Darunnajah Pertahankan Nilai-nilai Gontor di Tengah Dinamika Metropolitan Darunnajah Pertahankan Nilai-nilai Gontor di Tengah Dinamika Metropolitan

Darunnajah Pertahankan Nilai-nilai Gontor di Tengah Dinamika Metropolitan

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta terus mempertahankan sistem, kultur, dan nilai-nilai pendidikan Islam yang berakar dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Hal ini terbukti di tengah dinamika masyarakat metropolitan Jakarta yang jauh berbeda dari lingkungan asal pesantren tersebut.

Nilai-nilai panca jiwa pesantren, yakni keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan, tidak hanya hidup subur di kawasan perdesaan. Nilai-nilai tersebut juga mampu bertahan dan berakar kuat di tengah gaya hidup masyarakat ibu kota.

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah sekaligus Presiden Universitas Darunnajah, Assoc. Prof. K.H. Sofwan Manaf, menegaskan bahwa hubungan historis dan ideologis antara Darunnajah dan Gontor bukan sekadar kerja sama formal di atas kertas. “Hubungan tersebut lahir dari kepercayaan antar sahabat, restu para kiai pendiri (Trimurti Gontor), serta dedikasi empat generasi keluarga besar perintisnya,” ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa kehadiran Gontor di Darunnajah bukan dalam bentuk cabang, melainkan melalui jalinan keluarga, guru, dan tata kelola. “Gontor hadir di Darunnajah bukan sebagai cabang, melainkan lewat keluarga, guru, dan tata kelola,” katanya.

Menurutnya, rekam jejak hubungan ini bertumpu pada keyakinan dan nilai-nilai dasar yang konsisten diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai yang diajarkan dan diterapkan di Gontor dinilai mampu dibawa ke kehidupan metropolitan dan modern tanpa kehilangan jati diri.

“Orang tua kami, K.H. Abdul Manaf Mukhayyar, terikat dengan visi para pendiri Gontor, asas wakafnya, hingga Islamnya yang progresif,” kata K.H. Sofwan Manaf. Menurutnya, hal inilah yang memikat hati pendiri sehingga seluruh anak, cucu, hingga cicitnya dikirim ke Gontor untuk menimba ilmu di sana.

Jejak perkenalan pendiri Darunnajah, K.H. Abdul Manaf Mukhayyar, dengan Gontor bermula sejak 1958 melalui jaringan sahabat dan tokoh Betawi. Sejak dikirimnya putra sulungnya, Saifuddin Arief, pada Desember 1959, rantai kaderisasi keluarga di Ponorogo tidak pernah terputus selama 67 tahun.

Hingga tahun 2026, tercatat sebanyak 63 orang anggota keluarga besar K.H. Abdul Manaf Mukhayyar, terdiri dari anak, cucu, cicit, hingga menantu, merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Bahkan pada peringatan Seabad Gontor tahun ini, generasi cicit keluarga tetap melanjutkan tradisi kelulusan, dengan sembilan anggota keluarga lainnya masih aktif nyantri di Ponorogo.

Penerapan kurikulum dan sistem pengajaran di Darunnajah mengadopsi pola Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) Gontor yang disesuaikan menjadi Tarbiyatul Mu’allimin/Mu’allimat al-Islamiyah (TMI). Penyesuaian ini dilakukan tanpa mengurangi esensi pembentukan watak, disiplin, penggunaan bahasa asing (Arab dan Inggris), serta tradisi kelembagaannya.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, K.H. Hadiyanto Arief, menyoroti bahwa kekuatan utama yang membuat eksistensi Darunnajah dan Gontor tetap independen di mata publik terletak pada sistem wakaf dan kemandirian ekonomi. “Kekuatan moral dan keberanian para kiai dalam menyatakan kebenaran timbul dari kemandirian,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa independensi pesantren tercapai karena tidak bergantung pada bantuan pihak luar maupun pemerintah. Menurutnya, keberadaan Darunnajah di Jakarta menjadi bukti konkret bagi masyarakat luas bahwa sistem pendidikan pesantren yang berdikari, modern, dan berkarakter tetap relevan menjawab tantangan zaman.

Kehadiran model pendidikan ini di ibu kota turut membawa dampak positif yang signifikan dalam merawat citra pesantren sebagai benteng moral dan pusat kemajuan umat yang inklusif serta mandiri. “Pada momen peringatan seratus tahun Gontor, Pondok Pesantren Darunnajah dianugerahi penghargaan bergengsi 100 Tahun Award sebagai salah satu pesantren rintisan alumni tertua yang paling istiqamah meneruskan estafet nilai-nilai perintis Gontor di kawasan metropolitan,” tutup K.H. Hadiyanto Arief.