Cerita Santri yang Menjadi MC Tiga Bahasa di Usia Empat Belas Tahun

Bagaimana seorang santri bisa menjadi MC tiga bahasa di usia yang masih sangat muda?

Empat belas tahun. Di usia itu, kebanyakan remaja masih canggung berbicara di depan kelas saat diminta memperkenalkan diri. Tapi di sebuah acara besar pesantren, seorang santri berusia empat belas tahun berdiri di podium, memegang mikrofon, dan memandu jalannya acara dalam tiga bahasa secara bergantian: Indonesia, Arab, dan Inggris. Tanpa teks, tanpa rasa ragu yang terlihat.

Cerita ini bukan tentang satu anak yang lahir dengan bakat istimewa. Cerita ini tentang apa yang terjadi ketika sebuah sistem pendidikan dirancang untuk memunculkan potensi yang selama ini mungkin tersembunyi di dalam diri setiap anak.

Dari mana kemampuan berbahasa itu terbentuk?

Pesantren yang menerapkan kurikulum TMI memiliki tradisi bilingual yang sudah berjalan selama puluhan tahun. Setiap pekan, bahasa pengantar berganti antara bahasa Arab dan bahasa Inggris. Bukan hanya di kelas, tapi di seluruh aktivitas keseharian. Percakapan di kantin, obrolan di asrama, pengumuman di masjid, semuanya mengikuti jadwal bahasa yang berlaku minggu itu.

Awalnya memang sulit. Santri baru sering merasa frustrasi karena belum terbiasa. Kosakata yang terbatas membuat komunikasi terasa kaku. Tapi setelah beberapa bulan, sesuatu berubah. Bahasa yang tadinya terasa asing perlahan menjadi bagian dari cara berpikir, bukan sekadar hafalan. Perubahan itu terjadi tanpa disadari, justru karena bahasa dipraktikkan dalam konteks kehidupan nyata, bukan hanya di ruang kelas.

Apa peran muhadhoroh dalam membentuk kemampuan berbicara di depan umum?

Muhadhoroh adalah tradisi latihan pidato tiga bahasa yang dijalankan setiap pekan. Seluruh santri wajib mengikutinya, bukan hanya yang merasa percaya diri berbicara. Di sinilah kunci pembentukannya. Ketika semua orang harus tampil, maka tampil di depan umum bukan lagi sesuatu yang luar biasa. Itu menjadi hal yang biasa.

Santri berlatih menyusun pidato dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris secara bergantian. Kakak kelas yang sudah lebih berpengalaman membimbing adik kelas yang baru pertama kali mencoba. Proses itu menciptakan lingkungan di mana kesalahan adalah bagian dari belajar, bukan sesuatu yang memalukan.

Setiap kali seorang santri naik ke podium dan berhasil menyelesaikan pidatonya, ada kepercayaan diri yang tumbuh sedikit demi sedikit. Dari yang awalnya suaranya gemetar, pelan-pelan menjadi tegas. Dari yang awalnya matanya tertunduk ke kertas, perlahan berani menatap penonton. Perubahan itu tidak terjadi dalam satu malam, tapi dampaknya bertahan seumur hidup.

Kenapa kemampuan menjadi MC tiga bahasa bukan kebetulan?

Santri yang akhirnya dipercaya menjadi MC acara besar pesantren sudah melewati ratusan kali latihan kecil sebelumnya. Setiap muhadhoroh mingguan, setiap kesempatan memimpin acara kecil di asrama, setiap momen membacakan pengumuman di masjid, semuanya adalah batu loncatan yang tidak terlihat dari luar.

Sistem pendidikan dua puluh empat jam membuat latihan ini berlangsung terus-menerus dalam berbagai konteks. Santri tidak hanya belajar berbicara, tapi juga belajar membaca situasi, menyesuaikan bahasa dan nada bicara dengan audiens, serta mengelola waktu acara. Keterampilan itu terbentuk secara holistik karena pesantren memberikan ruang untuk mempraktikkannya setiap hari.

Apa dampak kemampuan ini untuk masa depan santri?

Kemampuan berbicara di depan umum dalam tiga bahasa adalah keterampilan yang langka. Di dunia profesional, orang yang bisa berkomunikasi dengan percaya diri dalam bahasa Arab dan Inggris memiliki akses ke peluang yang jauh lebih luas. Universitas di Timur Tengah, Eropa, dan negara-negara berbahasa Inggris menjadi pilihan yang terbuka lebar. Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, banyak alumni yang melanjutkan pendidikan ke berbagai benua berbekal kemampuan bahasa yang diasah sejak masa mondok.

Tapi dampak yang paling besar mungkin bukan soal bahasa itu sendiri. Melainkan keberanian untuk berdiri dan menyuarakan sesuatu di hadapan orang banyak. Keberanian itu, sekali terbentuk, tidak pernah hilang.

Bagaimana cara mengetahui lebih lanjut tentang program bahasa di pesantren?

Program bahasa dan muhadhoroh adalah salah satu pilar utama pendidikan di pesantren. Untuk melihat langsung bagaimana santri berlatih dan berkembang, kunjungan ke pesantren bisa dilakukan kapan saja. Saksikan sendiri bagaimana remaja berusia belasan tahun berbicara dalam tiga bahasa dengan percaya diri yang membuat orang dewasa pun kagum.

Hubungi WhatsApp 0812111180 untuk informasi lebih lanjut atau untuk merencanakan kunjungan. Melihat langsung adalah cara terbaik untuk memahami apa yang terjadi di balik tembok pesantren.