Ciri Khas Filsafat Islam: Menolak Dikotomi
Jika kita bertanya, “Apa yang membedakan Filsafat Islam dari Filsafat Barat?” Maka jawabannya terletak pada tiga ciri khas berikut:
Pertama, Berbasis Wahyu. Dalam tradisi Islam, akal dan wahyu bukanlah dua entitas yang saling bermusuhan. Al-Qur’an sendiri puluhan kali menyeru manusia untuk berpikir (tafakkur), merenung (tadabbur), dan memahami (ta’aqqul). Wahyu membimbing akal agar tidak tersesat, sementara akal membantu memahami dan mengaplikasikan wahyu. Sebagaimana ditegaskan Dr. Adian Husaini, dalam Islam tidak ada dikotomi antara science dan religion, karena keduanya berasal dari sumber yang sama: Tuhan.
Kedua, Integratif. Filsafat Islam tidak mengenal pemisahan antara domain rasional, empiris, dan spiritual. Seorang filsuf Muslim juga bisa menjadi dokter (Ibnu Sina), astronom (Al-Battani), kimiawan (Jabir bin Hayyan), atau faqih (Al-Ghazali). Ilmu bagi mereka adalah satu kesatuan, semuanya mengarah pada pengenalan akan Tuhan (ma’rifah).
Ketiga, Bertujuan Ma’rifah. Inilah yang paling fundamental. Filsafat Barat modern, sejak Descartes, bertujuan pada kepastian (certainty). Filsafat Islam bertujuan pada kebijaksanaan (hikmah) dan pengenalan Tuhan.
Sebagaimana doa Nabi Muhammad SAW:
“Allahumma arina al-haqqa haqqan warzuqna ittiba’ah, wa arina al-batila batilan warzuqna ijtinabah”
Tradisi Keilmuan Islam; Sebuah Sistem yang Hidup
Dalam kuliah-kuliah, kami sering memulai dengan pertanyaan sederhana: “Dari mana kalian tahu bahwa apa yang kalian ketahui itu benar?”
Mahasiswa biasanya menjawab: “Dari pengamatan, Ust.” Atau, “Dari penalaran logis.” Jarang sekali yang menyebut wahyu sebagai sumber ilmu.
Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, sebagaimana dipaparkan dalam “Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam”, terdapat tiga sumber ilmu:
1. Pancaindra (Empiris).
2. Akal (Rasional).
3. Khabar Shadiq (Berita Benar).
Ketiganya tidak boleh dipertentangkan.
Dr. Dinar Dewi Kania menegaskan bahwa pengakuan tiga sumber ilmu ini adalah konsekuensi tauhid.
Hierarki Ilmu: Fardhu ‘Ain dan Fardhu Kifayah
Salah satu warisan terindah tradisi keilmuan Islam adalah hierarki ilmu.
Ilmu Fardhu ‘Ain → wajib bagi setiap Muslim.
Ilmu Fardhu Kifayah → wajib kolektif untuk kemaslahatan umat.
Penulis: Muhammad Irfanudin Kurniawan
