Ketika malam ta’ziah, Ust. Ustadz Abdul Somad عبد الصمد hafizhahullah bercerita mengenang almarhumah Ibundanya, “Mak ku tu, gemar bersedekah. Setiap melihat orang susah, pasti cerito ke kami untuk membantu orang tersebut. Tapi dia tak pernah minta ke aku. Hanya cerito sajo, kalau duitnyo tak cukup untuk membantu. Aku paham, ujung-ujungnyo pasti tambahan untuk sedekah itu.”

Beliau juga bercerita, ketika sampai di bandara Medan waktu wafat maknya, dijemput oleh Pak gubernur. Ungkapnya, “Pas saya keluar bandara, langsung dikasih pak Edi duit, tebal (sembari merenggangkan jempol dan telunjuknya). Teringat saya, rupanya duit mak dulu yg dimasukkannya ke amplop yg tipis tu. Setiap kotak tu, duit, duit, duit. Itulah yg dia bagi. Itu duit dia sendiri, entah dia tahan selera makan dia, atau duit sawitnya yg dibagi-bagi. Dia tak pernah minta duit. Hari ini, Allah perlihatkan balasannya.”

Kalau kenduri (mengundang orang tuk makan-makan) di Silau Laut, mak saya selalu masak rendang sendiri di Pekanbaru. Tak pernah pesan di katering. “Kenapa mak buat rendang jauh-jauh di Pekanbaru, tidak di Asahan sajo?” Tanya ku. Jawab mak saya, “Aku tak tau yg memasak ghondang (rendang) tu, bebasuh konciangnyo apo tidak (maksudnya, dalam keadaan berwudhu atau tidak).” Ternyata mak saya tu kalau memasak, selalu mencuci beras, ikan jo daging, di akhirnyo selalu disirami jo air sholawat. Baju pun dicucinyo jo air shalawat. Patutlah berkah hidup ini. Makanya, yg bertuah itu bukan saya, tapi mak (terlihat mata beliau berkaca-kaca menahan tangis).

Lanjut beliau, “Mak saya sangat perhatian dalam pendidikan anaknyo. Waktu kecil, mak selalu menghantarkanku ke guru-guru ngaji dengan rotan yg sudah dibelah empat. “Ini aku serahkan anakku, Abdul Somad, ini rotan. Tolong ajari anakku. Kalau jahat Somad ni nanti, pukullah cu (panggilan untuk yg lebih kecil). Pukullah cu.” Ujar mak saya. Begitulah mak saya, selalu menyerahkan aku ke guru-guru untuk belajar mengaji sejak kecik. Dan tak pernah lupa mengontrol pendidikan anaknya.

Setelah itu, beliau mengungkap tentang ibadah maknya. “Mak saya tu, kuat ibadahnya. Saya tak sanggup. Ba’da Maghrib ke isya, dia duduk di sajadah. Jam 9 dia tidur. Jam 2 bangun untuk shalat tahajjud & dzikir. Buku wiridnyo toba (tebal). Sudah tu, dia mandi sebelum shubuh. Setiap senin kamis puasa. Makanya pas dia wafat, dalam keadaan puasa sesudah sahur.”

Suatu hari, Ust. Abdul Somad pernah menguping percakapan antara maknya dan sahabatnya, uwak iti. “Apo kau do’akan anak kau?” tanya uwak Iti. “Dulu… waktu dia tu di Mesir, di Maroko, setiap malam ku bacakan anakku tu, 100 kali al-Fatihah. Tiap malam.” Jawab mak saya kepada sahabatnya tadi.

“Mak tak pernah cerita itu ke saya. Patutlah saya di Mesir, tak pernah sakit, tak pernah domom (demam), di Maroko pun sehat wal ‘afiyat. Tapi sekarang saya mulai khawatir, karena mak dah tiada. Tidak ada lagi do’a mustajab dari beliau.” Ungkap beliau.

Maa syaa Allah… Kesholehan seorang ibu, kunci kesuksesan dunia akhirat seorang anak. Do’a ibu adalah keberkahan hidup seorang anak. Patutlah engkau memiliki anak seperti gurunda Ust. Abdul Somad hafizhahullah. رحمك الله وغفر ذنبك يا أم

Teruntuk para ibu… Teruslah dekatkan dirimu kepada Allah. Ketuklah pintu Rabbmu di setiap penghujung malam dengan shalat dan munajatmu. Agar anakmu menjadi shaleh & hidup anakmu dalam berkah & ridho Rabbmu. Tidakkah engkau ingin seperti Hj. Rohanah rahimahallah, yg mendapatkan do’a kaum Muslimin dari seluruh penjuru negeri?

Teruntuk para anak… Teruslah cari ridho ibu dan ayahmu. Jangan berhenti berbuat kebaikan kepada & untuk mereka. Mintalah selalu do’a mereka. Khususnya do’a ibunda. Agar hidupmu penuh berkah dan ridho Rabbmu. Sehingga kebahagiaan selalu menyertai langkahmu. Tidakkah engkau ingin ibumu mendapatkan kedudukan mulia di sisi Rabbmu?

ربنا اغفر لنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا وارفع درجتهما في الدنيا والآخرة… آميـــن

Kampung Syahadah, 17 Rajab 1440 H
Rasyid Minangkabawi