Pondok Pesantren Darunnajah menerima kunjungan tiga pemateri internasional dalam rangkaian Global International Holistic Education Summit (GIHES) 2026 pada Selasa, 8 September 2026, bertempat di Baitunnadwah. Dalam kesempatan tersebut, para tamu turut berkeliling pondok dan berinteraksi langsung dengan santri, serta menyampaikan kekaguman terhadap padatnya aktivitas santri sehari-hari, yang tidak hanya aktif di dalam kelas, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan di luar kelas.
Tamu yang hadir adalah Prof. Dato’ Ts. Dr. Norazah Mohd. Nordin dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Dr. Mahamood Shihab K.M., Principal Anshar Training College for Women, Perumpilavu, Thrissur, Kerala, India dan Prof. Dr. Nuri Tinaz dari Marmara University, Istanbul, Turkiye.
Konsep Islamic Holistic Education yang menjadi sorotan dalam acara kunjungan tamu GIHES 2026 telah lama dijalankan Pondok Pesantren Darunnajah dalam kesehariannya. Berbeda dengan sekolah formal yang hanya mengisi jam pelajaran, pesantren mengisi seluruh waktu santri selama 24 jam, mulai dari bangun subuh hingga lampu asrama dipadamkan malam hari.

Para tamu bercengkrama dan berdiskusi dengan santri menanyakan kegaiatan yang dilakukan santri di Darunnajah. Santri menjelaskan kegiatan harian santri diisi dengan shalat berjamaah, murojaah hafalan, kegiatan belajar formal selama tujuh jam, hingga berbagai aktivitas di luar kelas seperti mengajar, berorganisasi, dan berlatih pidato.
Pola inilah yang menjadi inti dari pendidikan holistik, di mana yang dibentuk bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga karakter santri secara menyeluruh. “Santri bersekolah selama 7 jam, namun menerima pendidikan selama 24 jam.”
Salah satu wujud nyatanya terlihat dari sistem darsul masa’, yaitu kegiatan mengajar sore yang dijalankan langsung oleh santri senior kepada adik kelasnya. Sebelum mengajar, santri diwajibkan menyusun i’dad atau persiapan mengajar secara tertulis, yang harus melalui proses tashih atau koreksi dari musyrif sebelum dinyatakan layak digunakan.
Tanggung jawab serupa juga tercermin dari peran bendahara organisasi santri, yang di usia belasan tahun sudah dipercaya mengelola perputaran dana kegiatan hingga ratusan juta rupiah dalam setahun. Setiap periode, laporan keuangan tersebut diaudit dan dipertanggungjawabkan secara terbuka di hadapan seluruh anggota organisasi.
Peran kepemimpinan turut diasah melalui posisi mudabbir, yakni santri senior yang bertanggung jawab menangani berbagai persoalan di asrama, mulai dari konflik antarsantri hingga pendampingan emosional bagi santri baru yang belum terbiasa jauh dari keluarga.

Selain itu, kemandirian dan disiplin berbahasa juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter santri, mulai dari mengurus kebutuhan pribadi secara mandiri hingga kewajiban berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam keseharian.
Rangkaian kebiasaan tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan holistik di pesantren tidak cukup hanya disampaikan lewat teori, melainkan dibentuk melalui pembiasaan yang dijalani santri setiap hari, secara konsisten dan berkesinambungan.
Kunjungan para pemateri internasional ini menjadi bagian penting dari rangkaian GIHES 2026, sekaligus membuka ruang dialog dan pertukaran gagasan antara Darunnajah dengan para akademisi dan praktisi pendidikan dari Malaysia, India, dan Turkiye. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkaya wawasan seluruh civitas akademika Darunnajah dalam mengembangkan pendidikan yang holistik dan berkarakter di tengah tantangan zaman.
