Dari Cipining menuju Kairo dan Malaysia Dari Cipining menuju Kairo dan Malaysia

Dari Cipining menuju Kairo dan Malaysia

Dari Cipining menuju Kairo dan Malaysia

Ketika Mimpi Seorang Santri Menjadi Jalan Panjang Menuntut Ilmu

H. Muhammad Shafwan Ubaydillah, Lc., MIRKH

Ada mimpi yang awalnya tampak sederhana. Bahkan mungkin bagi sebagian orang hanya sebatas angan-angan seorang santri. Namun, ketika mimpi itu disertai doa, ikhtiar, kesungguhan, hafalan, adab, dan keberanian untuk melangkah, Allah dapat membukakan jalan yang jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan.

Begitulah perjalanan H. Muhammad Shafwan Ubaydillah, Lc., MIRKH—sebuah perjalanan menuntut ilmu yang bermula dari Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Bogor, kemudian berlanjut ke Al-Azhar, Kairo, dan akhirnya sampai di International Islamic University Malaysia (IIUM).

Mimpi Itu Bermula di Cipining

Tahun 2012 menjadi titik awal perjalanan tersebut. Saat itu, Muhammad Shafwan Ubaydillah memutuskan menjadi santri di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, sebagai bagian dari angkatan ke-25. Ia termasuk santri putra terakhir yang masih menempati Kampus 1, sebelum seluruh santri putra kemudian dipindahkan ke Kampus 3. Di Darunnajah, ia bukan hanya belajar ilmu agama. Di sanalah perlahan ia menemukan arah, membangun kemampuan, sekaligus menumbuhkan sebuah impian besar.

Bahasa Arab menjadi salah satu bekal penting yang ditempanya. Ia belajar muhadatsah, menghafal mufradat dan vocabulary, mendalami nahwu, sharaf, serta berbagai kaidah bahasa Arab lainnya. Apa yang kala itu mungkin terasa sebagai rutinitas harian seorang santri, ternyata kelak menjadi modal berharga dalam perjalanan akademiknya. Namun, sebuah peristiwa sederhana kemudian mengubah arah mimpinya.

“Saya Harus ke Al-Azhar!”

Suatu hari Jumat, di hadapan seluruh santri, tiga orang senior—Kak Isa, Kang Nung, dan seorang teman mereka—berpamitan untuk melanjutkan studi ke Al-Azhar, Kairo. Peristiwa itu begitu membekas. Dari sana lahir sebuah tekad yang sederhana, tetapi kuat:

“Saya harus keluar negeri. Saya harus ke Al-Azhar, seperti mereka.”

Mimpi itu semakin menguat ketika pada masa liburan ia menyaksikan film Ayat-Ayat Cinta. Bagi sebagian orang, film mungkin hanya hiburan. Tetapi bagi dirinya, film tersebut justru menjadi pemantik yang kembali menyalakan cita-cita untuk suatu hari belajar dan menuntut ilmu di Kairo. Di sinilah menariknya perjalanan sebuah mimpi: terkadang Allah menghadirkan inspirasi melalui sesuatu yang sangat sederhana, lalu menanamkannya menjadi tekad yang terus tumbuh.

Al-Qur’an Menjadi Bekal Perjalanan

Memasuki tahun kedua di Darunnajah, ia mengambil keputusan untuk lebih fokus mengikuti program tahfidz reguler. Keputusan itu ternyata menjadi salah satu bekal paling berharga dalam perjalanan akademiknya. Hafalan Al-Qur’an tidak berhenti sebagai pencapaian pendidikan. Ia justru menjadi teman yang terus menyertai perjalanan panjangnya dalam menuntut ilmu. Setelah menyelesaikan pendidikan di Darunnajah, kesempatan untuk mewujudkan mimpi itu datang melalui seleksi Kementerian Agama untuk melanjutkan studi ke Timur Tengah.

Alhamdulillah, Allah menakdirkan langkahnya sampai ke negeri para ulama: Mesir. Menjejak Al-Azhar, Kairo

Sesampainya di Mesir, ia memasuki lingkungan Al-Azhar yang mempertemukannya dengan tradisi keilmuan Islam yang moderat, para ulama yang alim, serta lingkungan akademik yang penuh keteladanan. Perjalanan di negeri yang jauh itu juga terasa lebih hangat karena kehadiran para senior Ikatan Keluarga Pesantren Darunnajah (IKPDN) Mesir yang menyambut dan mendampinginya.

Tahun pertama di Al-Azhar diisi dengan kelas persiapan bahasa atau Darul Lughah, yang ditempuh kurang lebih selama satu tahun. Setelah itu, perjalanan akademiknya berlanjut selama empat tahun di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an. Alhamdulillah, seluruh pendidikan tersebut berhasil diselesaikan tepat waktu dengan predikat sangat baik. Satu mimpi telah menjadi kenyataan. Tetapi ternyata perjalanan belum selesai.

Dari Kairo Melanjutkan Langkah ke Malaysia

Setelah menyelesaikan studi S1, terbuka berbagai peluang untuk melanjutkan pendidikan ke sejumlah negara, di antaranya Yordania, Tunisia, Malaysia, Brunei, dan beberapa negara lainnya. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi panjang, Allah kembali menakdirkan langkahnya menuju International Islamic University Malaysia (IIUM). Di sana ia melanjutkan pendidikan di Abdul Hamid AbuSulayman Kulliyyah of Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences (AHAS KIRKHS). Fokus studinya adalah Qur’an and Sunnah Studies, dengan kajian yang bersentuhan dengan berbagai isu kontemporer sekaligus pembahasan mendalam seputar Al-Qur’an dan Sunnah.

Jika di Kairo ia menempuh perjalanan akademik selama beberapa tahun, di Malaysia pendidikan tersebut dapat diselesaikannya dalam waktu sekitar satu setengah tahun, dengan predikat cumlaude.

Dari Cipining menuju Kairo.

Dari Kairo menuju Malaysia.

Sebuah perjalanan geografis yang jauh, tetapi sesungguhnya berawal dari satu tempat yang sangat dekat: sebuah pondok pesantren. Tidak Ada Proses yang Sia-Sia Menoleh kembali ke perjalanan tersebut, ia menyadari bahwa tidak ada satu pun proses yang benar-benar sia-sia. Pelajaran bahasa Arab di Darunnajah, hafalan Al-Qur’an, muhadatsah, nahwu, sharaf, kedisiplinan, nasihat para asatidz, hingga berbagai pengalaman hidup sebagai seorang santri—semuanya ternyata menjadi bagian yang saling terhubung dalam perjalanan panjang tersebut.

Karena itu, Darunnajah baginya bukan sekadar tempat belajar.

Darunnajah adalah tempat sebuah mimpi pertama kali tumbuh.

Dari sebuah pondok di Cipining, Allah membuka jalan menuju Kairo.

Dari Kairo, Allah kembali membawa langkahnya ke Malaysia.

Dan dari perjalanan itu lahir sebuah pelajaran besar: Allah tidak selalu memperlihatkan seluruh jalan sejak awal.

Terkadang Allah hanya meminta kita berani mengambil langkah pertama. Setelah itu, pintu demi pintu dibukakan pada waktu yang paling tepat.

Pesan untuk Santri: Jangan Takut Bermimpi

Kisah ini pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang pendidikan seseorang.

Ia adalah pesan untuk para santri yang hari ini sedang duduk di ruang-ruang kelas, menghafal Al-Qur’an, belajar bahasa Arab, menyelesaikan tugas, mengikuti berbagai kegiatan, dan mungkin diam-diam menyimpan sebuah cita-cita besar.

Jangan pernah merasa bahwa mimpi kalian terlalu tinggi.

Jangan malu untuk bermimpi.

Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jagalah adab. Hormati para guru. Mintalah ridha Pak Yai dan seluruh asatidz. Sebab keberhasilan tidak semata-mata lahir dari seberapa tinggi cita-cita seseorang, tetapi juga dari seberapa tulus ia menjalani proses untuk mencapainya.

Jangan lelah menghafal.

Jangan bosan memperbaiki diri.

Dan jangan takut bermimpi.

Sebab bisa jadi, mimpi yang hari ini hanya tersimpan di dalam hati, suatu saat Allah wujudkan menjadi perjalanan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dibayangkan.

Bermimpilah setinggi mungkin.

Berusahalah sekuat mungkin.

Berdoalah sebanyak mungkin.

Jagalah adab dan hormati guru.

Lalu serahkan hasilnya kepada Allah.

Insya Allah, selama niat baik, ikhtiar, doa, adab, dan ridha guru terus dijaga, Allah akan membuka jalan dengan cara-Nya sendiri.

Apa Itu Gelar “MIRKH”?

Bagi sebagian pembaca Indonesia, gelar MIRKH mungkin terdengar asing.

MIRKH merupakan singkatan dari Master of Art in Islamic Revealed Knowledge and Heritage, yaitu gelar magister di International Islamic University Malaysia (IIUM) yang berada dalam bidang Islamic Revealed Knowledge and Heritage. Dokumen resmi IIUM mencantumkan program tersebut sebagai program Master of Art in Islamic Revealed Knowledge and Heritage (MIRKH).

Secara sederhana, gelar ini dapat dipahami sebagai gelar magister dalam bidang ilmu-ilmu Islam yang bersumber dari wahyu dan khazanah keislaman. Dalam konteks perjalanan H. Muhammad Shafwan Ubaydillah, Lc., MIRKH, pendidikan tersebut ditempuh dengan fokus Qur’an and Sunnah Studies di AHAS KIRKHS, IIUM. Dengan demikian, Lc. menandai pendidikan sarjana yang ditempuhnya di Al-Azhar, Kairo, sedangkan MIRKH menunjukkan jenjang magister yang ditempuhnya di IIUM, Malaysia.

Dari Cipining, bermimpi tentang Kairo.

Dari Kairo, melanjutkan langkah ke Malaysia.

Dari sebuah mimpi, lahirlah perjalanan ilmu.

Dan mungkin, di situlah pesan terbesarnya bagi setiap santri:

«Jangan takut bermimpi. Karena kita tidak pernah tahu, melalui langkah kecil hari ini, sejauh apa Allah akan membawa kita esok hari.»