Dari Aula hingga Masjid, Santri Uji Kekuatan Hafalan Al-Qur’an Empat Hari Penuh Dari Aula hingga Masjid, Santri Uji Kekuatan Hafalan Al-Qur’an Empat Hari Penuh

Dari Aula hingga Masjid, Santri Uji Kekuatan Hafalan Al-Qur’an Empat Hari Penuh

Dari Aula hingga Masjid, Santri Uji Kekuatan Hafalan Al-Qur’an Empat Hari Penuh

Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) 2026 digelar sejak Sabtu, 28 Oktober hingga 31 Oktober 2026 di Aula dan Masjid Kamp 3. Kegiatan ini diselenggarakan Divisi Tahfizhul Qur’an dan diikuti santri tahfizh kelas 1 sampai 5 TMI. Hingga berita ini ditulis, perlombaan masih berlangsung dengan lancar. Bagi para santri, musabaqah ini menjadi ruang untuk membuktikan bahwa hafalan yang dijaga setiap hari layak diuji di hadapan banyak orang.

Jadwal perlombaan disusun mengikuti kondisi setiap hari. Sebagian besar sesi berlangsung pada siang dan sore hari, sementara sesi pagi diadakan ketika situasi memungkinkan. Para peserta tampil bergantian di hadapan dewan juri. Santri yang sedang tidak berlomba duduk sebagai penonton, sehingga setiap kelas mendapat kesempatan merasakan dua peran sekaligus.

Dewan juri terdiri dari santri kelas 6 dan para asatidz tahfizh. Komposisi ini memberi pengalaman tersendiri bagi santri senior untuk menyimak dan menilai bacaan adik-adik kelasnya. Mereka mendengarkan kelancaran hafalan, ketepatan bacaan, dan ketertiban peserta selama tampil. Di sisi lain, para asatidz memastikan penilaian tetap berpegang pada kaidah bacaan yang benar.

Dalam sambutannya, Kepala Lembaga Tahfizhul Qur’an (LTQ) Sayid Humam Alhaq, Lc. menegaskan tujuan kegiatan ini. Beliau merupakan pemegang sanad Al-Qur’an riwayat Hafs dan Syu’bah dari Imam Ashim, serta lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Menurut panitia, MHQ dirancang untuk memperkuat mutu hafalan dan memperbaiki kualitas bacaan para santri tahfizh.

Panitia menetapkan empat sasaran yang ingin dicapai melalui musabaqah ini:

  • Menguatkan mutu hafalan dan memperindah bacaan santri tahfizhul Qur’an.
  • Menumbuhkan budaya muraja’ah (mengulang hafalan) yang intens.
  • Memetakan dan menemukan santri yang unggul dalam hafalan Al-Qur’an.
  • Membentuk mental dan kepercayaan diri santri.

Hafalan Al-Qur’an pada dasarnya adalah pekerjaan yang sunyi. Seorang santri mengulang ayat demi ayat di sudut asrama, di serambi masjid, atau selepas shalat, jauh dari sorotan. Musabaqah menghadirkan momen sebaliknya, yaitu saat hafalan itu dibacakan di depan orang lain. Dari sinilah rasa gugup dilatih menjadi keberanian. Dalam tradisi Islam, menjaga Al-Qur’an adalah amanah yang terus diperbarui lewat pengulangan, bukan sekali selesai.

Dari Aula hingga Masjid, Santri Uji Kekuatan Hafalan Al-Qur’an Empat Hari Penuh

Antusiasme santri terlihat sejak hari pertama. Mereka menyambut kegiatan ini dengan semangat, baik yang tampil maupun yang menyimak. Panitia juga bekerja penuh dedikasi menyiapkan seluruh kebutuhan teknis, mulai dari tempat, jadwal, hingga pengaturan penampilan peserta. Kerja bersama inilah yang membuat rangkaian acara berjalan tertib.

Kegiatan seperti MHQ menunjukkan bahwa kualitas hafalan lahir dari kebiasaan yang dijaga, bukan dari persiapan sesaat. Para santri diharapkan terus melanjutkan muraja’ah setelah musabaqah usai, sebab pencapaian terbesar adalah hafalan yang tetap kuat bertahun-tahun kemudian. Bagi orang tua dan masyarakat, dukungan doa serta perhatian terhadap proses menghafal anak-anak akan sangat berarti. Mari ikut menjaga semangat mereka agar cahaya Al-Qur’an terus tumbuh dari generasi ke generasi.