.
Kedisiplinan internal tumbuh dari bangun di waktu yang sama setiap hari — bukan karena dipaksa, tapi karena ratusan anak lain juga bangun. Dari sholat berjamaah lima waktu di masjid. Dari jadwal pelajaran, kegiatan asrama, dan ekstrakurikuler yang mengalir tanpa banyak perlu diatur.
Kemampuan berpikir dalam tumbuh dari diskusi di kelas, munaqasyah antar santri, dan fathul kutub — kebiasaan membaca kitab halaman demi halaman bersama guru. Bukan pembelajaran yang cepat. Tapi mendalam.
Kepercayaan pada proses lambat tumbuh dari pengalaman menghafal, mengaji, tahsin, menulis kaligrafi, latihan pencak silat Tapak Suci, bahkan belajar bahasa Arab dan Inggris secara bergantian tiap pekan. Semuanya tidak bisa dipercepat. Tapi semuanya membentuk.
Apa artinya ini untuk anak yang sebentar lagi masuk dunia kerja?
Banyak pengamat dunia kerja memprediksi bahwa sepuluh sampai dua puluh tahun ke depan, pekerjaan-pekerjaan yang bersifat pola akan banyak digantikan AI. Yang tersisa untuk manusia adalah pekerjaan yang butuh empati, kreativitas sejati, kepemimpinan, kemampuan bekerja dalam tim, dan ketahanan mental.
Semua kemampuan itu tidak bisa dibangun dari kursus online. Ia butuh lingkungan nyata. Butuh interaksi panjang dengan manusia lain. Butuh kesulitan yang dihadapi bersama. Butuh kegembiraan yang dirasakan bersama.
Banyak alumni pesantren yang sekarang bekerja di bidang teknologi, kesehatan, pendidikan, bahkan di beberapa perusahaan yang mengembangkan AI sendiri, mengakui hal yang serupa. Kemampuan teknis bisa dipelajari setelah masuk kerja. Tapi kemampuan bertahan dalam lingkungan yang penuh tekanan, mendengar orang lain dengan tulus, dan disiplin mengerjakan yang tidak dilihat atasan — itu yang membedakan.
Dan kemampuan-kemampuan ini tidak bisa dikejar setelah lulus SMA. Ia harus dibangun di tahun-tahun ketika anak masih berkembang.
Ada banyak pilihan tempat untuk membangunnya. Pesantren hanyalah salah satunya. Tapi kalau berbicara tentang lingkungan yang secara sengaja menyediakan ruang untuk melatih hal-hal yang tidak bisa di-copy AI — pesantren memang salah satu yang paling konsisten dari dulu sampai sekarang.
Bagaimana kalau ingin tahu lebih jauh?
Tulisan bisa memberi gambaran, tapi rasanya berbeda kalau bicara langsung dengan orang yang setiap hari menyaksikan perkembangan anak-anak di sana.
Pesantren Darunnajah 2 Cipining punya tim penerimaan santri baru yang siap dihubungi kapan saja di wa.me/62812111180. Tidak harus langsung membicarakan pendaftaran. Bisa dimulai dari pertanyaan yang relevan dengan situasi zaman — bagaimana mereka mempersiapkan santri menghadapi era AI, atau kemampuan apa yang paling ingin ditanamkan pada santri sebagai bekal jangka panjang.
Dari obrolan seperti itu, gambaran tentang apa yang dibutuhkan anak di masa depan biasanya jadi lebih jernih.