Hal yang Selalu Ditanyakan Orang Saat Tahu Kita Alumni Pesantren

Setiap alumni pesantren pasti pernah mengalaminya. Sedang ngobrol santai dengan rekan kerja, teman kampus, atau kenalan baru, lalu informasi bahwa kita alumni pesantren terungkap — baik karena sengaja diceritakan atau karena tidak sengaja ketahuan dari kebiasaan yang sulit disembunyikan. Dan begitu informasi itu keluar, deretan pertanyaan yang sama mulai datang. Pertanyaan yang sudah dijawab ratusan kali tapi tetap terasa menarik bagi orang yang bertanya untuk pertama kali.

Pertanyaan pertama yang hampir selalu muncul adalah soal gadget. Benar tidak boleh pegang HP? Bagaimana bisa hidup tanpa internet? Pertanyaan ini selalu diucapkan dengan nada setengah tidak percaya — seolah hidup tanpa layar adalah sesuatu yang mustahil di zaman ini. Kita yang sudah ratusan kali menjawab biasanya tersenyum dan menjelaskan bahwa ternyata bisa, dan malah lebih sehat. Tapi ekspresi ketidakpercayaan di wajah penanya biasanya tidak berubah sampai percakapan berpindah ke topik lain.

Pertanyaan kedua biasanya soal tidur. Jam berapa bangun? Jam tiga pagi? Serius? Pertanyaan ini selalu diikuti oleh wajah ngeri yang membayangkan harus meninggalkan kasur di tengah malam. Kalau kita tambahkan bahwa setelah bangun harus langsung sholat tahajud lalu sholat subuh berjamaah, ekspresi ngeri itu biasanya berlipat ganda. Tapi kalau kita ceritakan bahwa setelah terbiasa justru bangun pagi menjadi momen paling produktif dan paling tenang dalam sehari, ada yang mulai terlihat tertarik.

Pertanyaan ketiga sering soal bahasa. Bisa bahasa Arab? Coba ngomong bahasa Arab dong. Permintaan itu selalu muncul dengan antusiasme yang sedikit berlebihan — seperti diminta melakukan trik sulap. Kita yang menjawab kadang memberikan satu kalimat sederhana dalam Bahasa Arab, dan respons penanya selalu sama — wah keren, aku tidak bisa begitu. Padahal kalau mereka tahu prosesnya — dari muhadatsah pagi yang berantakan sampai akhirnya lancar — mereka akan tahu bahwa kemampuan itu bukan sihir tapi hasil dari kerja keras bertahun-tahun.

Pertanyaan keempat biasanya lebih personal dan kadang sedikit sensitif. Dipaksa mondok atau mau sendiri? Pertanyaan itu dijawab berbeda oleh setiap alumni — ada yang memang mau sendiri sejak awal, ada yang awalnya dipaksa tapi akhirnya bersyukur, ada yang memutuskan sendiri setelah melihat perubahan pada saudaranya yang lebih dulu mondok. Apapun jawabannya, percakapan yang menyusul biasanya menjadi lebih dalam dan lebih bermakna.

Pertanyaan kelima sering kali yang paling membuat kita berpikir sebelum menjawab. Kamu mau masukin anakmu ke pesantren juga? Pertanyaan itu membawa refleksi yang cukup berat — karena jawabannya bukan soal teori pendidikan tapi soal pengalaman personal yang sangat kompleks. Mayoritas alumni pesantren menjawab ya — karena mereka tahu dari pengalaman sendiri betapa berharganya apa yang didapat dari mondok. Tapi ada nuansa di balik jawaban itu yang kadang terlalu panjang untuk dijelaskan di percakapan santai.

Setiap pertanyaan yang datang dari orang luar sebenarnya menunjukkan sesuatu yang positif — rasa penasaran. Di balik pertanyaan yang kadang terasa repetitif bagi alumni, ada ketertarikan tulus terhadap dunia yang belum mereka kenal. Dan setiap jawaban yang kita berikan menjadi kesempatan untuk meluruskan miskonsepsi dan menunjukkan bahwa kehidupan pesantren jauh lebih kaya dan lebih positif dari yang dibayangkan kebanyakan orang.

Di Darunnajah 2 Cipining, ribuan alumni yang tersebar di berbagai profesi dan berbagai kota menjadi duta tidak resmi yang setiap hari menjawab pertanyaan-pertanyaan itu — dan setiap jawaban menjadi cara paling efektif untuk memperkenalkan pesantren kepada orang yang belum mengenalnya.

Pertanyaan memang tanda penasaran. Dan penasaran adalah langkah pertama menuju pemahaman. Kalau ingin tahu lebih banyak, tidak perlu bertanya kepada alumni saja — bisa datang langsung ke pesantren dan melihat sendiri.

Kalau ingin datang atau bertanya lebih dulu, bisa menghubungi lewat WhatsApp 0812111180.