Di pesantren, ada satu foto yang nilainya bertambah seiring waktu. Bukan foto pemandangan atau foto bangunan. Tapi foto angkatan — potret seluruh santri dalam satu jenjang atau satu asrama, berdiri bersama di satu tempat, dengan senyum yang pada saat itu terasa biasa tapi bertahun-tahun kemudian menjadi salah satu benda paling berharga yang pernah dimiliki.
Hari pengambilan foto angkatan selalu punya suasana yang berbeda dari hari-hari biasa.
Santri berpakaian rapi — lebih rapi dari biasanya. Seragam disetrika sampai licin. Peci diluruskan posisinya. Sepatu dibersihkan meskipun nanti akan tertutup barisan orang di depan. Semua orang ingin terlihat terbaik di foto yang mereka tahu akan dilihat lagi bertahun-tahun kemudian. Ada kesadaran kolektif bahwa momen ini adalah momen yang tidak bisa diulang — susunan wajah-wajah ini, di tempat ini, di waktu ini, hanya terjadi sekali.
Proses pengaturan barisan selalu penuh negosiasi kecil yang lucu. Santri yang tinggi berdiri di belakang. Yang pendek di depan. Teman dekat berusaha berdiri bersebelahan meskipun tingginya berbeda. Ustadz yang mengatur formasi kadang harus meminta santri pindah posisi berkali-kali sampai semua terlihat proporsional di kamera. Proses yang seharusnya memakan waktu sepuluh menit bisa berlangsung setengah jam — dan setiap menit dari proses itu sendiri sudah menjadi kenangan.
Momen ketika fotografer mengangkat kamera dan meminta semua tersenyum selalu punya energi tersendiri. Ratusan orang menatap ke satu titik yang sama di waktu yang sama. Senyum yang muncul kadang tulus, kadang dipaksakan karena matahari terlalu terik, kadang tertahan karena ada teman di belakang yang berbisik lelucon di detik terakhir. Suara klik kamera terdengar. Satu detik itu terekam. Dan kehidupan berlanjut seperti biasa.
Tapi bertahun-tahun kemudian, foto itu berubah menjadi sesuatu yang sangat berbeda.
Kita yang membuka foto angkatan lama tahu perasaan itu. Mata bergerak dari satu wajah ke wajah lain. Mengingat nama setiap orang — ada yang masih ingat jelas, ada yang harus berpikir sejenak. Melihat wajah teman yang sudah lama tidak bertemu dan bertanya-tanya bagaimana kabarnya sekarang. Menemukan diri sendiri di barisan dan terkejut betapa mudanya wajah itu — betapa berbedanya dari wajah yang sekarang terlihat di cermin setiap pagi.
Foto angkatan juga menjadi penghubung di era digital. Saat grup alumni dibuat di media sosial, foto angkatan sering menjadi hal pertama yang diunggah. Komentar langsung berdatangan — itu kamu yang mana, kok aku kurus banget, ingat tidak waktu itu kita berdiri sebelahan. Foto yang diambil dalam satu detik itu membuka percakapan yang bisa berlangsung berjam-jam, membawa kembali kenangan yang sudah bertahun-tahun tersimpan di sudut kepala.
Setiap orang dalam foto itu sekarang menjalani kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang sudah menikah dan punya anak. Ada yang sedang kuliah di luar negeri. Ada yang membangun bisnis. Ada yang mengabdi di dunia pendidikan. Keberagaman jalan hidup itu bermula dari satu titik yang sama — barisan foto angkatan di halaman pesantren, saat semua masih mengenakan seragam yang sama dan punya mimpi yang belum terbentuk jelas.
Di Darunnajah 2 Cipining, tradisi foto angkatan sudah berlangsung selama puluhan tahun. Setiap angkatan meninggalkan jejaknya dalam satu lembar foto yang menyimpan wajah-wajah dari satu momen tertentu — momen yang pada saat itu terasa biasa tapi akhirnya menjadi salah satu kenangan paling berharga.
Foto memang hanya menangkap satu detik. Tapi detik yang tepat bisa menyimpan seluruh perasaan dari satu masa kehidupan yang tidak akan pernah terulang.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.