[Celoteh Santri] Perizinan

Adalah seorang santriwati, sebut saja Ratih, terbaring menggigil di atas ranjang di kamar tidurnya. Salah satu teman menghampiri Ratih karena ia tak sekolah pada hari itu. Ternyata, Ratih demam tinggi. Tangan dan kakinya dingin, giginya bergemeletuk. Setelah ditanyai, Ratih mengaku kalau giginya bermasalah. Ia juga menunjukkan gerahamnya yang berlubang sangat besar. Karena itu, teman Ratih menyarankan Ratih untuk pergi ke dokter.

Mereka berdua pergi menemui Musyrifah (Pembimbing) rayon mereka untuk meminta izin pergi ke rumah sakit. Di dalam pondok, setiap santri diwajibkan untuk mendapatkan izin sebelum bisa keluar meninggalkan pondok. Mereka mengetuk pintu sang ustadzah.
Ustadzah keluar dan menanyakan keperluan mereka. Setelah Ratih dan temannya menjelaskan, ustadzah tersebut tidak memberikan izin. Ustadzah tersebut mengharuskan ada wali yang mendampingi mereka. Ratih yang kebetulan orang dari luar pulau jawa pun kebingungan dan terus mencoba mendapat izin dari Ustadzah. Ustadzah juga tetap pada pendirian ‘tidak’. Ratih pun menangis dan berlari ke kamarnya.
Sikap ustadzah juga masuk akal, karena banyak santri yang sebelumnya pura-pura sakit dan pergi dari pondok tanpa wali dengan alasan ‘berobat’. Akibatnya, santri lain yang benar-benar sakit seperti Ratih terkena imbasnya.
Sekarang, Darunnajah berencana akan semakin memperketat perizinan. Seharusnya, jika perizinan sudah diperketat, maka pihak guru harus bersedia menjadi wali bagi santri yang berdomisili diluar pulau jawa, jika santri tersebut benar-benar berkepentingan untuk meminta izin. Semoga dengan adanya peraturan tersebut, para santri semakin disiplin dan tidak ada lagi kejadian seperti yang menimpa Ratih diatas.
Celoteh Santri
oleh Saskia Fenna Sari, santriwati kelas V TMI Darunnajah