Dua Dekade Harakat Akhir Ramadhan di Pondok Pesantren Darunnajah

Suasana Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta pada hari-hari terakhir Ramadhan 1447 H terasa berbeda dari hari-hari biasa. Seluruh sudut pesantren berdenyut lebih khusyuk: lantunan Al-Qur’an mengalir lebih panjang, kajian berlangsung hingga dini hari, dan ratusan santri bergerak bersama dalam satu ritme yang terencana. Itulah wajah Harakat Akhir Ramadhan (HARAM)—program penutupan Ramadhan yang telah menjadi tradisi tahunan Darunnajah sejak tahun 2006, dan kini memasuki hampir dua dekade penyelenggaraannya.
Tradisi yang Tumbuh Bersama Pesantren
Tidak banyak pesantren yang mampu mempertahankan sebuah program intensif selama hampir dua puluh tahun berturut-turut. Darunnajah adalah salah satunya. Sejak pertama kali digelar pada 2006, HARAM terus disempurnakan dari tahun ke tahun—bukan sekadar diulang, melainkan diperkaya dengan konten yang relevan, kepanitiaan yang semakin matang, dan pertanggungjawaban yang semakin transparan.
Hal ini sejalan dengan perjalanan panjang institusi itu sendiri. Darunnajah bermula dari sebuah Madrasah Islamiyah yang dirintis K.H. Abdul Manaf Mukhayyar pada 1938 di Petunduan, Jakarta. Dua puluh tiga tahun kemudian, pada 1961, madrasah itu berganti nama menjadi Darunnajah—rumah keberhasilan. Lompatan besar terjadi pada 1974 ketika lembaga ini resmi berdiri sebagai Pondok Pesantren bermukim penuh. Dua belas tahun berselang, pada 1986, Darunnajah mendirikan Institut Agama Islam Darunnajah (IAID) yang kini telah berkembang menjadi Universitas Darunnajah. Dari madrasah 1938 hingga universitas hari ini, Darunnajah adalah cerita tentang kesabaran, konsistensi, dan keberanian bertransformasi.
HARAM 1447 H: Program Terstruktur, Anggaran Transparan
Pada penyelenggaraan tahun ini, HARAM 1447 H diikuti oleh 183 santri kelas akhir yang didampingi 20 asatidz sebagai panitia pelaksana. Rangkaian kegiatan mencakup i’tikāf, khataman Al-Qur’an, tausiyah intensif, kajian kitab, hingga simulasi praktik ibadah pasca-Ramadhan—semuanya dirancang untuk memastikan santri tidak sekadar ‘menyelesaikan’ Ramadhan, melainkan keluar darinya sebagai pribadi yang lebih siap menghadapi kehidupan.
Secara manajerial, HARAM 1447 H dikelola dengan standar tata kelola yang profesional. Porsi terbesar—83,6 persen—dialokasikan langsung untuk kegiatan, mencerminkan komitmen bahwa anggaran sungguh-sungguh berbicara tentang substansi, bukan administrasi.
Laporan keuangan ditandatangani pada 30 Ramadhan 1447 H / 20 Maret 2026 oleh Ketua Panitia Ust. Muhammad Bintang Ibnu Ghazi, diketahui Direktur Hubungan Masyarakat Ust. Fady Zulham Shah, S.Pd., dan disetujui Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, Assoc. Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si. Rantai akuntabilitas yang jelas ini adalah bukti bahwa Darunnajah memperlakukan kepercayaan komunitas dengan serius.
Dari Harakat Menuju Hijrah
Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, Assoc. Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si., dalam keterangannya menegaskan bahwa HARAM bukan sekadar agenda penutupan kalender Ramadhan.
“HARAM adalah jembatan. Kami ingin santri tidak mengalami kejutan spiritual ketika keluar dari Ramadhan. Mereka harus meninggalkan bulan ini dengan bekal—bukan dengan kekosongan. Hampir dua dekade kami lakukan ini, dan kami melihat sendiri bagaimana program ini membentuk karakter santri secara nyata.”
Beliau juga mengingatkan bahwa Darunnajah kini mengemban tanggung jawab besar: 23 cabang, lebih dari 13.000 santri, dan 1.135 hektare aset wakaf yang tersebar di seluruh Indonesia. “Konsistensi dalam hal-hal kecil seperti HARAM inilah yang menjaga identitas Darunnajah tetap utuh, dari pusat hingga ke cabang-cabang,” imbuhnya.
Kini dan Ke Depan
Seiring HARAM memasuki hampir dua dekade perjalanannya, Darunnajah kini sedang mendorong program ini untuk semakin terdokumentasi secara akademik. Rekam jejak hampir dua puluh tahun penyelenggaraan adalah aset penelitian yang berharga—baik untuk pengembangan internal maupun sebagai kontribusi bagi khazanah kajian pendidikan pesantren di Indonesia.
Pada 30 Ramadhan 1447 H, ketika laporan keuangan HARAM ditandatangani dan panitia membubarkan diri, sebuah siklus kembali ditutup dengan bermartabat. Dan ketika Idul Fitri tiba, 183 santri kelas akhir itu akan melangkah keluar dari gerbang Darunnajah bukan sekadar sebagai orang yang telah berpuasa—melainkan sebagai pribadi yang telah berharakat, berpindah, dan siap untuk berhijrah.