Di barisan santri yang menunggu giliran naik panggung, ada satu anak yang badannya paling kecil di antara semua peserta. Seragamnya sedikit kebesaran. Kakinya nyaris tidak terlihat dari balik podium. Beberapa teman di barisan belakang mungkin bertanya-tanya apakah suaranya akan terdengar sampai ke barisan terakhir aula.
Lalu ia mulai bicara. Dan seluruh aula terdiam.
Apa itu muhadharah dan mengapa momen ini begitu penting?
Muhadharah adalah latihan pidato tiga bahasa yang menjadi tradisi rutin di pesantren. Setiap pekan, santri bergiliran berdiri di depan teman-temannya untuk berpidato — dalam bahasa Indonesia, bahasa Arab, atau bahasa Inggris. Tidak ada pengecualian. Semua santri mendapat giliran, dari yang paling percaya diri sampai yang paling pemalu.
Bagi banyak santri, muhadharah adalah pengalaman paling mendebarkan sekaligus paling membentuk selama di pesantren. Di situlah keberanian diuji dengan cara yang paling langsung — berdiri sendirian di depan ratusan mata yang memperhatikan setiap kata dan setiap gerak tubuh.
Mengapa santri yang paling kecil sering justru paling berani?
Ada fenomena menarik yang sering terjadi di muhadharah. Santri yang badannya besar dan kelihatannya paling percaya diri kadang justru yang paling grogi di panggung. Sementara santri yang paling kecil, yang dari luar terlihat paling tidak mungkin menguasai panggung, justru bicara dengan suara yang menggelegar dan gesture yang penuh percaya diri.
Mungkin karena ia tahu bahwa ia harus berusaha lebih keras untuk diperhatikan. Mungkin karena ia sudah terbiasa membuktikan diri di lingkungan yang semua orangnya lebih besar darinya. Atau mungkin — dan ini yang paling mungkin — karena pesantren mengajarkan bahwa ukuran tubuh tidak ada hubungannya dengan ukuran keberanian.
Di pesantren, semua santri diperlakukan sama. Tidak ada yang dianggap kurang mampu karena badannya kecil atau suaranya pelan. Yang dilihat bukan penampilannya, tapi usahanya. Dan ketika santri kecil itu berdiri di panggung dengan suara yang membahana, semua orang di aula tahu bahwa mereka sedang menyaksikan keberanian dalam bentuknya yang paling murni.
Bagaimana proses dari gemetar sampai berani?
Tidak ada santri yang langsung berani di muhadharah pertamanya. Prosesnya selalu dimulai dari tempat yang sama — gemetar, berkeringat, suara tercekat, dan keinginan kuat untuk kabur dari panggung secepat mungkin.
Muhadharah pertama biasanya berlangsung pendek. Santri membaca teks yang sudah dihafal, matanya tidak berani menatap penonton, dan suaranya nyaris tidak terdengar melewati barisan pertama. Tapi di akhir, ada tepuk tangan. Selalu ada tepuk tangan, seberapapun singkatnya pidato. Tepuk tangan itu bukan formalitas — itu penghargaan tulus dari teman-teman yang tahu persis bagaimana rasanya berdiri di posisi itu.
Muhadharah kedua sedikit lebih baik. Suaranya sedikit lebih keras. Matanya sesekali menatap penonton. Muhadharah ketiga, ia mulai tersenyum di tengah pidato. Muhadharah keempat, ia mulai berani menambahkan gestur tangan. Muhadharah kelima, teksnya mulai dilipat dan dimasukkan ke saku.
Prosesnya tidak dramatis. Perubahannya terjadi sedikit demi sedikit, nyaris tidak terlihat dari satu pekan ke pekan berikutnya. Tapi kalau dibandingkan muhadharah pertama dengan muhadharah kesepuluh, perbedaannya seperti melihat dua orang yang berbeda.
Apa yang dilatih selain kemampuan bicara?
Muhadharah melatih lebih dari sekadar public speaking. Di balik latihan berpidato tiga bahasa, ada keterampilan-keterampilan lain yang terbentuk secara diam-diam. Kemampuan menyusun argumen. Kemampuan mengatur napas. Kemampuan membaca suasana penonton. Kemampuan bangkit setelah melakukan kesalahan di tengah pidato.
Santri yang pernah lupa teks di tengah muhadharah dan berhasil melanjutkan dengan improvisasi akan membawa ketenangan itu ke setiap tantangan di masa depan. Ia sudah tahu bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya. Ia sudah tahu bahwa kepanikan bisa dikendalikan. Ia sudah tahu bahwa penonton selalu lebih baik hati dari yang dibayangkan.
Kemampuan multibahasa yang terbentuk dari muhadharah juga menjadi bekal yang sangat berharga. Santri yang terbiasa berpidato dalam bahasa Arab dan Inggris tidak akan kesulitan menghadapi presentasi atau wawancara dalam bahasa asing di kemudian hari.
Apa momen yang paling diingat dari muhadharah?
Bukan momen ketika pidatonya sempurna. Bukan momen ketika mendapat tepuk tangan paling meriah. Yang paling diingat biasanya momen ketika pertama kali merasa nyaman di panggung. Momen ketika kaki berhenti gemetar, tangan berhenti berkeringat, dan kata-kata mengalir tanpa harus memikirkan kalimat berikutnya.
Momen itu berbeda untuk setiap santri. Ada yang merasakannya di muhadharah kelima. Ada yang baru merasakannya di muhadharah kedua puluh. Tapi semua orang yang pernah mengalaminya bilang hal yang sama — itu adalah momen ketika mereka menyadari bahwa suaranya layak didengar.
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, muhadharah tiga bahasa menjadi bagian dari kurikulum TMI yang sudah berjalan puluhan tahun. Setiap pekan, panggung itu menyaksikan keberanian baru. Dan sesekali, panggung itu menyaksikan santri paling kecil di seluruh pesantren berdiri dengan suara paling keras — membuktikan bahwa keberanian tidak pernah diukur dari tinggi badan.
Kalau ada momen yang paling sering membuat ustadz tersenyum bangga, itu adalah momen ketika santri yang enam bulan lalu gemetar di panggung sekarang berpidato dengan mata yang menatap lurus ke depan dan suara yang tidak gentar.
Buat yang penasaran dengan program pendidikan dan kegiatan santri di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Semua pertanyaan dijawab dengan senang hati.