
Sebanyak 47 ustadz dan ustadzah dari berbagai lembaga Darunnajah berkumpul dalam Sima’an Akbar Yayasan Darunnajah di Aula Al-Ghozali, Jumat pagi, 2 Oktober 2026. Kegiatan ini diselenggarakan Departemen Humas dan Dakwah, khususnya bagian tahfidz. Mereka saling menyimak hafalan Al-Qur’an yang telah dikumpulkan, meski belum semuanya mutqin atau kokoh. Pesan yang tersirat jelas: menjaga hafalan tidak perlu menunggu sempurna, karena menunggu kesempurnaan sering membuat langkah pertama tak pernah dimulai.
Acara dibuka oleh Ustadz Nasikhun Sugik, S.E., M.M., Wakil Pengasuh Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Pembukaan itu menandai dimulainya rangkaian simakan yang berlangsung sepanjang pagi. Suasana aula tertata dengan baik, dan para peserta mengikuti jalannya acara sejak awal hingga akhir. Kehadiran pimpinan pesantren sebagai pembuka memberi isyarat bahwa kegiatan ini mendapat perhatian serius.
Jumlah peserta tercatat 47 orang yang berasal dari seluruh lembaga Darunnajah. Mereka terdiri atas guru laki-laki dan perempuan dengan rincian berikut:
- 20 ustadz
- 27 ustadzah
Seluruh peserta berasal dari kalangan pendidik, sehingga tidak ada santri yang hadir sebagai penonton. Komposisi ini menunjukkan bahwa para guru sendiri bersedia duduk sebagai pembelajar. Mereka memberi contoh bahwa menghafal dan mengulang Al-Qur’an adalah kebiasaan yang perlu terus dihidupkan, bahkan oleh mereka yang sehari-hari mengajar.


Harapan yang mengiringi kegiatan ini sederhana tetapi mendasar. Sima’an Akbar menjadi sarana memperdalam dan mengingat kembali hafalan yang sudah terkumpul. Para peserta didorong untuk tidak menunda kegiatan sampai hafalan benar-benar mutqin. Sebab, jika harus menunggu hingga kokoh, tidak ada kepastian kapan kegiatan serupa bisa terlaksana.
Alasan lain penyelenggaraan adalah menjaga tali silaturrahmi antarpeserta. Para ustadz dan ustadzah berasal dari lembaga yang berbeda, dan kesempatan untuk berkumpul dalam satu majelis tidak selalu ada. Melalui simakan, mereka saling mengingatkan ayat yang terlupa dan saling menguatkan semangat menghafal. Hubungan antarguru pun terjalin lebih hangat lewat bacaan yang sama.
Kegiatan berjalan lancar. Semua peserta aktif mengikuti acara dari awal sampai selesai, baik saat membaca maupun saat menyimak. Keterlibatan itu menjadi tanda bahwa kegiatan ini diterima dengan baik oleh para pesertanya. Tidak ada kendala berarti yang tercatat selama pelaksanaan.
Di balik kesederhanaannya, sima’an menyimpan makna yang dalam. Hafalan ibarat tanaman yang perlu disiram setiap hari agar tidak layu. Dalam tradisi para penghafal, mengulang atau muraja’ah adalah bagian dari perjalanan, bukan garis akhir. Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa Allah yang menurunkannya dan Dia pula yang menjaganya (QS Al-Hijr: 9), dan manusia diberi kesempatan mengambil bagian dalam penjagaan itu.


Majelis pagi itu mengingatkan bahwa proses lebih penting daripada sekadar hasil yang tampak. Hafalan yang belum sempurna tetap berharga bila terus dirawat bersama. Semoga kegiatan seperti ini berlanjut dan menjadi kebiasaan yang menular ke seluruh warga Darunnajah. Bagi pembaca, khususnya orang tua, alumni, dan masyarakat sekitar, mari ikut menjaga Al-Qur’an dengan membacanya setiap hari, mengulang hafalan sedikit demi sedikit, dan mendoakan para guru yang setia mendampingi.
