Salah satu unit usaha pesantren berupa jasa penggergajian (gesekan) kayu kembali dijalani secara serius oleh Ustadz Syarki. Bersama rekannya Ustadz Suryadi, untuk saat ini, usaha gesekan memerlukan perhitungan yang matang dan akurat.

“Di samping memerlukan dana yang tidak sedikit, semakin mahalnya harga kayu di petani menyebabkan para pembeli rugi. Karena itu, usaha ini kudu dikelola secara proporsional” ungkapnya.
Selama 7 bulan memegang kendali, banyak hal yang harus dipelajari. Dari mencari petani yang menjual kayu hingga membuka relasi guna menjual hasil produksi. Beberapa relasi yang telah dirangkul antara lain adalah toko-toko material, para pembuat kusen, pabrik pembuatan palet juga kepada para suplayer yang berada di daerah Balaraja, Cikupa, atau daerah sekitar pesantren.
Untuk menjalankan roda usaha, unit usaha penggergajian pesantren ini masih memiliki 10 karyawan tidak tetap yang terdiri dari penebang, pengangkut, dan pengergaji. Sedangkan bagian pemasaran dan lainnya masih dirangkap oleh pengelola.
Meskipun di sekitar pesantren telah banyak usaha serupa dan memiliki modal yang kuat, namun Ustadz Syarki melihat optimis usaha ini. Dalam visinya, target yang ingin diwujudkan adalah menjadikannya unit usaha yang menguntungkan sehingga dapat membantu keuangan pesantren.

Jika ada yang membutuhkan balok, papan, kaso, reng, palet, dan lainnya dapat langsung pesan dan menghubungi pengelola atau datang langsung ke tempat usaha yang terletak di samping pesantren. Pihak pengelola juga membuka diri kepada semua pihak yang menawarkan kerja sama dalam membangun bisnis jasa ini. (WARDAN/Billah)




