Dari Dua Belas Kartu ke Dua Belas Pikiran: Mengajar Abstraksi dengan Cara Nyata Dari Dua Belas Kartu ke Dua Belas Pikiran: Mengajar Abstraksi dengan Cara Nyata

Dari Dua Belas Kartu ke Dua Belas Pikiran: Mengajar Abstraksi dengan Cara Nyata

Pernahkah Anda membayangkan mengajar filsafat logika dengan isi dompet?

Saya pernah.

Suatu pagi, di kelas 12 SMA Darunnajah, saya menghadapi tantangan klasik: bagaimana menjelaskan at-tajrīd (التجريد) dan al-ma’nā al-mujarrad (المعنى المجرد) kepada santri yang lebih akrab dengan FYP TikTok daripada kitab kuning. Saya bisa saja membaca definisi dari kitab, tetapi saya tahu itu tidak akan cukup.

Lalu saya membuka dompet.

Dua Belas Kartu, Dua Belas Cerita

Di tangan saya, ada dua belas kartu. Empat kartu ATM dari bank berbeda: BSI, Muamalat, BJB, dan CIMB Niaga. Dua kartu uang elektronik: Jak Lingko dan satu lagi pemberian kenang-kenangan dari kelas 12. Kartu identitas: KTP, SIM A, SIM C. Kartu dosen. Kartu BPJS Kesehatan. Kartu asuransi lainnya.

Saya membagikan semua kartu itu kepada dua belas santri. Satu kartu per orang. Lalu saya memberi instruksi sederhana:

“Perhatikan kartu yang kamu pegang. Tuliskan tiga ciri fisik yang paling kentara.”

Mereka mulai mengamati. Ada yang memperhatikan warna. Ada yang fokus pada bentuk. Ada yang menyentuh permukaannya, merasakan tekstur plastik yang halus. Ada yang membolak-balik, melihat logo dan tulisan di kedua sisinya.

Definisi At-Tajrīd dan Al-Ma’nā al-Mujarrad dari Kitab

Dalam kitab yang kami gunakan, dijelaskan bahwa at-tajrīd adalah:

“انتراع الصفات العامة التي تشترك فيها أمثلة مختلفة متشابهة ثم تكوين صورة عامة لأفراد تلك الأمثلة المتشابهة”

Artinya: at-tajrīd adalah mengambil ciri-ciri umum yang dimiliki bersama oleh benda-benda.

Inilah inti dari proses abstraksi dalam logika. Ketika para santri mengamati dua belas kartu yang berbeda-beda, mereka sedang dalam proses tajrīd. Mereka mencari dan mengambil ciri-ciri umum di antara semua kartu itu, seperti bentuk persegi panjang, bahan plastik, atau adanya tulisan dan logo.

Adapun hasil dari proses tajrīd itu disebut al-ma’nā al-mujarrad yaitu:

“المعنى المجرد هو المعنى المنتزع من علمه أمثاله بعد مضافاتها وتوجيه النظر”

Artinya: makna yang diambil dari pengetahuan tentang contoh-contohnya, setelah menghilangkan tambahan-tambahannya dan memfokuskan pandangan. Ia adalah gambaran mental murni yang telah “dikosongkan” dari segala ciri fisik yang tidak esensial.

Setelah para santri selesai menulis ciri fisik, saya kumpulkan semua kartu, acak, lalu letakkan di meja. Saya mulai bertanya satu per satu:

“Kartu yang kamu pegang tadi, apa cirinya?”

Jawaban mereka beragam:

“Bentuknya persegi panjang, Ustadz.”
“Warnanya biru.”
“Ada chip di bagian depan.”
“Ada nama dan nomor di belakang.”
“Bahannya plastik.”

Dari semua jawaban itu, saya minta mereka mencari ciri-ciri umum yang dimiliki oleh semua kartu.

Mereka pun sepakat bahwa semua kartu berbentuk persegi panjang, terbuat dari plastik, dan memiliki tulisan atau logo di permukaannya. Inilah yang disebut tajrīd, yaitu mengambil ciri-ciri umum yang dimiliki bersama oleh benda-benda.

Lalu saya tanya lagi:

“Sekarang, setelah kalian mengambil ciri-ciri umumnya, apa gambaran abstark tentang ‘kartu’ yang tersisa di pikiran kalian?”

Mereka mulai membayangkan sebuah benda persegi panjang dari plastik dengan tulisan di atasnya, tanpa memikirkan warna atau logo spesifiknya. Gambaran mental murni inilah yang disebut al-ma’nā al-mujarrad.

Dengan cara ini, para santri tidak hanya memahami definisi, tetapi juga mengalami sendiri proses tajrīd dan menghasilkan ma’nā mujarrad di dalam akal mereka.

Minal Ma’lum ilal Majhul: Dari yang Dikenal ke yang Tidak Dikenal

Metode ini bukan sekadar trik mengajar. Ini adalah aplikasi dari prinsip logika tertua: minal ma’lum ilal majhul (من المعلوم إلى المجهول), dari yang diketahui menuju yang tidak diketahui.

Santri sudah tahu kartu. Mereka memegangnya setiap hari. Itu adalah ma’lum (yang diketahui). Tapi mereka belum tentu tahu konsep tajrīd dan ma’nā mujarrad. Itu adalah majhul (yang belum diketahui). Dengan menghubungkan yang dikenal (kartu) ke konsep abstrak, saya membangun jembatan pemahaman.

Ini persis seperti metode mengajar Nahwu Wadhih:

  1. Al-Amtsilah (Contoh). Dua belas kartu dengan ciri-ciri berbeda.
  2. Asy-Syarh (Penjelasan). Diskusi tentang ciri-ciri umum dan fungsi kartu, serta pengenalan istilah tajrīd dan ma’nā mujarrad.
  3. Al-Qawa’id (Kaidah). Definisi tajrīd sebagai pengambilan ciri-ciri umum, dan ma’nā mujarrad sebagai gambaran mental murni.
  4. At-Tadribat (Latihan). Minta santri menerapkan pada benda lain di sekitar mereka.

Abstraksi di Kehidupan Sehari-hari

Setelah sesi kartu, saya ajak santri melangkah lebih jauh. Jika tajrīd bisa dilakukan pada kartu, lalu apa lagi?

Saya beri contoh dan proses tajrīd-nya secara bertahap:

Contoh 1: Jeruk

  1. Para santri mengamati jeruk: warna oranye, bentuk bulat, kulit berpori, rasa manis-asam.
  2. Mereka mengambil ciri-ciri umum yang dimiliki semua jenis jeruk, seperti warna oranye, rasa asam-manis, dan kulit berpori. Inilah tajrīd.
  3. Gambaran mental “jeruk” murni di dalam akal, tanpa membayangkan jeruk tertentu. Inilah al-ma’nā al-mujarrad.

Contoh 2: Kursi

  1. Santri mengamati kursi kayu, kursi plastik, kursi roda, kursi goyang.
  2. Mereka mengambil ciri-ciri umum, yaitu “tempat duduk yang memiliki sandaran dan kaki”, dan mengabaikan warna, bahan, dan bentuknya. Inilah tajrīd.
  3. Gambaran mental “kursi” murni di dalam akal, yang berlaku untuk semua jenis kursi. Inilah al-ma’nā al-mujarrad.

Contoh 3: Keadilan

  1. Santri menyebutkan contoh-contoh peristiwa adil: guru memberi nilai sesuai kemampuan, polisi menilang semua pelanggar tanpa pandang bulu, hakim memutus perkara berdasarkan bukti.
  2. Mereka mengambil ciri-ciri umum dari semua contoh itu, yaitu “memberikan hak kepada setiap orang sesuai dengan porsinya tanpa diskriminasi”. Inilah tajrīd.
  3. Gambaran mental “keadilan” murni di dalam akal, yang menjadi standar untuk menilai peristiwa-peristiwa di dunia nyata. Inilah al-ma’nā al-mujarrad.

Dari ketiga contoh ini, santri memahami bahwa tajrīd bisa dilakukan pada berbagai tingkatan, dari yang konkret hingga yang abstrak. Semakin tinggi tingkat abstraksi, semakin besar peran akal dan semakin kecil peran indra.

Mengapa Ini Penting?

Di era banjir informasi, kemampuan tajrīd menjadi senjata survival.

Setiap hari santri dihadapkan pada ribuan konten: video, berita, status, komentar. Tanpa tajrīd, mereka akan tenggelam dalam detail yang tak berguna.

Tajrīd mengajarkan mereka untuk mengambil ciri-ciri umum dan mengabaikan yang tidak penting.

Mereka belajar melihat yang universal di balik yang partikular, yang abadi di balik yang sementara.

Mereka belajar tidak terjebak pada penampilan.

Kesimpulan

Dua belas kartu di dompet saya telah menjadi alat untuk mengajarkan salah satu konsep terpenting dalam logika Islam, yaitu at-tajrīd.

Pelajaran ini mengingatkan saya bahwa mengajar bukanlah sekadar menyampaikan definisi. Mengajar adalah menciptakan pengalaman.

Ketika santri memegang kartu, merasakan plastiknya, melihat warnanya, lalu diajak mengambil ciri-ciri umum dan membentuk gambaran mental murni, mereka tidak hanya memahami tajrīd dan ma’nā mujarrad. Mereka mengalaminya secara langsung.

Dan pengalaman, seperti kata pepatah, adalah guru terbaik.


Muhammad Irfanudin Kurniawan adalah dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.