[Celoteh Santri] PPM in Majalengka (My Experience)

[Celoteh Santri] PPM in Majalengka (My Experience)
oleh : Marsya Yasin 6 IPA C

Tidak terasa, PPM yang dinanti ternyata telah usai.
Hal utama yang saya rasa dan dapat adalah rasa bersyukur ketika berada di sana. Banyak hal kecil – yang sering kita lihat tapi tidak kita sadari – yang seharusnya membuat kita mengucap rasa syukur lebih banyak .

Ketika saya dan teman-teman tiba di Madrasah Diniyah (MD) pada hari kedua. Kami disambut dengan baik, disalami satu per satu oleh murid di sana. Dan hal yang -cukup- membuat saya dan teman-teman bisa menoleh dua kali adalah ketika kami tiba di kelas 1 MD (yang rata-rata memang kelas 1 SD juga) dan ada seorang anak yang mempunyai struktur tubuh yang berbeda. Saya sadar, anak itu memang masih kecil, tapi melihat tubuh yang ia punya, saya pun sadar , ia mengalami gangguan pertumbuhan. Pada saat teman-temannya tumbuh membesar, mungkin ia akan menjadi yang paling kecil. Rasa syukur saya adalah, mempunyai tubuh yang bisa terus tumbuh , anak itu tidak seberuntung saya dan yang lainnya .

Beberapa hari kemudian, teman saya yang sedang mendapat bagian menjaga perpustakaan di teras rumah bercerita kalau ada seorang anak laki-laki kelas 5 SD, yang tidak mengikuti MD, juga mungkin tidak bisa mengikuti study tour ke monas pada bulan juni mendatang yang diadakan oleh SD karena terbentur masalah ekonomi.
Rasa syukur saya adalah, karena saya mempunyai orang tua yang dapat memenuhi kebutuhan sekolah dan lainnya . Yang membuat kami miris adalah mendengar biaya study tour yang menurut kami mungkin tidak seberapa, karena sebanding dengan uang jajan kami 1-2 minggu.

Di desa tempat saya PPM, hanya terdapat 1 SD, sedangkan jika ingin menempuh pendidikan SMP dan SMA harus pergi ke kecamatan yang harus ditempuh dengan kendaraan sekitar 15 menit. Permasalahan adalah jalan yang cukup kecil dan rusak disana. Dengan kondisi seperti ini, membuat rata-rata warga jadi malas untuk meneruskan pendidikan. Apalagi, SMP belum sepenuhnya gratis, karena buku-buku tetap bayar walau berupa LKS, tapi untuk mereka itu cukup berat. Ketika kami berpesan,"Usahain yah sekolah sampai SMA, kalau bisa sampai kuliah," mereka menjawab, "Insya Allah teh, kalo mampu", dan kami pun serentak berpandangan sambil menghela napas. Rasa syukur saya adalah, karena saya dapat mengecap pendidikan hingga jenjang SMA dan punya kesempatan untuk kuliah. Sedangkan untuk mereka, mungkin tidak.

Ada lagi, pada tanggal 22 Desember, saya dan seorang teman saya masuk ke kelas 5 SD. Setelah kami memberi sebuah games, kami pun meminta mereka untuk menuliskan surat untuk ibu mereka. Dan ketika surat-surat itu dikumpulkan, saya dan teman saya tersentak ketika membaca beberapa surat, yang menjelaskan bahwa ibu mereka adalah TKW yang belum pulang sampai saat ini. Salah satu surat berisi, " …. Ibu, apa kabar di Saudi ? kapan ibu pulang? aku dan ayah sudah rindu di sini …." . Rasa syukur saya adalah, ibu/ayah saya tidak perlu pergi ke negara orang untuk mencari rezeki, sehingga saya pun tidak perlu berjauhan dengan mereka .

Kegiatan PPM ini pun sangat membantu untuk melatih mental saat berbicara di depan masyarakat yang sebenarnya . Karena kami dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan baik dengan masyarakat untuk bisa menjalani rancangan kegiatan yang telah disusun, dengan baik. Contoh, saat berbicara ke Pak Kuwu, Pak Kades, guru-guru SD, TK, MD, dan TPA, juga saat kami butuh pertolongan dari masyarakat.

Rasa syukur saya adalah, saya mempunyai kesempatan untuk menjalani PPM, yang membuat saya mempunyai banyak pengalaman berarti untuk masa depan.