
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari kehendak dan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, termasuk kita sebagai manusia yang selalu diberikan dan tidak pernah putus dari nikmat-nikmat-Nya hingga sekarang ini, alhamdulillah.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa tujuan manusia diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak hanya manusia bahkan jin pun demikian. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
(الذاريات: 56)
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS: adz-Dzariyat: 56)
Kandungan sebagian ayat-ayat dalam al-Qur’an berisi tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kita diwajibkan untuk melaksanakan dan itu menjadi sebuah amal perbuatan.
Dan amal perbuatan manusia ada yang diterima dan ada juga yang tidak alias tertolak.
Lalu, apakah ada amal yang langsung diterima dan tidak pernah tertolak? Jawabannya ada, apalagi kalau bukan shalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ini didasarkan pada firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
(ا(لأحزاب:56
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS: al-Ahzab: 56)
Dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari sahabat Aus bin Aus ra.:
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُولُونَ بَلِيتَ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاء
(رواه أبو داود)
Artinya: “Sesungguhnya hari jum’at adalah diantara hari-hari kalian yang terbaik, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bagaimana shalawat kami disampaikan kepadamu sementara engkau sudah meninggal? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan jasad para nabi atas bumi.”
Pertama, dari ayat di atas kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk shalat, puasa, zakat dan naik haji tapi Allah sendiri tidak melakukannya.
Tidak pada shalawat kepada Nabi dan Allah sendiri pun melakukannya bersama para malaikat-Nya. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa keutamaan bershalawat sudah dibuktikan oleh ayat ini, dan masih banyak keutamaan lain insya Allah kita bahas di kesempatan yang lain.
Kedua, dari hadits tersebut bahwa shalawat yang kita panjatkan kepada kanjeng Nabi langsung disampaikan kepada beliau, tanpa melihat apakah orang yang bershalawat itu ikhlash atau tidak.
Dan dalam hadits yang masyhur kita mengetahui bersahalawat kepada Nabi satu kali akan dibalas oleh Allah dengan 10 shalawat.
Kalau kita membahas keutamaan shalawat tidak cukup diisi dalam dua halaman saja. Semoga kita termasuk dari umat Beliau yang senantiasa bershalawat kepadaya di sepanjang waktu kita.
Insya Allah kita akan membahas lagi bersama tentang kemuliaan Rasul kita, para sahabatnya dan umatnya.
Ditulis oleh Earvan Dzul Fahmi Ahda, Alumni Universitas Islam Madinah dan Guru Pondok Pesantren Darunnajah