Sebanyak 285 santriwati bersama 10 pembimbing mengunjungi Indonesia International Book Fair di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, pada 2 Oktober 2026. Kunjungan bertajuk Wisata Literasi ini bertujuan memperluas wawasan global sekaligus memperkuat budaya literasi di kalangan santri. Buku, pada akhirnya, adalah jendela yang membuat dunia terasa dekat bagi siapa pun yang mau membukanya.
Di pameran berskala internasional tersebut, para santriwati berkesempatan menjelajahi ribuan literatur dari berbagai penerbit dalam dan luar negeri. Mereka melihat langsung beragam judul, mulai dari buku pengetahuan hingga bacaan penunjang pembelajaran. Pengalaman ini memberi gambaran nyata tentang betapa luas dan beragamnya dunia perbukuan.
Selain menjelajahi buku, para santriwati juga mengenal perkembangan dunia penerbitan global. Mereka berinteraksi langsung dengan ekosistem literasi yang lebih luas, yang mempertemukan penerbit, penulis, dan pembaca dalam satu tempat. Bagi santriwati yang sehari-hari belajar di lingkungan pesantren, suasana ini menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana ilmu pengetahuan diproduksi dan disebarkan.

Buku-buku berkualitas yang diperoleh dari pameran ini nantinya berfungsi memperkaya referensi dan sumber belajar di lingkungan Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Dengan demikian, manfaat kunjungan tidak berhenti pada hari pelaksanaan. Koleksi baru tersebut dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh santri lainnya dalam waktu yang lama.
Kegiatan ini juga dirancang sebagai sarana rekreasi edukatif atau edutainment. Suasana pameran yang segar dan berbeda dari rutinitas harian membantu menyegarkan pikiran para santriwati. Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas, sebab rasa ingin tahu sering tumbuh paling subur ketika seseorang berada di tempat yang baru.
Kegiatan berjalan dengan tertib dan disambut antusias oleh para santriwati. Rombongan mengikuti rangkaian kunjungan dengan teratur, sementara semangat mereka terlihat dari ketertarikan menjelajahi satu per satu area pameran. Kedisiplinan dan antusiasme ini menjadi modal penting bagi generasi yang ingin belajar sepanjang hayat.
Ada pesan yang mendalam di balik kunjungan ini. Dalam Islam, perintah pertama yang diterima Rasulullah adalah Iqra, yang berarti bacalah. Perintah itu menempatkan membaca sebagai pintu awal menuju ilmu, sekaligus fondasi bagi lahirnya generasi intelektual yang berpikiran terbuka dan mencintai ilmu pengetahuan. Santriwati yang terbiasa akrab dengan buku sedang menapaki jalan yang sama.

Semoga semangat literasi ini terus tumbuh dan tidak berhenti di gerbang pameran. Mari kita dukung para santriwati dengan mendorong kebiasaan membaca di rumah, di pesantren, maupun di lingkungan sekitar. Dukungan sederhana, seperti menghadiahkan buku atau menemani mereka membaca, dapat menjadi dorongan besar bagi tumbuhnya budaya literasi.
