Cikal Bakal Group Nasyid Dai Nada

Cikal Bakal Group Nasyid Dai Nada

Siapa yang tidak kenal dengan group Nasyid Dai Nada? Group Nasyid yang menjajal karir dan sukses di Cairo Mesir ini ramai dibicarakan didunia maya. Siapa sangka, ternyata Nur Akhyari (motor dari Dai Nada) yang mempopulerkan lagu “Sejuta Harapan” adalah alumni dari Darunnajah Cipining tahun 2003. Selama di Pesantren, Pria yang memiliki mata sipit ini memang multi talenta dan memiliki semangat yang besar dalam mencapai keinginannya. Dan, nama Dai Nada pun (ternyata) sudah dipopulerkan oleh beliau dan rekan-rekan munsyid lainnya sejak beliau duduk dibangku Madrasah Aliyah (setingkat SMA).

Menurut Ustadz Rachmat yang juga turut merintis Nasyid di Darunnajah Cipining menuturkan bahwa, Akhyari ini dalam mempelajari suatu keahlian atau bidang Ilmu begitu sungguh-sungguh, seperti pepatah termasyhur yang berbunyi; Man Jadda Wajada. Ya, benar saja, selepas beliau belajar dan ahli main guitar, beliau beralih belajar memainkan orgen atau piano, termasuk juga mengasah kemampuannya dalam berbahasa. Bahasa yang didalaminya adalah Bahasa Arab, Bahasa Inggris hingga bahasa Prancis. “Kamus saja dihafal, lho!” tutur ustadz Rahmat.

Awalnya memang berawal dari hobby bernasyid, santri-santri yang memiliki hobby yang sama dan memiliki kelebihan dari suaranya dikumpulkan dan dibentuklah group Nasyid dengan nama RONDA DAI NADA (nama pada saat itu) dengan aliran Acapella. RONDA kepanjangan dari Rombongan Nasyid Darunnajah, sedangkan DA’I adalah jiwa para munsyid untuk menyampaikan kebenaran dengan berdakwah (seorang Da’I), dan NADA adalah Nada dan Dakwah. Sejak eksis di Pesantren, Group nasyid ini mulai aktif mengisi di acara-acara Besar Pesantren, seperti PORSEKA, hingga ke acara-acara yang tingkatnya Nasional. Bahkan Dai Nada kerap kali diundang untuk mengisi acara di TVRI pada acara Kuliah Shubuh. Suatu prestasi tersendiri. Penampilan Perdana tahun 2002, Nur Akhyari bersama rekan-rekan munsyid lainnya membawakan Nasyid “Membaca” bisa dilihat di video ini :

Tahun 2003 Nur Akhyari lulus dengan nilai Mumtaz (Istimewa) dan mencoba untuk melanjutkan ke negri Piramid, Mesir. Beberapa bulan berlalu, rupanya bakat bernasyid ini dibawa dan ditularkan pada rekan-rekan barunya sesama Mahasiswa Cairo asal Indonesia. Maka Terbentuklah group nasyid dengan nama DAI NADA saja, (tanpa RONDA) dengan tetap menjadikan Accapela sebagai aliran nasyidnya. Akhyari pun berharap, semoga dengan Dai Nada ini bisa eksis dan mengharumkan nama Indonesia dengan karya terbaiknya.

Perjuangan yang besar, tentu menghasilkan buah yang besar juga. Dai Nada akhirnya menelurkan satu buah album pertama, sekaligus menggarap serius klipnya. Waktu peluncuran Perdananya adalah pada hari Sabtu (10/3/2007) di gedung Auditorium Fakultas Kedokteran Al-Azhar. Selain itu juga, Dai Nada sering mendapatkan tawaran untuk tampil di TV Channel Timur Tengah, misalnya Huda channel dan Maazika, hingga stasiun radio Nojoom FM 100,6. Hingga saat ini, Dai Nada terus mendapatkan banyak tawaran hingga dari berbagai negara tetangga. Memang luar biasa, di Indonesia saja album Perdana belum beredar, tetapi di Timur Tengah sudah beredar CD bahkan VCD nya. Group Nasyid yang beralamatkan di dainada.com ini malah langsung dikenal duluan di dunia internasional sebelum dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Itulah sekelumit kisah cikal bakal Lahirnya Dai Nada yang mulai dirintis di Darunnajah Cipining. Sementara munsyid-munsyid yang pernah bergabung di Dai Nada dan masih berada di Darunnajah Cipining diantaranya adalah; Ust Nur Fathoni, Ust Nur Shodiq, Ust Nur Rohman, dan Ust Sulaeman. Mereka bersama yang lainnya membuat group nasyid aliran baru yakni aliran Shalawat dengan musik kolaborasi antara Marawis dan Gendang. Yang unik dari Group nasyid Sholawat ini adalah personil yang memegang alat perkusi masih berusia 5 tahun, yang tidak lain adalah putra pertama dari Ust Nur Fathoni. Subhanallah.. (WARDAN/Abu Adara)

Pendaftaran Santri Baru