Generasi Muda, Bangkitlah!

Kita semua telah mengetahui bahwa zaman semakin bertambah modern (maju). Apa saja yang tidak kita dapati beberapa tahun ke belakang dapat kita rasakan saat ini. Sebut saja, hari ini kita dapat pergi ke manapun kita mau hanya dengan waktu yang singkat, hal itu dapat terjadi karena zaman yang sudah modern. Akan tetapi tanpa disadari ada beberapa hal negatif yang turut serta dari perkembangan zaman saat ini. Hal tersebut dapat kita temui dengan sangatlah mudah. Disadari atau tidak, perkembangan zaman saat ini turut andil dalam melatari perubahan perilaku masyarakat saat ini, khususnya para “generasi muda” saat ini.

Pemuda adalah generasi yang sangat berperan dalam perkembangan suatu umat, maju tidaknya suatu umat ditentukan oleh mereka. Tak terelakkan lagi, bahwa merekalah yang nantinya bisa mengantarkan suatu umat ke puncak kejayaannya. Hal ini didasarkan karena mereka mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh generasi yang lain. Sebut saja presiden pertama negeri ini mengatakan “berikan aku sepuluh pemuda, akan aku rubah negeri ini”.

Namun realita yang terjadi saat ini sangatlah menyedihkan. Pemuda yang kita harapkan dapat mengantarkan umat ini (Islam) ke puncak kejayaan malah berlaku sebaliknya. Pergaulan di antara mereka sangatlah bebas, hasilnya banyak dari mereka mengkonsumsi narkoba, miras, dan yang lebih menyedihkan lagi remaja-remaja putri saat ini hamil di luar nikah. Na’udzubillah.

Hal tersebut di atas dapat terjadi dikarenakan para pemuda Islam saat ini tidak mengetahui bahwasanya itu semua adalah cara musuh-musuh Islam dalam rangka menghancurkan umat ini. Mereka sengaja mencekoki para pemuda Islam dengan minuman keras, narkoba, dan video porno untuk menghancurkan umat Islam. Akan tetapi kebanyakan remaja tidak mengetahui bahwa ini adalah siasat serta tipu daya musuh untuk menghancurkan agama mereka. Sadarlah!

Hal tersebut sudah Allah kabarkan dalam surah Al-Baqarah ayat 120.”Dan tidak akan pernah ridha Yahudi dan nasrani sampai kalian mengikuti agama mereka…”. Akan tetapi mereka (orang kafir), hari ini datang dengan siasat yang baru. Mereka sudah tidak memerangi umat ini dengan peperangan, karena mereka sudah sangat yakin bahwa bila mereka memerangi umat ini dengan berperang, maka yang akan mereka dapati hanyalah kekalahan. Masih ingatkah kalian?

Bagaimana 313 pasukan muslim mengalahkan 1000 pasukan orang kafir pada perang Badar, dan kemenangan-kemenangan gemilang lain yang diraih umat Islam pada peperangan lain walaupun dalam jumlah yang lebih sedikit.

Wahai pemuda Islam bukalah mata kalian, musuh telah hadir di hadapanmu. Sudah cukup kita dibohongi, sekarang waktunya kita bangkit dari keterpurukan. Apakah kalian rela agama ini hancur? Janganlah kalian berdiam diri dan membiarkan agama kalian dihancurkan. Jangan pernah takut menghadapi mereka. Islam bukanlah umat yang lemah, akan tetapi Islam adalah agama yang sangat kuat dan dahsyat.

Pemuda dalam setiap kurun adalah pelopor zamannya….;

Dalam kurun awal Islam kita temukan sosok-sosok muda: Ali bin Abi Tholib (8th), Zubair bin Awwam (8 th), Arqam bin Abil Arqam (11 th), Ja’far bin Abi Tholib (8 th) Shohih Ar Rumy (19 th), Zaid bin Haritsah (20 th) Saad bin Abi Waqash (17 th), Utsman bin Affan (20 th) Umar bin Khotobb (27 yh), Abu Ubaidah bin Jarroh (27 th), Abdurrahman bin Auf (30 th), Abu Bakar Ash Shidiq (37 th)

Sebab dalam jiwa mudalah Allah menyematkan karakter-karakter perubah: Kritis, dinamis, kreatif, inovatif, dan reaktif. Merekalah generasi-generasi penerus [2:132-133,25:74,19:42]; pengganti kaum sebelumnya [5:54,2:143], pembaharu/mujaddid dalam setiap masanya.

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk;[ Al Kahfi:13]

Rosulullah SAW berpesan:

“Jagalah lima hal sebelum datangnya lima hal: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang fakirmu, masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu” HR Al Hakim.

Rosulullah ditanya tentang apa yang akan dibalas dengan pahala atau siksa di hari kiamat, beliau menjawab:” Dia akan ditanya tentang apa yang ia perbuat untuk masa mudanya”. HR Tirmidzi

Tentang aktivitas pemuda, Rosulullah SAW bersabda: “ Sebaik-baik pemuda diantara kamu adalah yang mirip/seperti orang dewasa diantara kamu, dan sejelek-jeleknya orang tua diantara kamu adalah yang seperti pemuda diantara kamu” HR Baihaqi

AsySyahid Hasan Al Banna berpesan:

“Hendaklah anda selalu mengindahkan dan memperhatikan Allah SWT, selalu ingat akan akhirat dan bersiap-siap unuknya. Tempuhlah semua kelakuan yang dapat menyampaikan anda pada keridhaan Allah dengan tekad dan kesungguhan. Dekatkanlah diri anda kepada-Nya denganmelestarikan ibadat-ibadat sunnat seperti tahajud, shoum tiga hari dalam sebulan, memperbanyak dzikir dalam hati dan ucapan serta membiasakan berdoa dalam segala hal yang diriwayatkan dari Rosulullah SAW”

Asy- Syahid DR Abdullah Azzam berpesan:

“Wahai pemuda Islam….

Engkau tumbuh dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbang dan deru suara tank. Jagalah diri kalian!

Jangan terpengaruh oleh senandung lagu milik orang yang dibuai kenikmatan hidup. Jangan terlena oleh musiknya orang yang bermewah-mewahan dan kasurnya orang yang kekenyangan.”

DR Abdullah Nasihih Ulwan menasihatkan:

Ingatlah wahai pemuda muslim…. kalian tidak akan dapat meraih suatu kemenangan bila tanpa dibarengi dengan iman dan taqwa, muroqobah dengan Allah dengan sembunyi atau terang-terangan. Perbaikilah niatmu. Jagalah dirimu dari maksiyat dan dosa. Kuasailah hawa nafsu dan jauhilah dari fitnah kehidupan dunia.

Sebenarnyalah misi Islam itu akan terwujud dengan:

1. Iman yang kuat [ Al Hujurat;15]

2. Keihlasan yang sungguh-sungguh [ Al bayyinah :5]

3. Tekad yang kuat tanpa rasa takut [Al Ahzab :39]

4. Usaha yang berkesinambungan [ At Taubah:105]

Sebuah kisah tatkala Umar RA tidak sabar menanti saat penaklukan Mesir di tangan Muslimin, beliau berkirim surat kepada panglima tertinggi : Amru bin Ash:

“Amma ba’du. Sungguh aku heran atas kelambatan kalian, padahal kalian sudah bertempur selama dua tahun. Itu semua disebabkan karena kalian terlalu cinta terhadap kesenangan dunia sebagaimana musuh-musuh kalian. Padahal Allah sekali-kali tidak akan menolong suatu kaum sebelum dia membuktikan kesungguhan niatnya. Kepada Sa’ad bin Abi Waqash:

Aku berwasiat kepadamu dan kepada setiap tentaramu supaya senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Karena Taqwa adalah sebaik-baik bekal dalam menghadapi musuh. Taqwa adalah strategi perang yang paling jitu. Dan aku perintahkan kalian supaya mawas diri dengan ketat dari maksiyat lebih ketat darimawas diri dari musuh kalian, karena dosa pasukan lebih berbahaya daripada serangan musuh.

Kaum muslimin baru mendapat pertolongan-Nya manakala musuh-musuh mereka telah tenggelam dalam kemaksiyatan kepada Allah. Kalau bukan karena itu tentu kekuatan kita tidak ada artinya dalam menghadapi mereka, sebab baikjumlah personil maupun persenjataan kita jauh berbeda darimereka. Nah , kalau kita dan mereka setara dalam maksiyat, maka sudah barang tentu mereka akan lebih unggul dari kita.

Benar sekali yang dikatakan Umar RA: “ Ummat Islam adalah suatukaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Tetapi bila mencari kemuliaan diluar dari garis yang telah ditentukan-Nya, maka niscaya Dia akan menghinakanya. {HR Al Hakim]

Wahai pemuda muslim! Sesungguhnya ummat ini benar-benar mengandalkan kalian. Oleh karenanya mohonlah kepada Allah akan pertolongannya. Insya allah kalian akan unggul. Berjalanlah di atas jalur yang pernah dilalui oleh para Nabi, singsingkan lengan bajukalian dan bangunlah kembali kejayaan Islam. Raihlah kejayaan yang pernah dicapai oleh nenek moyang kalian. Ingatlah didepan kalian hanya ada dua alternatif: menang ataumati syahid!

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. [At Taubah:105]

Izzatul Islam berpesan dalam nasyidnya:

“ Hai mujahid muda, maju kehadapan; Sibakkan penghalang, satukan tujuan. Kibarkan panji Islam dalam satu barisan, bersama berjuang kita junjung keadilan.

Jangan bimbang ragu, teruslah melaju; Hapus bayang semu, dilubuk hatimu. Bergerak kedepan bagai gelombang samodera. Lantakkan tirani, runtuhkan angkara murka.

Reff:

Majulah wahai mujahid muda; dalam satu cita tegak kebenaran. Singkirkan batas satukan kata. Kebangkitan Islam telah datang! “

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (Al-Kahfi [18]: 13)

Penutup

Sepanjang peradaban manusia, pemuda adalah pelopor. Berbagai perubahan yang terjadi di setiap bangsa, pemuda adalah penggeraknya. Di balik setiap transformasi sosial, motor utamanya tak lain adalah pemuda. Ibarat sang surya, maka pemuda bagaikan sinar matahari yang berada pada tengah hari dengan terik panas yang menyengat. Berbagai bakat, potensi, kecenderungan, baik mengarah kepada kebaikan maupun kepada kejahatan memiliki dorongan yang sama kuatnya ketika pada masa muda. Itulah sebabnya, kegagalan dan keberhasilan seseorang, kematangan kepribadian manusia pada masa tua ditentukan oleh masa mudanya.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam sebuah Hadits, di antara tujuh kelompok yang mendapatkan naungan Allah Ta’ala pada hari ketika tak ada naungan selain naungan-Nya, adalah pemuda yang tumbuh berkembang dalam ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam pentas sejarah Islam, dengan mudah kita mendapati pemuda-pemuda yang namanya terukir dengan tinta emas. Mereka layak menjadi uswah (teladan) bagi pemuda generasi sekarang. Panutan yang sangat riil disaat pemuda kini kehilangan figur yang bisa dicontoh. Sebut saja misalnya, pemuda Ibrahim yang tumbuh di lingkungan masyarakat penyembah berhala.

Sejarah menyebutkan betapa hebatnya kekuatan ruhani Ibrahim. Ia menegakkan nilai-nilai tauhid justru di tengah dominasi dan hegemoni paham paganisme seorang diri. Bahkan ayah kandungnya sendiri menjadi musuhnya. Kalau bukan kesabaran dan keyakinan yang terpatri di dalam hati mustahil misi suci ini bisa diwujudkan.

Atau kisah pemuda Al-Kahfi, sebutan bagi para pemuda yang rela berdiam di dalam gua yang pengap. Mereka lebih memilih meninggalkan gemerlap kehidupan modern di kota daripada harus tenggelam dalam tatanan masyarakat yang rusak. Mereka para pemuda yang tak lagi memikirkan tawaran dunia sebab mereka lebih sibuk mengurus nasib akhirat. Alhasil, mereka itu sepakat menyelamatkan keimanan mereka dibanding mengurus dunia ini.

Karakteristik Pemuda Muslim

Sebagai sumber ilmu dan rujuan terbaik, al-Qur`an tidak hanya menyebutkan para pemuda tersebut sebagai sebuah kisah yang indah, tapi juga menjelaskan karakteristik sosok pemuda ideal bagi generasi berikutnya. Ia tak cukup untuk dikenang saja tapi nilai yang paling utama adalah meniru perilaku dan akhlak mereka sebagai teladan-teladan terbaik yang pernah ada.

Pertama, memiliki syaja’ah (keberanian) dalam menyatakan yang haq (benar) itu haq (benar) dan yang bathil (salah) itu bathil (salah). Karakter utama pemuda Muslim adalah siap bertanggung jawab dan menanggung risiko dalam mempertahankan keyakinannya.

Teladan spektakuler telah dicontohkan oleh pemuda Ibrahim pada masa Raja Namrudz, penguasa tirani ketika itu. Dengan gagah berani Ibrahim menghancurkan sekumpulan berhala kecil, lalu menggantung kapaknya ke leher berhala yang paling besar. Ibrahim ingin memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Kisah heroik ini dikisahkan secara bertutur dalam surah Al-Anbiya [21]: 56-70.

Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Seorang pemuda Muslim tak mengenal kata berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Semakin banyak ilmu yang dimilikinya, akan menghantarkan ia menyadari betapa banyak ilmu yang belum diketahui.

Firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (Al-Baqarah [2]: 260)

Ketiga, sosok pemuda Muslim selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus. Sikap mereka layaknya pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang dikisahkan Allah dalam surah al-Kahfi. Mereka berkumpul untuk merencanakan sebuah kebaikan dan saling menguatkan di dalamnya. Bukan berkelompok untuk mengadakan konspirasi jahat atau merencanakan suatu keburukan.

Jadi, para pemuda Muslim berkelompok bukan sekadar untuk huru-hara, kongkow-kongkow yang tidak jelas. Tetapi mereka berkelompok dalam kerangka ta’awun ala al-birri wa at-taqwa, bukan berkerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Keempat, selalu berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada perbuatan asusila. Dalam kondisi sekarang, hal ini menjadi suatu hal yang sangat berat. Dekadensi moral yang mendera masyarakat khususnya para pemuda. Belum lagi dominasi budaya Barat yang begitu menggila di tengah masyarakat menjadikan pergaulan islami menjadi sesuatu yang sangat mahal saat ini. Kisah kepribadian Nabi Yusuf sangat layak dijadikan teladan bagi para pemuda.

Kala itu pemuda Yusuf digoda oleh Zulaikha di dalam ruangan tertutup. Tak ada seorang pun yang tahu perbuatan mereka selain mereka berdua saja. Namun dengan akhlak yang terjaga serta pertolongan Allah tentunya, akhirnya sang pemuda tampan itu bisa lolos dari jeratan bujuk rayu Zulaikha yang dibisikkan oleh setan laknatullah. Allah berfirman, “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf [12]: 22-24).

Kelima, memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi. Jati diri pemuda Muslim terlihat pada sikap tidak pernah menyerah pada rintangan dan hambatan. Ia memandang berbagai kesulitan hidup adalah peluang untuk mengukir prestasi dan sarana kematangan jiwa.

Kekurangan materi yang melilit kehidupan sehari-hari, kesusahan hidup yang terus melekat erat tak jarang menjadikan seseorang kehilangan semangat hidup. Alih-alih berpikir positif untuk orang lain, seringkali orang seperti ini hanya bisa berpikir pragmatis saja. Sebaliknya, orang yang punya etos kerja tinggi akan berusaha terus. Meski duka lebih sering menyapa, tapi hal itu tak menyurutkan ghirah hidupnya. Ia tetap memiliki visi yang tajam serta himmah aliyah (tekad yang tinggi).

Hal itu diperagakan oleh sosok pemuda Muhammad yang menjadikan tantangan sebagai peluang untuk sukses hingga ia tumbuh menjadi pemuda yang bergelar Al-Amin (terpercaya) dari masyarakat. Segala rintangan dan kesulitan hidup hanya menjadi batu loncatan bagi pemuda Muhammad meraih kesuksesan hidup.

Setiap tahun, masyarakat kita memperingati hari Sumpah Pemuda di negara ini. Sayang, peringatan itu hanya sebatas kegiatan seremonial semata, tetapi miskin subtansi. Dengan adanya karakteristik sosok pemuda ideal yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi para pemuda Indonesia dahulu, masa kini dan masa depan. (red_berbagaisumber