Gentle parenting menjadi salah satu istilah parenting yang paling sering dicari belakangan ini. Pendekatan yang menekankan empati, batas yang jelas tanpa hukuman fisik, dan komunikasi yang menghormati anak. Kedengarannya baik. Tapi bagi keluarga Muslim, ada pertanyaan yang wajar muncul: apakah ini sesuai dengan ajaran Islam tentang mendidik anak? Atau ini tren Barat yang tidak cocok dengan budaya kita?
Apa sebenarnya gentle parenting?
Inti dari gentle parenting cukup sederhana: mendidik anak dengan empati dan batasan yang jelas, tanpa mengandalkan hukuman fisik atau bentakan sebagai alat utama. Bukan berarti memanjakan atau membiarkan anak berbuat sesuka hati. Bukan berarti tidak ada aturan. Tapi aturan ditegakkan dengan cara yang menghormati martabat anak sebagai manusia.
Prinsip-prinsipnya meliputi: memvalidasi emosi anak sebelum mengoreksi perilakunya, menggunakan konsekuensi natural daripada hukuman arbitrer, dan menjadikan diri sendiri sebagai contoh perilaku yang diharapkan.
Apakah ini bertentangan dengan Islam?
Menariknya, banyak prinsip gentle parenting yang sejalan dengan ajaran Islam — bahkan mungkin sudah dipraktikkan jauh sebelum istilah ini populer.
Rasulullah dikenal sangat lembut terhadap anak-anak. Beliau tidak pernah memukul anak. Beliau memeluk cucunya di atas mimbar. Beliau memanjangkan sujud karena cucunya naik ke punggungnya. Kelembutan dalam mendidik bukan konsep baru dalam Islam.
Perintah untuk mengajarkan sholat kepada anak dimulai di usia tujuh tahun — bukan dengan paksaan, tapi dengan pengajaran bertahap. Konsep sabar, lemah lembut, dan kasih sayang dalam mendidik sangat kuat dalam tradisi Islam.
Jadi secara prinsip, tidak ada pertentangan mendasar. Yang mungkin perlu disesuaikan adalah penerapannya dalam konteks budaya dan nilai spesifik keluarga Muslim Indonesia.
Apa yang perlu disesuaikan?
Pertama, keseimbangan antara lemah lembut dan ketegasan. Gentle parenting kadang disalahpahami sebagai “tidak boleh tegas.” Dalam Islam, ketegasan dalam hal tertentu — terutama menyangkut ibadah dan akhlak — tetap diperlukan. Lembut dalam cara, tegas dalam prinsip. Ini keseimbangan yang perlu dijaga.
Kedua, peran adab dan penghormatan. Dalam tradisi Islam — terutama yang dipraktikkan di pesantren — ada konsep ta’dzim (penghormatan) terhadap guru, orang tua, dan orang yang lebih tua. Ini bukan bertentangan dengan gentle parenting, tapi menambahkan dimensi yang mungkin tidak selalu ditekankan dalam versi Barat-nya.
Ketiga, tujuan akhir. Gentle parenting versi umum fokus pada kebahagiaan dan kesejahteraan emosional anak di dunia. Pengasuhan Islam menambahkan dimensi akhirat — mendidik anak bukan hanya untuk bahagia di dunia, tapi juga untuk keselamatannya di akhirat. Ini menambah lapisan motivasi dan tanggung jawab yang lebih dalam.
Bagaimana penerapannya secara praktis?
Bisa dimulai dari hal sederhana: ketika anak melakukan kesalahan, dengarkan dulu alasannya sebelum menghukum. Ketika anak menolak ibadah, jelaskan maknanya daripada memaksa. Ketika anak menangis, peluk dulu sebelum mengoreksi. Semua ini bisa dilakukan tanpa kehilangan otoritas sebagai orang tua.
Beberapa keluarga Muslim menemukan bahwa prinsip gentle parenting justru memperkuat ibadah anak — karena anak yang merasa dihormati dan dipahami lebih terbuka untuk menerima bimbingan spiritual dibandingkan anak yang merasa dipaksa.
Pesantren modern yang baik sebenarnya sudah menerapkan banyak prinsip ini tanpa menyebutnya gentle parenting. Wali kamar yang mendengarkan sebelum menasihati. Aturan yang ditegakkan dengan konsekuensi logis, bukan kekerasan. Budaya menghormati yang dibangun dari teladan, bukan ketakutan. Ini pendekatan yang sudah berjalan puluhan tahun di banyak pesantren — meskipun tentu masih ada yang perlu diperbaiki dan tidak semua wali kamar menerapkannya secara konsisten.
Apa yang perlu diingat?
Gentle parenting bukan agama baru. Ini alat — dan seperti semua alat, ia bisa diambil bagian yang bermanfaat dan disesuaikan dengan konteks kita. Tidak harus diadopsi sepenuhnya atau ditolak sepenuhnya. Ambil prinsip yang sejalan dengan Islam, sesuaikan yang perlu disesuaikan, dan tinggalkan yang tidak cocok.
Yang terpenting bukan label parenting yang dipakai, tapi apakah anak merasa dicintai, dihormati, dan dibimbing menuju kebaikan — baik di dunia maupun akhirat.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat berusaha menerapkan pendekatan pengasuhan yang tegas dalam prinsip tapi lembut dalam cara. Masih banyak yang perlu diperbaiki — dan pesantren mengakui itu. Tapi orientasinya jelas: mendidik dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan.
Untuk informasi, hubungi WhatsApp 0812111180.
Cara mendidik yang terbaik mungkin bukan yang paling trending. Tapi yang paling sesuai dengan fitrah anak dan ridha Allah.