Pentingnya Memahami Ilmu Ushul Fiqh Dan Qawaidth Nya Pentingnya Memahami Ilmu Ushul Fiqh Dan Qawaidth Nya

Fathul Mu’jam Ajang Arungi Samudra Kosakata

“Dan Dia (Allah) ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya.”

Begitulah potongan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 31. Bahwa Allah mendidik langsung nabi Adam AS, berupa pemahaman nama-nama benda. Nama segala benda, hingga nama mangkuk besar dan mangkuk kecil.

Nama benda yang sudah ada, dan nama segala yang akan tercipta, hingga hari kiamat. Nama-nama malaikat. Nama-nama keturunan Nabi Adam AS.

Ada penafsiran lain bahwa Allah mengajari Nabi Adam AS segala jenis bahasa, lalu anak-anaknya berbicara dengan bahasa yang berbeda. Mereka kemudian tercerai berai ke berbagai penjuru bumi, sehingga menjadi sebuah bangsa yang terbentuk dari keturunan Nabi Adam AS, dan berbicara dengan bahasa khas bangsanya.

Maka sejak manusia masih berupa bayi, belum tahu apa-apa, belum tahu kosa kata. Lalu perlahan mulai paham dan dapat mengucapkan kosakata, walau belum sempurna.

Misalnya “yah” untuk “ayah”, “mam” untuk “mamam” atau “makan”, dan sebagainya. Hingga saat usianya bertambah dan seterusnya, bertambah pula kosakatanya dan berkembang.

 

Begitupun santri di pesantren berbasis mu’allimin dan mu’allimat. Seperti Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, Pondok Pesantren An Nur Darunnajah 8 Cidokom Gunung Sindur Bogor, dan lain-lain. Biasa pula disebut dengan pondok modern yang menggunakan kurikulum KMI/TMI. Pesantren yang menerapkan program bahasa arab dan inggris sebagai salah satu program unggulannya.

Saat santri masih berstatus santri baru. Kelas satu. Belum tahu dan paham kosakata bahasa asing. Perlahan namun pasti. Di awali pemberian kosakata oleh pengurus asrama di pagi hari ba’da qiraah Alquran. Tiga kosakata tiap pagi.

Yang di mana tiap kata dilengkapi dengan tiga kalimat sempurna. Jadi ada 9 kalimat di pagi hari yang didapat santri. Dalam sepekan, ada 5 pagi yang digunakan untuk pemberian kosakata. Maka santri mendapatkan 15 kosakata baru tiap pekan. Jadi ada 60 kosakata  dalam sebulan.

Dalam semester ada 5 bulan aktif. Maka ada 300 kosakata yang berhasil dihimpun oleh santri dalam satu semester. Satu tahun ada 600 kata yang didapatkan santri. Jika santri berhasil menempuh pendidikan hingga kelas 4, maka santri memiliki 2400 kata bahasa arab dan inggris.

Jika dikalikan dengan 9 kalimat maka terdapat 21.600 kalimat berbahasa arab dan inggris. Yang di mana di dalam kalimat, terdiri dari rangkaian kata-kata.

Belum lagi pembelajaran di dalam kelas. Terdiri dari beraneka ragam mata pelajaran berbahasa arab dan berbahasa inggris. Dan salah satu teknik pengajarannya adalah penyampaian kosakata, yang dianggap belum dipahami oleh santri.

Sebut saja pelajaran berbahasa arab seperti tamrin lughah, muthalaah, tafsir, hadis, tarikh Islam, mahfuzhat, nahwu, sharaf dan sebagainya. Pelajaran berbahasa inggris seperti reading dan grammar.

Pada saat santri kelas 4 semester 2. Di mana mereka mulai diberikan tanggung jawab menjadi pengurus asrama. Santri kelas 4 akan mendapati dan melaksanakan sebuah program yang sangat penting. Dan memang tidak ada yang tidak penting di pesantren. Yaitu sebuah program fathul mu’jam.

Di beberapa pesantren seperti Gontor, program ini diperuntukkan bagi santri kelas 5. Karena pengurus asrama di sana mayoritas dari kelas 5. Adapula yang melaksanakan dua kali. Saat di kelas 4 dan di kelas 5. Ada juga yang rutin dilaksanakan menjadi kegiatan sepekan sekali tiap siang, saat darsul idhafi.

 

Fathun yang dapat berarti buka, singgir (menyinggir; membuka/menyingkap tutup selubung). Al Mu’jam sinonim dari al qamus atau dalam bahasa Indonesia kamus.

Kamus sendiri dalam KBBI terdapat tiga makna. Pertama kamus bermakna karya rujukan atau acuan dalam bentuk cetak maupun digital yang memuat kata dan ungkapan, dapat disusun menurut abjad atau tema, berisi keterangan tentang makna, pemakaian atau terjemahan.

Kedua bermakna buku yang memuat kumpulan istilah atau nama yang disusun menurut abjad beserta penjelasan tentang makna dan pemakaiannya. Makna ketiga adalah diri dan pikiran.

Jadi program fathul mu’jam adalah program membuka kamus. Menyingkap kata dan ungkapan guna menjelaskan makna dan pemakaiannya. Dalam konteks ini dikhususkan pada bahasa arab.

Di mana memang mata pelajaran di pesantren, masih didominasi yang berbahasa arab. Namun secara substansi bermakna umum.

Tujuan dari program ini adalah mendidik kemandirian santri-santri dalam talabulilmi. Hal ini sesuai dengan nilai pondok yaitu panca jiwa yang ketiga. Santri tidak selalu bertumpu pada guru. Hanya menunggu. Tidak kreatif. Menjadi objek. Tidak demikian adanya. Namun santri tertuntut untuk mengamalkan syiar pesantren. Bahwa pesantren menyediakan kail bukan ikan. Memberikan kunci. Yang dengan kunci itu dapat membuka lemari pengetahuan apapun. Menjadikan santri sebagai subjek.

Di samping itu tujuan dari program ini adalah, santri dapat mengamalkan ilmu dasar yang sudah didapatkan sejak kelas satu hingga kelas tiga. Khususnya ilmu bahasa. Seperti tamrin lughah, nahwu dan sharaf. Dengan program ini, santri dapat membuka kitab-kitab klasik dan membacanya. Di saat menemukan kata-kata yang tidak dipahami, maka santri dapat membuka kamus. Dan menemukan makna yang tepat untuk kalimat yang tertulis di kitab tersebut.

 

Bagai samudra yang luas dan dalam. Begitupun kosakata yang juga sangat luas. Ratusan ribu kata dalam kamus. Bahkan jutaan kata tersebar. Yang setiap kata dapat memiliki banyak makna. Maka santri diberi kesempatan berharga mengarungi samudra kosakata.

 

M. Towil Akhirudin

Ponpes An-Nur Darunnajah 8 Cidokom Gunung Sindur Bogor