[Celoteh Santri] Seminar 3 Jam’iyyah

[Celoteh Santri] Seminar 3 Jam’iyyah
oleh Imam Khairul Annas
Santriwan kelas VI TMI Darunnajah

Pada hari Kamis (29/7/2010), telah berlangsung Seminar tiga Jam’iyyah di Masjid Jami’ Darunnajah, acara tersebut diikuti oleh seluruh anggota Jam’iyyah dari kelas 2 dan kelas 3, serta dihadiri pula oleh para pengurus 3 jam’iyyah, serta seluruh santri baru baik kelas 1 maupun kelas Intensif. Acara yang dipanitiai oleh Cabir (Calon Mudabbir) tiga Jam’iyyah, yaitu santriwan kelas 4 ini berlangsung setelah jam pelajaran kelima, tepat kegiatan latihan muhadhoroh berlangsung, juga ketika majelis guru sedang mengadakan rapat kamisan. Namun, kegiatan ini tidak mengganggu aktivitas santri yang sedang mengikuti latihan muhadhoroh, dikarenakan santri kelas 2 dan kelas 3 tetap berlatih muhadhoroh, yang merupakan salah satu sunnah pondok, dan bertempat di Taman Pondok dan di Lantai Dasar Gedung Rayon Indonesia Baru.

            Ust. Saifullah Al-Bantany, S.Ag, selaku narasumber pada seminar kali ini, dikarenakan kegiatan ini memiliki target untuk memperkenalkan lebih jauh tentang ketiga jam’iyyah kepada seluruh santri baru. 3 jam’iyyah yang terdiri dari Jam’iyyah Tilawah Al-Qur’an atau bisa juga disebut IPQOD (Ikatan Persaudaraan Qori’ dan Qori’ah Darunnajah), Jam’iyyah Tahfidz Al-Qur’an Darunnajah (JTQD), serta Jam’iyyah Muballighin atau IRPD (Ikatan Remaja Pencinta Dakwah) merupakan ekstrakurikuler yang ada di Pondok Pesantren Darunnajah, yang berada dibawah naungan Bagian Pengajaran Organisasi Santri Darunnajah.

            Kegiatan ini, selain bernama Seminar 3 Jam’iyyah, mempunyai nama lain juga yaitu Seminar LIQ, LIQ sendiri memiliki kepanjangan dari Lembaga Ilmu Al-Qur’an, dengan Pembimbingnya yaitu Ust. Muhammad Dahlan, S.Ag. Jam’iyyah juga merupakan ruh pondok dimana dalam Pondok Pesantren tersebut selalu terdengar suara lantunan ayat suci Al-Qur’an, bacaan murattal yang dibaca oleh anggota JTQD dan dibaca setiap 20 menit sebelum adzan dari kantor bagian penerangan, bacaan mujawwad serta murattal yang dibaca oleh anggota IPQOD dan dibaca setiap 10 menit sebelum adzan dari masjid jami’ langsung, maupun suara pidato yang terdengar 10 menit sebelum masuk kelas pagi hari yang disampaikan oleh anggota IRPD sudah tidak asing lagi ditelinga para santri.

            Selain itu, anggota jam’iyyah muballighin yang terkenal dalam drama islami, yang terkadang ditampilkan dalam acara-acara besar islam, serta shalawat Al-Kiraam yang dilantunkan oleh para anggota jam’iyyah tilawah al-qur’an juga merupakan sajian yang ditonton santri namun dapat pula dijadikan tuntunan. Darunnajah, sebagai Pusat Pendidikan Islam yang terletak di Ibukota Negara ini, tetap selalu seimbang dalam kurikulum pelajaran, baik yang formal maupun yang informal, dimana antara pelajaran agama dan pelajaran umum seimbang, maupun ekstrakurikuler yang umum seperti olahraga, seni dan pramuka maupun ekstrakurikuler yang agamis seperti jam’iyyah itu sendiri.

            Ust. Saifullah dengan semangatnya menjelaskan sejarah panjang perjuangan jam’iyyah yang juga pernah ikut mengharumkan nama Darunnajah, baik ranah tingkat daerah maupun tingkat nasional. serta kegiatan tahunan ini, merupakan ajang silaturrahmi para anggota jam’iyyah dari kelas dua sampai dengan kelas enam yang hadir dalam kegiatan tersebut. serta semoga para santri baru yang pada awal kegiatan ini menanyakan, “kak, jam’iyyah itu apa sih?” dapat terjawab dengan puas setelah mengikuti kegiatan ini. “kalau masih nanya, silahkan langsung datang ke kamar jam’iyyah rayon Nusantara lantai 1, kamar 101, 102 dan 103”, celetuk salah seorang santriwan kelas dua.

            Semoga dengan keinginan dan kekuatan serta tak lupa dengan do’a, jam’iyyah insya Allah dapat bangkit lagi, seperti dahulu dan seperti sedia kala, sehingga tidak hanya sejarah saja yang terceritakan dalam benak santri, namun sedikit demi sedikit, dengan tekad yang bulat serta dengan latihan yang teratur bisa menjadikan anggota jam’iyyah dapat meraih prestasinya dibidang masing-masing. Maju terus pantang mundur untuk Jam’iyyah Tilawah Al-Qur’an, Jam’iyyah Tahfidz Al-Qur’an dan Jam’iyyah Muballighin, dan tunjukkanlah bahwasanya para Qari’, Hafidz, serta Muballigh akan terpakai dilingkungan masyarakat dimasa depan kelak.