Momen anak pulang liburan dari pesantren biasanya penuh kebahagiaan. Pelukan yang sudah lama dinantikan, cerita-cerita yang mengalir tanpa henti, dan suasana rumah yang kembali ramai. Tapi di balik kebahagiaan itu, ada satu hal yang jarang dibicarakan: bagaimana menjaga kebiasaan baik yang sudah terbentuk di pesantren agar tidak runtuh selama di rumah.
Kenapa kebiasaan bisa berubah saat pulang?
Di pesantren, kebiasaan baik terbentuk karena lingkungan mendukung. Semua orang bangun subuh, semua orang sholat berjamaah, semua orang ikut jadwal yang sama. Ketika anak kembali ke rumah — di mana jadwal lebih longgar, tidak ada teman yang mengajak berjamaah, dan gadget tersedia di mana-mana — kebiasaan yang sudah terbentuk selama berbulan-bulan bisa goyah dalam hitungan hari.
Ini bukan karena anak lemah atau karena pesantren gagal mendidik. Ini soal bagaimana kebiasaan bekerja — lingkungan sangat menentukan. Dan rumah adalah lingkungan yang sangat berbeda dari pesantren.
Apakah ini berarti orang tua harus menjalankan aturan pesantren di rumah? Tentu tidak. Rumah bukan pesantren, dan liburan memang seharusnya menjadi waktu istirahat. Tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kebiasaan baik tidak hilang sepenuhnya.
Apa yang perlu dijaga selama liburan?
Pertama, kebiasaan ibadah. Ini mungkin yang paling penting. Di pesantren, sholat lima waktu berjamaah adalah rutinitas. Di rumah, tidak ada adzan yang memaksa bangun, tidak ada teman yang mengajak ke masjid. Orang tua bisa membantu dengan mengajak sholat berjamaah di rumah — minimal maghrib dan isya. Bukan dengan memaksa, tapi dengan mengajak dan memberi contoh.
Kalau anak sudah punya kebiasaan tahajud atau dhuha di pesantren, dukung untuk melanjutkannya di rumah. Tapi jangan terlalu kaku — kalau sesekali terlewat karena kelelahan liburan, itu manusiawi. Yang penting kerangka besarnya tetap terjaga.
Kedua, jadwal tidur dan bangun. Di pesantren, anak terbiasa tidur dan bangun di waktu yang teratur. Di rumah, godaan untuk begadang menonton TV atau bermain gadget sangat besar. Orang tua tidak perlu memaksakan jadwal seketat pesantren, tapi menjaga agar jam tidur tidak terlalu jauh bergeser bisa membantu anak lebih mudah kembali beradaptasi saat masuk pesantren lagi.
Ketiga, gadget. Ini mungkin tantangan terbesar. Anak yang berbulan-bulan hidup tanpa smartphone tiba-tiba punya akses penuh. Wajar kalau di hari-hari pertama ia menghabiskan banyak waktu di depan layar — itu reaksi natural setelah lama tidak memegang. Tapi kalau dibiarkan tanpa batas selama berminggu-minggu, kebiasaan fokus dan produktif yang sudah terbentuk bisa terkikis.
Pendekatan yang mungkin membantu: beri waktu di awal untuk “puas” dulu, lalu secara bertahap ajak anak mengisi waktu dengan kegiatan lain juga. Bukan melarang gadget sepenuhnya — itu tidak realistis di rumah — tapi menciptakan keseimbangan.
Bagaimana menyikapi perubahan perilaku anak?
Kadang orang tua kaget. Anak yang di pesantren sudah tertib dan mandiri, begitu pulang rumah kembali manja, malas-malasan, atau bahkan sedikit “memberontak.” Ini bukan kemunduran. Ini reaksi normal dari anak yang sedang berada di zona nyaman setelah berbulan-bulan dalam lingkungan yang menuntut.
Rumah adalah tempat di mana anak merasa paling aman untuk menjadi dirinya sendiri — termasuk sisi yang tidak ditampilkan di pesantren. Manja sedikit di rumah bukan berarti pendidikan pesantren gagal. Itu berarti anak merasa cukup aman untuk melepas “topeng kuat” yang dipakainya di pesantren.
Yang perlu diwaspadai bukan kemanjaan sesaat, tapi perubahan yang lebih dalam. Kalau anak terlihat sangat berbeda — murung, menarik diri, atau menunjukkan ketakutan untuk kembali ke pesantren — itu sinyal yang perlu didengarkan dan ditindaklanjuti.
Bagaimana mempersiapkan anak kembali ke pesantren setelah liburan?
Re-entry setelah liburan bisa hampir seberat masuk pertama kali. Anak yang sudah kembali menikmati kenyamanan rumah harus kembali melepasnya. Ini tidak mudah — dan orang tua perlu memahami itu.
Beberapa hari sebelum kembali, mulai kembalikan jadwal secara bertahap. Bangun lebih pagi, kurangi waktu gadget, mulai kembali ke rutinitas ibadah yang lebih terstruktur. Transisi bertahap ini membuat perpindahan dari rumah ke pesantren tidak terasa terlalu drastis.
Bicara secara terbuka tentang perasaan anak. Kalau ia sedih harus kembali, validasi perasaan itu. “Wajar kalau sedih berpisah lagi. Tapi di sana ada teman-teman yang juga menunggu.” Kalimat sederhana seperti ini kadang sudah cukup membantu.
Dan hindari kalimat seperti “jangan cengeng” atau “kamu kan sudah besar.” Anak yang sedang proses berpisah dari keluarga — untuk kesekian kalinya — berhak merasa sedih. Menghormati perasaan itu justru membuatnya lebih kuat.
Apakah liburan pendek lebih baik dari liburan panjang?
Tidak ada jawaban pasti. Liburan pendek membuat transisi kembali lebih mudah karena anak belum terlalu “terlepas” dari ritme pesantren. Tapi liburan pendek juga berarti waktu bersama keluarga lebih sedikit.
Liburan panjang memberi waktu lebih banyak untuk keluarga, tapi risiko merosotnya kebiasaan baik lebih besar. Banyak pesantren yang memberikan liburan dengan durasi yang sudah diperhitungkan — dan orang tua bisa mempercayai bahwa durasi ini sudah dipertimbangkan berdasarkan pengalaman bertahun-tahun.
Yang penting bukan berapa lama liburannya, tapi bagaimana mengisi waktu liburan itu. Liburan yang seimbang antara istirahat, kebersamaan keluarga, dan menjaga kebiasaan baik biasanya menghasilkan anak yang lebih siap saat kembali ke pesantren.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat, memberikan jadwal liburan yang sudah menjadi bagian dari kalender pendidikan pesantren. Orang tua didorong untuk menjaga kebiasaan baik anak selama di rumah — meskipun pesantren juga menyadari bahwa tanggung jawab ini tidak mudah dan setiap keluarga punya dinamikanya sendiri.
Kalau ada pertanyaan tentang jadwal liburan atau hal lain, bisa menghubungi WhatsApp 0812111180.
Liburan adalah jeda. Bukan akhir. Dan kebiasaan baik yang dijaga di rumah akan membuat langkah kembali ke pesantren terasa lebih ringan.