Yang disebut dengan wanita sholehah bukan dilihat dari wajahnya yang cantik, tapi dilihat dari hatinya yang tersembunyi dibalik itu.
Yang disebut dengan wanita sholihah bukan dilihat dati gelar, pangkat, dan jabatannya yang tinggi, tapi dilihat bagaimana ketaatan dia kepda penciptaNYA.
Yang disebut dengan wanita sholihah bukan dilihat dari kulitnya yang halus tapi dilihat dari kesungguhannya agar tidak menyusahkan orang lain.
Yang disebut dengan wanita sholehah bukan dilihat dari intelegensinya tapi lihatlah dari caranya memberi arti kehidupan.
Yang disebut dengan wanita sholihah bukan dilihat dari jumlah hartanya tapi lihatlah cara mensyukuri pemberianNYA itu.
Kemudian…..
Siapakah wanita yang memenuhi kriteria itu semua???
Kita dapat menyebutnya sebagai Miss Poor, dialah ASMA BINTI ABU BAKAR, putri sahabat Rosululloh saw, Abu Bakar As-Shidiq r.a, beliau adalah istri dari Az-Zubair bin Awwam, seorang lelaki miskin yang hanya memiliki seekor kuda. WalaupunAz-zubair miskin harta tetapi kesolehannya tidak diragukan lagi.
Sayyidah Asma pernah mengeluh terhadap ibundanya tentang keadaannya yang miskin sebagaimana Abu Bakar r.a dalam riwayatnya berkata,”wahai putriku,bersabarlah karena jika wanita memiliki suami yang soleh, kemudian suaminya meninggal dan dia tidak menikah setelah itu, maka ALLAH akan menyatukan keduanya di syurga.”
Walaupun miskin Sayyidah Ssma tidak bakhil sedikitpun. Justru sebaliknya,sebagaimana ia pernah mengadukeadaan hidupnya yang miskin terhadap Rosululloh saw., “wahai Rosululloh…dirumahku tidak terdapat apa pun, kecuali sesuatu yang dihasilkan Zubair. Apakah aku boleh memberikan sesuatu yang sedikit kepada orang yang mengunjungi rumahku?”
Kemdian Rosululloh saw menjawab “kasih saja apa yang bisa kamu berikan dan jangan terlalu bakhil sehingga kau dianggap bakhil.”
Mengenai kedermawanan itu, Muhammad bin Al-Mundzir r.a berkomentar, “dia adalah wanita yang suka berkorban”
Bahkan saking dermawannya dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa ketika menjelang ajalnya ia memerdekakan semua budak yang dimilikinya, sebagaimana Abdulloh meriwayatkan,”aku tidak pernah melihat seorang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma.”
Subhanalloh! Itulah sifat yang patut kita teladani. Walaupun miskin tidak menjadi penghalang baginya untuk berdermawan.
Dari sinilah kita belajar bahwa tidak perlu menunggu kaya untuk menjadi seorang dermawan. Salah satu contohnya yaitu sayyidah Asma kemiskinan yang dialaminya tidak menghalangi tuk berdermawan.
Bahkan dalam kemiskinannya dia tetap bersabar dan bersyukur terhadap apa yang terlah ia miliki. Selain itu dibalik sifat penyabarnya ini dia pun pekerja keras seperti layaknya seorang lelaki bahkan mungkin semangatnya mengalahkan lelaki.
Sebagaiman ia berkata ”Az-Zubair menikahiku, sementara dia tidak memiliki apapun selain seekor kuda. Akulah yang mengurusi kudanya itu,memberinya makan dan minum, juga membuat adonan untuk roti. Aku mengambil biji-bijian dari lading milik Az-Zubair yang diberikan Rosululloh saw, dengan cara memanggulnya diatas kepala yang jaraknya dua pertiga farsakh.”
Suatu hari aku pulang dengan membawa biji-bijian diatas kepala, lalu aku berpapasan dengan Rosululloh saw, beserta beberapa orang, lalu beliau memanggilku seraya berkata ”mari…mari…!”. Maksudnya beliau menyuruhku agar aku dibonceng dibelakang beliau. Namun, aku malu dan aku juga memberitahukan kecemburuan Az-Zubair , maka beliau pun melanjutkan perjalannya.
Kemudian, setelah tiba dirumah, Asma memberitahukan hal itu kepada Az-Zubair. Maka beliau berkata ”Demi ALLAH, engkau membawa biji-bijian itupun lebih membuat aku cemburu daripada engkau dibonceng beliau.”
Atas kemuliaan pribadi Asma binti Abu Bakar ini, ALLAH SWT mengkaruniakan harta yang banyak. Lalu ketika keadaannya serba berkecukupan, Asma semakin dermawan. Sangkin dermawannya mereka tidak pernah menyimpan harta sedikitpun untuk hari esok. Sebagaimana ayahnya berpesan, “nafkahkannlah dan shodaqohkanlah! Jangan kalian melihat keutamaan karena jika kalian melihat keutamaan itu, sebenarnya kalian tidak memiliki keutamaan sedikitpun. Jika bershodaqoh, kalian tidak akan kehilangan apapun yang kalian shodaqohkan.”
Asma binti Abu Bakar yang mulia ini dijuluki dengan sebutan dzu nithaqoin. Alasannya, ketika dia hijrah dia memotong ikat pinggang untuk mengikat lubang kantong dengan salah satu potongan ikat pinggangnya.
Kemudian Wanita ini juga sangat lembut, namun dibalik kelembutannya ini dia juga dapat berubah menjadi seorang yang pemberani. Bahkan sangat berani terhadap musuhnya, orang-orang musyrik quraisy. Sebagaimana dalam suatu riwayat dikatakan, “setelah rosululloh saw dan abu bakar keluar, bebrapa orang Quraisy menemuinya, diantaranya Abu Jahl bin Hisyam. Mereka berdiri diambang pintu, lalu Asma keluar menemuinya. Merekapun menanyakan Abu bakar, ayahnya, dan Asma pun menjawab tidak tahu. kemudian Abu Jahl menampar pipinya”
Selain itu dia pun bergabung juga dengan suaminya dalam perang yarmuk. Dia pun ikut merasakan kemenangan dalam perang itu. Bukti keberaniannya dalan suatu riwayat diceritakan bahwa wanita mulia ini mengambil belati Sa’id bin Ash, dan meletakan dibawah sikunya. Dia bertanya, “apa yang kau lakukan?” asma menjawab,” jika ada seorang pencuri masuk maka aku robek perutnya.”
Kemudian Umar bin Khottob memberikannya hadiah seribu dirham atas keberaniannya.
Dia ingin mencari barokah dari air zamzam sebagaiman fakihy menyebutkannya bahwa Asma memandikan anaknya, Abdulloh bin Az-Zubair dengan air zamzam, seperti yang biasa dilakukan oleh penduduk makkah.
Atas kemulian perilakunya wanita ini termasuk dalam wanita ahli surga. Sebagaimana Rosululloh saw bersabda, “sesungguhnya dengan dua potong ikat pinggang ini engkau mendapatkan dua ikat pinggang di surga.”
Selain itu, kemuliaannya pribadinya juga tercermin dari perilaku hidupnya, karena seluruh hidupnya dipersembahkan untuk akhirat dan dia selalu berusaha beramal sholeh.
Az-Zubair bin Al-Awwam ra. Mengatakan “aku menemui asma yang sedang sholat dan ku dengar dia menbaca al-qur’an.”
Wanita yang mulia ini meninggal dunia di makkah setelah anaknya bernama Abdulloh bin zubair ra, meninggal dunia pada selasa, 17 jumad ula tahun 73 H. Saat meninggal dia berusia 100 tahun. Walaupun usianya 100 tahun namun giginya tidak ada yang rontok satupun, bahkan akal pikirannya masih utuh alias tidak pikun. [Ummu Hurairoh]